Follow us on FaceBook

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 30 June 2014

The Power of Tawakal


            Manusia diciptakan tidak lepas dari cobaan, Allah Ta’ala menurunkan semua itu melainkan untuk menguji setiap hambanya, seberapa besarkah nilai ketaqwaan dan kesabarannya?. Berbagai macam ujian baik secara lahir ataupun batin sudah merupakan hak preogratif Sang Maha Kuasa dalam memberikan hikmah ketuhanan-Nya. Penyakit menjadi salah satu bentuk ujian yang bisa dirasakan oleh siapa saja,  tidak terkecuali aku sendiri, hamba Allah yang lemah dan tak memiliki daya upaya melainkan hanya dari-Nya.
Aku, Seorang Penjuang Negeri Saba’
            Kisah ini berawal ketika aku mengenyam masa study di sebuah negeri di Timur Tengah. Mulanya, aku juga tidak menyangka sampai bisa menginjakan kaki di sebuah negara yang akrab dijuluki Negeri Ratu Balqis atau Negeri Saba’, Yaman. Pasalnya, aku ini hanya seorang santri salaf dari pedesaan, notebene keluarga juga hanya sebatas kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun dibalik semua itu, Allah Ta’ala merencanakan skenario terbaik-Nya untukku, walhasil hanya puja dan puji syukur kehadirat-Nyalah yang senantiasa aku panjatkan atas anugerah terbesar dalam perjalanan hidupku ini.    
            25 September 2011 adalah tanggal dimana aku mulai menjalani hidup dalam perantauan dalam menuntut ilmu di sebuah universitas terkemuka di Yaman. Jauh dari orang tua dan aktifitas kuliah yang padat membuat aku cepat betah di Universitas Al Ahgaff –kota Mukalla. Hal itu tak lain karena aku sendiri sudah terbiasa tinggal di pondok pesantren sejak kecil dan mata kuliah di fakultas Syari’ah yang selalu menguras otak, jadi setiap hari aku kerjaanya ya belajar dan belajar, Study hard. Sampai karena saking asyiknya belajar, aku sering melek malam demi menguasai pelajaran esok hari.
            Aku tinggal di sebuah asrama berlantai empat, sekitar 1 km jarak dari kampusku di kota Mukalla. Rutinitas naik turun tangga dan jalan kaki ditengah terik panas negeri Arab sudah biasa aku jalani. Namun, setelah aku melewati ujian semester pertama, tiba-tiba pikiran kepalaku serasa mulai terkuras dan sering merasa pusing. Kepadatan aktifitas yang full setiap harinya dari mulai pukul 04.00 pagi waktu setempat (KSA/King of Saudi Arabia) sampai malam seakan tiada henti untuk berpikir. Ditambah lagi aku ini orang yang jarang berolahraga. Dari situ aku seakan merasaakan ada keganjalan dengan kesehatanku. Setiap aku tidur menyamping, akupun merasakan ada yang sakit di dada, tapi aku biarkan saja tanpa dihiraukan sampai akhirnya aku bisa naik ke semester 3 dan sesuai peraturan Universitas untuk pelajar Indonesia putra Fak. Syari’ah dan Hukum yang sudah setahun di kota Mukalla harus dipindah lokasikan ke Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman untuk menyesuaikan lingkungan study dengan kota yang terkenal luhur akan peradaban Islam dan khazanah keilmuannya.
Setahun merasakan hidup di Yaman telah berlalu, suasana kota Mukalla kini berubah dengan atmosfir kota para wali yaitu Tarim al Ghanna[1]. Tentu, setelah mengetahui keistimewaan kota Tarim sebagai kota wali, ulama dan sholihin, aku merasakan spirit yang membara. Semangat untuk kuliah, semangat juga untuk menimba ilmu sedalam-dalamnya pada para ulama dan masyayikh. Namun, semenjak kepindahan aku ke kota Tarim, rasa-rasa sering pusing kepala itu masih tetap saja muncul, malah cenderung tambah berdampak pada badan yang menjadi ikut-ikutan lemas.
            Berkat “ALA BISA KARENA DIPAKSA”, benar ungkapan kata-kata itu. Aku selalu memaksakan diri untuk bisa, untuk selalu menghasilkan yang terbaik. Walhasil, meski dengan kondisi tubuh seperti itu, aku masih bisa melewati UTS dengan hasil predikat nilai istimewa. Namun di tengah senyum bahagia itu, aku seketika ambruk tak sadarkan diri.   
Aku dan Sakitku
Aku putuskan untuk tidak masuk kuliah barang sehari atau dua hari guna mengistirahatkan tubuhku. Awalnya aku mengira ini hanya sakit biasa, mungkin karena kecapean, tapi ada hal aneh yang mengagetkanku. Ketika aku kencing ternyata air kencing itu berwarna merah kecoklatan. Akupun nyaris keheranan. Segera sore harinya aku periksakan ke Al Chairy Hospital yang dekat jaraknya dengan kampusku.
Hari itu adalah pertama kalinya aku merasakan rumah sakit di Yaman. Suasananya sangat jauh berbeda dengan layaknya RSU di Indonesia. Ya, karena para penghuninya jelas mayoritas orang Arab. Aku pandangi setiap sudut rumah sakit yang terlihat agak kumuh itu. Sekilas perhatianku tertuju pada orang-orang sakit yang diperiksa dengan dicampur aduk dalam satu ruangan. Sungguh kasihan. Aku hanya mengelus dada sambil duduk di tempat tunggu. Seperti inikah rumah sakit di Negara Republik Yaman? Serba kekurangan.
“ anta mushobun bi marodil kabid ya thoyyib[2]”, ujar dokter laki-laki berkumis yang memeriksaku. Aku tersontak kaget. Hah?? Penyakit Liver. aku seketika tertunduk lunglai.
            Semakin hari penyakitku semakin parah. Penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) telah menggerogoti hatiku. Seandainya aku biarkan, mungkin Hepadnavirus itu bisa menyebabkan peradangan hati akut dan menahun yang dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Miris jiwa ini setelah mengetahui hal itu.
            Selama sepuluh hari aku terus konsisten melakukan rawat jalan, padahal kondisi saat itu seharusnya aku sudah diinfus dan sepantasnya dirawat tetap di Rumah Sakit, namun karena kekurangan sarana dan prasaran Al Chairy Hospital aku rela bolak balik asrama-RS setiap harinya. Maklum adanya di Yaman seperti ini, segala sesuatu serba terbatas sebab faktor keterbelakangan negaranya.
Teman Adalah Orang Yang Selalu Ada dikala Suka maupun Duka
Aku yang selalu ditemani seorang pengurus asrama setiap kali periksa, diberi instruksi oleh dokter untuk ditempatkan di kamar khusus yang tenang dan jauh dari keramaian teman-teman asrama. Akhirnya, Dhobit sakan[3] terpaksa memindahkanku di sebuah kantor yang hanya berukuran 3x3 meter. Suasana hariku semakin terasa sepi. Sedih hati ini rasanya menderita penyakit kronis dan jauh dari belaian kedua orang tua. Untungnya teman-teman sepondokku dululah yang senantiasa mengurus dan merawatku, setidaknya aku merasa terhibur dan terbantu dalam segala kebutuhan seperti makan, cuci pakaian, membelikan ini itu dan lain-lain. Luti, Wahid dan Rahmat, merekalah yang bersedia menemani sakitku. Mereka adalah teman sejati yang selalu ada dikala suka maupun duka, susah ataupun bahagia, dan tulus ikhlas tanpa mengharap imbalan.  
Entah kenapa, mulut ini enggan untuk makan, paling hanya beberapa suap saja. Itu juga seringnya aku muntahkan karena sering mual. Akhirnya, disamping diberi resep obat sederhana dari dokter Yaman dan hanya makan nasi bubur yang dibuatkan teman-temanku secara bergiliran. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit makanan itu bisa masuk, meski tetap saja tubuh ini masih setia berbaring di selembar kasur lantai.
Sempat aku merasa pesimis. Orang-orang di sekitarku banyak yang menyarankanku untuk pulang ke Tanah Air saja, karena perobatan dan kedokteran di Yaman sangatlah minim dan bisa dikatakan berkualitas buruk. Kondisiku pun tidak mengalami perubahan sampai aku dipindah rawat ke RSU Hawy dan sama saja hasilnya. Aku berpikir untuk tidak ingin pulang. Malah berpikir lebih baik aku sampai meninggal di kota suci ini seperti kejadian teman yang pernah aku dengar daripada aku harus pulang lantas mendapat cemoohan masyarakat. Oh, begini yah kuliah di Timur tengah, malah sakit? Siapa suruh kuliah jauh-jauh? karena itu aku pun enggan memgabari kedua orang tuaku perihal sakit yang dialami olehku, tentu orang tuaku juga akan mencemaskanku.
Dilain pihak, teman-teman kampusku berbondong-bondong melakukan gerakan solidaritas. Ada yang memintakan sumbangan ke teman-teman seasrama dari berbagai asal Negara, ada juga teman Afrika yang sering menjengukku dengan rutin membacakan do’a dan hadits-hadits Rasullullah tentang wasiat bersabar dikala sakit.
The Power of Tawakal
            Hari demi hari aku belum mengalami perubahan yang signifikan, namun aku tetap berikhtiyar dengan terus meminum obat dan makan makanan sesuai anjuran dokter. Setiap malam aku hanya ditemani kesepian, pada saat seperti itulah aku bertawakal dan bermunajat pada Allah ta’ala dengan tubuh terbentang ke langit. Musibah penyakit ini adalah ujian Allah untuk melebur segala dosa hamba-Nya, dan nyawa ini berasal dari yang Maha Kuasa dan akan kembali pada-Nya. Seandainya aku ditakdirkan menemui-Nya di kota ini, aku sudah siap menanti sang ajal.
            Setelah genap 45 hari aku rutin mengikuti anjuran dokter, keajaiban tiba-tiba datang tanpa disangka. Kesehatanku mulai memulih drastis. Meski belum seratus persen dikatakan sembuh, Penyakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Prediksi yang diluar perkiraan. Sampai akhirnya seminggu mendekati UAS, aku pun mencoba paksakan untuk mengikuti Ujian Semester. Dengan hanya bermodalkan keilmuan pondok salaf dahulu dan belajar sekuatnya, akhirnya akupun berhasil lulus dan sampai kini aku masih diberikan sehat wal ‘afiyat oleh Allah Ta’ala dalam mengikuti kuliah di Universitas Al ahgaff, Yaman.
* Wallahu a’lam*


BIODATA PENULIS
Abdul Rahman Malik, lebih dikenal dengan nama pena “Arman Malieky/Facebook”dengan emailnya armanmania@gmail.com, terlahir di Majalengka, 12 Februari 1991. Alamat rumah di Jl. Raya Selatan Desa Leuwimunding Rt 01 Rw 01 Kec. Leuwimunding Kab. Majalengka, 45473. Kini aku tinggal di Universitas Al Ahgaff Yaman dan tergabung dalam anggota FLP Hadhramaut. Syukron.


[1] Al Ghanna ialah nama julukan kota Tarim yang artinya kota yang kaya (ilmu, wali, sumber daya alam dan lain sebagainya)
[2] Anda menderita penyakit Liver.
[3] Dhobit Sakan: Panggilan petugas yang menjadi pengurus asrama

Monday, 31 March 2014

Cinta 2 Negeri


Butiran-butiran kristal itu seketika menetes dalam pusaran bola mata Silvi. Perasaan haru bahagia berdesir deras dalam jiwanya yang tengah diselimuti dinginnya musim di Negeri  Seribu Benteng, Maroko. Segera Ia singkapkan kemulan selimut panjang itu dari tubuhnya. Matanya seketika binar tatkala membaca pesan singkat dari seorang lelaki yang tak asing baginya.
“Aku tulus mencintaimu Vi…”

Singkat, padat, namun penuh makna dan isyarat.
Diangkatnya kedua jemari Silvi yang langsung menari, menuliskan balasan isi hatinya yang sukar untuk dibohongi pada teman lamanya itu. 
Ilman, nama sapaan lelaki itu, teman seangkatan Silvi sewaktu SMA tiga tahun lalu. Seragam putih abu-abu menjadi saksi pertemuan keduanya.
 Kepribadian Ilman dulu yang serius pada pelajaran dan kesibukan organisasinya seakan telah membuatnya lupa akan wanita. Hanya saja, ada satu wanita yang wajah anggunnya selalu terpotret dan namanya tercatat dalam memori Ilman sejak awal mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Silvi?  
 Sebenarnya Silvi juga merasakan kekaguman pada Ilman. Disamping dia anak yang rajin, dia juga tampan dan selalu berpenampilan rapih. Ranking tiga besar pun rutin disabetnya setiap semester. Hingga akhirnya lulus dan beasiswa kuliah di Yaman berhasil digenggamannya. Dan kini pesan cintanya itu terkirim langsung dari Negeri Saba’ yang sedang dirantauinya.
            Mengapa Ilman baru sekarang mengungkapkannya? Setelah bertahun-tahun Ia memendamnya?”, hati Silvi pun bertanya-tanya.
Padahal dulu Ilman sempat berkunjung ke kediaman Silvi sebelum keduanya diberangkatkan ke dua Negeri tersebut, bahkan beberapa kali Ilman bertemu dengan orang tua Silvi, sampai ibunda Silvi sempat berpesan,
 “Man, tolong bimbing Silvi yah! dia butuh pengarahan dari seorang teman seperti kamu” .
Sejak itulah Ilman ingin selalu dekat dengan Silvi tanpa harus mengungkapkan cintanya. Meski keduanya telah terpisahkan oleh dua negeri yang terbentang gugusan benua, Ilman tetap merutinkan komunikasi dengan Silvi melalui chatting-an. Bahkan keduanya sering menciptakan suasana persaingan prestasi, berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang perkuliahan yang tengah dijalani keduanya.
“Aa, tolong bantu silvi kerjain tugas kuliah yah!”, pinta Silvi manja via Messanger.
 Aa, menjadi panggilan hangat Silvi untuk Ilman semenjak keduanya berkomitmen saling mencintai dan saling mempercayai.
Cinta telah bersemi di hati Ilman dan Silvi, ketulusan cinta telah mewarnai sosok dua sejoli yang tak menghiraukan jarak ruang dan waktu.
Indah terasa cinta ini,
Disaat hati telah mengungkapkannya,
Tak seorang pun mengerti,
Dan hanya kita yang merasakanya,
            Bahagia tak terhingga senantiasa hiasai,
            Kala hatiku dan hatimu nan bersatu cengkrama
            Meskipun ruang dan waktu memisahkan kedua hati
CINTA kan tetap dalam satu kata bersama kita,
                        Kini, tinggallah menanti takdir Ilahi
                        Untuk mempertemukan dua sejoli dalam ikatan suci.          

 Dear My Love: Silvi
***  
* cerita ini hanyalah fiktif belaka, seandainya ditemukan kesamaan nama atau jalan cerita, itu hanya faktor kebetulan semata....hehe @arman

Tuesday, 14 May 2013

CINTA DARI LANGIT

Cerahnya senin pagi mengawali hari aktifitas Irfan, ditemani goesan sepeda palang nyentrik berkekuatan sepeda balap, punggungnyamenggendong tas berisi buku-buku kuliah.jiwa semangat ia pancarkan dari raut muka cerianya, siap berpetualang dalam dunia ilmu di kampusnya.Jam tujuh pagi pas Irfan meluncur dari sebuah pesantren dikawasan Kanggraksan Kota Cirebon.Ia mulai menyusuri jalan raya, melewati gang terobosan, mengikuti belokan dan lampu merah,begitulah rutinitasnya setiap hari guna meraih gelar S1 Ushuluddin di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dedikasi irfan bukanlah rahasia umum lagi diantara penghuni kampus, Irfan dinobatkan sebagai mahasiswa teladan dua tahun berturut-turut.Ditahun terakhirnya kini, Irfan ditunjuk kembali memegang asisten dosen di kelas prodi tafsir.Selain itu pula, Irfan aktif di klub basket kampus.Baginya, basket merupakan sarana refreshing pelepas kepenatan yang digemarinya semenjak SMP.Tak khayal, Irfanpun dipasang dalam jajaran pemain intiThe Five Brothers bersama kawan-kawannya di Meteor Basketball Club. Sementara job utamanya layer updengan keahlian terobosan dan jump shoot, tak jarang kemenangan Meteor menjadi  kebanggaan berkat tangan emasnya.
Pagi ini Irfan sudah menyiapkan untuk jadwal kegiatan full hari ini, dari mulai kuliah sampai siang, lalu istirahat sambil shalat dzuhur di masjid kampus, kemudian latihan basket bersama klub kesayangannya.Priiiiiittttt…priiiiiittt…Terdengar bunyi peluit dan suara lantang Pak Akyas sudah siap menunggu the meteror players menengah ke lapangan guna warming up. Pelatih terbaik yang selama ini membina Irfan dan kawan-kawan hingga nama klub basket kampusnya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta basket se-Kota Cirebon. Sambil pemanasan, Pak Akyaspun mulai bicara, Iamemberikan sebuah pengumuman penting. satu bulan yang akan datang akan diadakan kompetisi basket antar- Universitas se-Kota Cirebon yang juaranya akan diikutsertakan mengikuti National Basketball Tournament of Universities.Terbelalak semua mata mendengarnya, namun Irfan tak terkusik sedikitpun tanda keceriaan dari raut mukanya.Entah kenapa, walaupun Irfan pemain handal, dia selalu bersikap biasa saja.Itulah karakter yang sederhana dari Irfan, tak banyak bicara namun cerdik beraksi.
Setelah tiga minggu latihan optimal, tersisa satu minggu menjelang hari yang ditunggu. Persiapan tim sudah lumayan matang. Latihan dibubarkan jam setengah lima sore. Sebelum pulang ke pesantrennya Irfan biasa membersihkan badan dan shalat ashar dahulu di masjid kampus.Pribadi Irfan selalu tertata dalam kesehariannya, karenanya Irfan dipesantrennya juga termasuk santri yang taat pada peraturan.Bisa mengatur waktu kesibukan pesantren, kuliah, dan juga basketnya.Pak Kyaipun senang dengan kepintaran Irfan dalam ilmu agamanya,sampai Irfanpun sering ditunjuk mengisi pengajian Ibu-ibu menggantikan Pak Kyai ketika berhalangan.
Sepeda palangnya sudah siap tuk ditunggangi, kaki kanannya memulai putaran goesan sepedanya, tak lupa Irfan melafalkan basmalah demi keselamatannya. Keramaian sore kota Cirebon sudah biasa Irfan temui, kerumunan pejalan kaki, pengendara motor bahkan mobil-mobil mewah ikut menyemarakan suasana. Ketika tiba di tikungan, Irfan membelokan stir sepedanya kearah kiri, tidak dikira mobil sedan silver melesat tepat di depan muka Irfan kencang, seketika Irfan mencoba menghindar, Namun kecapatan mobil mewah itu sekilas menabrak Irfan. Irfan tidak bisa berbuat, suara benturan besi sepedanya membuming, irfan sekejap tak sadarkan diri.
****
            Gelap, Sunyi, tak ada yang Irfan rasa. Setelah semalaman Irfan pingsan.Matanya mulai meraba-raba, lalu meratap.Terlintas tampak seorang perempuan berdiri disampingnya, mundar-mandir seperti orang kepanikan, khawatir.Rambutnya lurus hitam terurai sepunggung.Tiba-tiba perempuan itu berbalik.Seketika langsung tertundukmemohon maaf, kemarin sore dia ceroboh sampai menabrak Irfan, sementara Irfan pingsan, dia bawa ke RS. Gunung Ciremai. Dia dengan perasaan bersalahnya siap membayar semua biaya operasional sampai kesembuhan irfan.Irfan masih diam. Dia masih merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya tertebih kakinya, kakinya digiv,ada keretakan di tulang betisnya, belum kuat Irfan bergerak.Lalu, Irfan merenung sejenak.berfikir, Ya Allah, ini semata-mata taqdir-Mu, tak ada yang bisa hambaperbuat tuk melawan kuasa-Mu. Sedikit-demi Irfan mencoba berkata,” tak usah mba terlalu menyalahkan diri, mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan mba, saya juga kurang hati-hati sebelum menikung, Namun, saya merasa, Ini salah satu bukti bahwa Allah SWT masih sayang kepada saya, hingga Allah memberikan peringatan dan cobaan. Tak semua cobaan itu buruk, namun saya yakini bahwa Allah menciptakan dibalik semua cobaan”. Perempuan itupun sedikit meneteskan air mata, terenyuh hatinya akan kata-kata sang pemuda ini. Kemudian, Diapun memperkenalkan diri, namanya Yohana Ziskiya, sering di panggil Hana. Dia seorang Mahasiswi FakultasKedokteran di Unswagati Cirebon tingkat terakhir, sama dengan Irfan. Namun, dalam perkenalannya, Hana sedikit malu terhadap Irfan. Hana merasa dirinya awam akan kata-kata Irfan. Irfan seolah pemuda taat beragama. Lisannyatak lepas dari dzikir dan dalil qur’an yang ia lontarkan. Sementara Hana, walau dari kalangan keluarga baik-baik namun jauh dari ajaran agama. Irfan yang berhati lapang tersenyum, kagum akan tanggungjawab dan kepedulian Hana.
*****
            Keesokan harinya, Pak Kyai bersama Bu Nyai datang menjenguk.Kaget atas kejadian yang menimpa Irfan.Bu Nyai seketika menangis didada Irfan.Beliau merasa Irfan yang yatim sudah menjadi anaknya semenjak Sekolah Aliyah dititipkan Ibunya yang kurang mampu.Pak Kyai menasihati untuk bersabar dan berdo’a semoga lekas sembuh.Tidak lama kemudian, Hana tiba dengan mobil silver mewahnya.Irfan memperkenalkan Hana kepada Pak Kyai dan Bu Nyai.Irfan menceritakan kronologi kejadian, Pak Kyaipun menyadari itu memang takdir, sebagai cobaan untuk Irfan.Setelah shalat Isya, Pak kyai dan Bu nyai masih di ruang perawatan Irfan, tiba-tiba Hana dengan nada datar meminta Bu Nyai agar sementara Irfan biarlah Hana yang menjaga, kasihan Bu Nyai dan Pak Kyai jika harus menjaga Irfan semalaman. Bu Nyai dengan berat hati menyetujui tawaran Hana.
Semalaman Hana menjaga Irfan, obrolanpun bergulir dari kedua mulut. Hana yang berwajah putih bermata agak sipit tak habis menanyakan tentang perkuliahan, lalu berlanjut tentang pemahaman ajaran islam, sampai Hanapun paham dan kagum akan kepintaran dan pengetahuan Irfan yang luas dan dewasa, Hana dengan rambut terurainya terkadang dibuat tertawa oleh Irfan, wajahnya yang layaknya artis Korea juga membuat Irfan tersenyum sendiri.
            Hari-hari berlalu, Hana selalu menyempatkan untuk menjenguk dan menjaga Irfan bergantian dengan Bu Nyai setiap dua hari sekali, pada hari kelima Irfan dirumah sakit, Kawan-kawan Irfan di Meteor datang menjenguk, dan mengabari Pertandinngan antar Universitas lusa akan dimulai, Irfan tidak bisa ikut. Hana yang ada disitu, merasa bersalah. Namun, Irfan memberikan kepercayaan pada Rendy, sang kapten. Pertandingan bisa menang tanpa Irfan asalkan kalian kompak.
            Satu bulan berlalu, Irfan sudah pulih.Iakembali kuliah seperti biasa. The meteor berhasil menjadi juara. Kini Irfan tidak lagi bergabung dengan basketnya, Ia mulai fokus untuk skripsinya. Impian didepan mata, Irfan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, S1-nya cukup cita-cita baginya dan ibunya.Akhirnya, tepat empat bulan Irfan mampu selesaikan skripsinya, Wisuda S1 Fakultas Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati digelar, rangkaian acara dimulai satu demi satu.Diakhir acara, ketika pengumuman nilai IPK tertinggi, Irfanuddin Sholih namanya terpanggil.Semarak hadirin menepukan tangan untuknya, gerak tangis Ibunya mencium pipinya.Pak Kyai dan Bu Nyai yang ikut hadir bangga dan bersyukur memiliki anak asuhan seperti Irfan.
            Sorenya, Irfan membawa ibunya ke Pesantren, setelah bertahun-tahun tinggal di Pesantren, kini di hari wisudanya, Irfan harus berpisah dengan Pak Kyai dan Bu Nyai.Pulang ke kampung kelahirannya di Tasik. Desir suara mobil sedan hitam tiba di halaman pesantren. Rupanya Hana dan keluarganya keluar tidak diduga.Pembicaraan hangat berlangsung di ruang tamu, besama Pak Yai, Bu Nyai dan Ibu Irfan.Pada satu titik, Ayah Hana meminta berbicara sesuatu.Hana baru saja wisuda S1 Kedokteran di Unswagati.Ia ditunjuk untuk melanjutkan S2-nya di Universitas Melbourne, Australia. Namun Hana ragu, karena khawatir kehidupan dan pergaulan disana kalau sendirian.Nah, Kedatangan Ayahnya beserta keluarga bermaksud meminta Irfan untuk menjadi pendamping hidup Hana, yang nanti bisa menjaga dan mengajari Hana.Hana sudah cerita semua tentang Irfan, seberapa dalam keilmuan dan kepintaran Irfan, terutama tentang agama. Hana merasa Irfanlah yang cocok untuk menjadi Imam dalam hidupnya di Australi. Dan disana juga Irfan bisa memegang usaha restaurant milik ayahnya disana.Ibu Zenab juga bisa ikut disana.Pak Kyai dan Ibu Zenab tidak bisa memberi keputusan, semuanya menyerahkan kepada Irfan. Sementara Irfan berfikir dalam, lalu berkata, Ia sebenarnya siap menjadi suami Hana, namun, Irfan ingin maharnya tidak berupa materi, Irfan tidak punya apa-apa kecuali hafalan beberapa juz al qur’an. Dan Irfan memohon jikalau boleh akad nikah cukup dilaksanakan di pesantren dihadiri Pak Kyai dan santri-santri, itu lebih barokah.Pak Kyai akhirnya menyimpulkan. Baiklah, lamaran ini langsung diterima, pernikahan juga langsung dilaksanakan malam ini, cukup yang jadi mahar bacaan tartil surat Ar Rahman dari Irfan didengarkan langsung oleh Hana dan para santri di Mesjid setelah shalat Isya. Hana tersenyum bahagia, cintanya kan mekar disirami alunan al qur’an Irfan. Irfan merasakan bahagia tak tertuga, seakan mimpi setelah lulus wisuda dengan peredikat terbaik, dia juga bisa menjadi suami Hana layaknnya si artis korea. Visinya kini, adalah menciptakan kehidupan rumah tangga islami, sakinah mawaddah wa rahmah di tanah Melbourne, Australi.
kota mukalla, april 2011.
*****

Tuesday, 19 February 2013

Senyum di Senja Saba'


'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyah melafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyahmelafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
Inilah Ceritaku
 

Blogger news

Blogroll