Bismillahirrrahmanirrahim…
Tibanya tahun ajaran baru menjadi momentum segar dengan kedatangan alumni MAK Al Hikmah 2 baru di Negeri Saba'. Ya, itulah sebutan negara yang akrab kita kenal kini dengan Negara Yaman. Setiap tahunnya, para pencari ilmu berbondong-bondong datang demi segenggam ilmu syari'at yang menjadi tujuannya. Tak ketinggalan Alumni MAK Al Hikmah 2 Bumiayupun termasuk salah satu dari deretan lembaga pendidikan yang kerap memberangkatkan pelajarnya ke Negeri tersebut.
| kiri : Khoirul Jadi, M. Fuad Mas'ud, Fathul Bary, Khoirul Amrullah, Robby Adriyanto, Tohirin, Arman Malieky |
Tahun
Ajaran 2012-2013 kini, Universitas Al Ahgaff, Yaman tepatnya, kedatangan 3
generasi baru MAK Al Hikmah 2, Khoirul Jadi, Robby Adrianto, dan Fathul Bari.
Hadirnya mereka menambah kapasitas Alumni MAK di Yaman, yang kini menjadi 8
pelajar putra. Penambahan yang cukup signifikan, karena setiap tahunnya kisaran
1 atau 2 pelajar saja yang bisa berangkat.
Setelah
tiba di kota Mukalla, Yaman (28/09/2012), mereka bertiga seperti itik
kehilangan induknya. Mengikuti perkuliahan tanpa hidup bersama kakak kelas.
Begitulah,,, semua kakak kelas di tingkat II sampai akhir berlokasi di kota
Tarim. Jaraknya sekitar 6 jam perjalanan angkutan darat. Lantas merekapun
sengaja mengisi liburan Idul Adha dengan berwisata religi ke kota Tarim, Provinsi
Hadhramaut. Dengan berbekalkan izin dari staff Idaroh Universitas Al
Ahgaff, Mukalla, akhirnya mereka melesat ke kota Tarim, kota yang masyhur sebagai
kota wali, ilmu dan ulama.
Dua hari sebelum Idul Adha, tepat pukul
13.00 waktu setempat (KSA), mereka tiba di halaman kampus Universitas Al
Ahgaff, Tarim. Semarak suka gempita menyelimuti tatkala mereka disambut Alumni
MAK Al Hikmah 2 lainya. " Wahh wahh, marhaban ahlan wa sahlan, bisa jumpa
lagi di Yaman, kangen nih sama kalian, adik-adikku", ungkap Thohirin,
salah satu Alumni MAK Al Hikmah 2 yang duduk di Mustawa II Univesitas Al Ahgaf,
Tarim.
" Iya Khi, kita-kita
kesepian , masa kakak-kakaknya di Tarim, adik-adiknya merana jauh di Mukalla,,,
Hehe", pungkas Jadid mewakili ketiganya.
" Ya kan sekarang
sudah kumpul bareng di Tarim, yuk kita nostalgia bareng mengingat sweet
memorian Al Hikmah 2, pondok kesayangan", lanjut Arman yang sama di
Mustawa II.
Liburan Idul Adha kali ini bertajuk " Wisata
Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim". sengaja diberi judul demikian,
karena tak lain tujuannya adalah berziarah ke makam-makam auliya dan
jalan-jalan mengitari masjid-mesjid bersejarah di Kota Tarim.
" Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,, Allahu
Akbar… Laa Ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu...".
Suara gema takbir meramaikan seantareo kota Tarim. pakaian serba putih
dikenakan seluruh masyarakat dalam Ibadah Sholat 'Ied. Kitapun mengikuti
tradisi yang ada, berpeci putih, berjubah putih, dan berkalung sorban. Sungguh,
menambah kekhusyuan dan ketenangan dalam bathin. Siap menghadap Ilahi Rabb
berjama'ah di Mesjid Jabanah, 1 km dari kampus Al Ahgaff.
Kemudian kami berziarah ke Maqbaroh Zanbal. 200 meter
sebelah kiri masjid Jabanah. Pelatarannya begitu luas dan dipenuhi banyak batu
nisan maqom para wali. Hal itu karena memang ribuan wali disemayamkan disana,
bahkan beberapa ashabul badr[1]
yang dulu diutus Rasullullah ke Yaman. Tak heran, karenanya Yaman dijuluki
sebagai Negeri Seribu Wali.
Setapak demi setapak
kami melangkah. Pertama menziarohi maqbarah al Ustadzul A'dzom Sayyidina al
Faqih al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath (574 - 653 H.).
Beliau adalah seorang wali besar, al 'arif billah, pemuka para imam dan ulama,
pemuka thoriqoh 'Alawiyyah yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah luar
biasa. Beliau termasuk wali quthb yang banyak menghasilkan para ulama besar di
zamannya.
Dikisahkan beliau pernah berkirim surat kepada
seorang pemuka para ahli sufi, yaitu as Syaikh Sa'ad bin 'Ali adz-Dzofari.
Setelah as Syaikh Sa'ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya,
Ia terkagum-kagum dan merasakan cahaya dan rahasia batin yang ada didalamnya.
Lantas membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, "
Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah swt yang tidak
dimiliki siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan syari'ah dan haqiqah, baik yang dzahir maupun
bathin".
Kemudian kami
beralih menuju maqom 'Amul Faqih (Paman Faqih Muqoddam) as Sayyid Alawi bin
Muhammad Shohib Mirbath (w. 613 H). Beliaulah kakek moyang dari wali songo yang
telah menyebarkan islam di Indonesia. Karena itulah, asal usul wali songo dan
para habaib 'alawiyyin di Nusantara, sebenarnya bermula dari tanah Tarim,
Yaman.
Lisan
ini tak henti-hentinya berdo'a dan bersholawat sepanjang ziyaroh hingga
sampai di depan maqbaroh al Habib
Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al Masyhur (1250-1320 H), Pengarang
Bughyatul Mustarsyidin. Lalu menuju Dhorihah[2]
al Imam al Habib Abdurrahman as Seggaf bin Muhammad Maula Dawilayh (739-819H).
Beliau dijuluki al Faqih al Muqoddam ats- Tsani karena saking alim dan ma'rifatnya
kepada Allah swt. Beliau jugalah orang pertama dari kalangan alawiyyin yang
dijuluki 'as Seggaf'.
Berikutnya memasuki
Qubbah Waliyullah Sulthonul Mala, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus (811-865 H) bin
Abu Bakar as Sakran bin Abdurrahman as Seggaf Faqih Muqoddam Tsani. Beliau, as
Sayyid Abdullah al 'Aydrus merupakan putra pengarang Hizib Sakron, dan
juga orang pertama yang dijuluki 'al 'Aydrus'.
Dan
Terakhir, Kami menziarahi pemakaman Waliyullah al Qutub al Imam Abdullah Alawy
al Haddad (1044-1132 H), pengarang kitab Risalatul Mu'awanah dan an Nashoih ad
Diniyah. Beliau disebut sebagai ulama
mujaddid atau tokoh pembaharu abad 12. Banyak karangan beliau dalam segala fan
ilmu telah sampai ke semua penjuru
dunia.
Demikianlah
wisata religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim kali ini. Cerita ziyaroh Zanbal
ini hanya satu dari beberapa objek wisata religi di Tarim yang kami singgahi. Selepas
beberapa hari bersama ketiga adik kelas, akhirnya mereka dengan berat hati
harus kembali ke Mukalla. Cukup perjumpaan kami sampai disitu dahulu sebagai pengisi
liburan idul adha. Kelak kamipun pasti kan dipertemukan kembali, tatkala mereka
naik tingkat berikutnya, tentunya di kota seribu wali, Tarim. (Arman
Malieky/author).