'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyah melafalkan ayat demi
ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir
keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan
tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila
menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan
bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa
murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi
karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari
ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah
mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana
namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu
istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali.
Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa
meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim
sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru
dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman.
Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang
dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah
siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang
setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan
membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia
harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara
wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping
daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal
dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul
'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar
sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…",
Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??….
Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain
mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu
tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang
terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana
Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang
dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam,
wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak
terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya
belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa
bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan
hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah
terbaik.
Salah
satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi
penghafal qur'an menjadi hal lumrah di
mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah
menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di
masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini. ***
Mushaf kecil kesayangannya
Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju
kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu
bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia
kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir
musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit
Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan,
lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam
sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya
harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau
jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran
rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya.
Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum
alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda
ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia
di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari,
waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib,
tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan
dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan
mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini.
Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk
Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan
dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua
matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan
pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang
tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam
dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang
tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap
gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud
putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz
terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum
pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung
putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat
menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa
digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz
dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum…
Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda
sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih
besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa
memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari
yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam
dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami
sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia
yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat
surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an
mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya.
Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa
menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala
Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam
penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk
disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika
tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz
spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz …
Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas
bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai
teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz,
selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di
kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz
menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya
gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru
siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum
menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari
yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam
besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap
mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya
tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyahmelafalkan ayat demi
ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir
keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan
tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila
menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan
bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa
murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi
karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari
ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah
mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana
namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu
istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali.
Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa
meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim
sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru
dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman.
Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang
dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah
siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang
setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan
membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia
harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara
wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping
daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal
dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul
'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar
sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…",
Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??….
Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain
mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu
tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang
terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana
Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang
dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam,
wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak
terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya
belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa
bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan
hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah
terbaik.
Salah
satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi
penghafal qur'an menjadi hal lumrah di
mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah
menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di
masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini. ***
Mushaf kecil kesayangannya
Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju
kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu
bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia
kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir
musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit
Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan,
lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam
sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya
harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau
jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran
rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya.
Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum
alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda
ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia
di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari,
waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib,
tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan
dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan
mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini.
Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk
Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan
dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua
matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan
pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang
tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam
dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang
tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap
gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud
putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz
terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum
pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung
putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat
menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa
digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz
dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum…
Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda
sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih
besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa
memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari
yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam
dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami
sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia
yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat
surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an
mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya.
Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa
menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala
Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam
penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk
disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika
tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz
spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz …
Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas
bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai
teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz,
selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di
kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz
menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya
gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru
siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum
menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari
yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam
besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap
mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya
tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
Inilah Ceritaku


