Butiran-butiran kristal itu seketika menetes dalam
pusaran bola mata Silvi. Perasaan haru bahagia berdesir deras dalam jiwanya yang
tengah diselimuti dinginnya musim di Negeri
Seribu Benteng, Maroko. Segera
Ia singkapkan kemulan selimut panjang
itu dari tubuhnya. Matanya seketika binar tatkala membaca
pesan singkat dari seorang lelaki yang tak asing baginya.
“Aku tulus mencintaimu
Vi…”
|
Singkat, padat, namun penuh makna dan isyarat.
Diangkatnya kedua jemari Silvi yang langsung
menari, menuliskan balasan isi hatinya yang sukar untuk dibohongi pada teman lamanya itu.
Ilman, nama sapaan lelaki itu, teman seangkatan
Silvi sewaktu SMA tiga tahun lalu. Seragam putih
abu-abu menjadi saksi pertemuan keduanya.
Kepribadian Ilman dulu yang serius pada
pelajaran dan kesibukan organisasinya seakan telah membuatnya lupa akan wanita.
Hanya saja, ada satu wanita yang wajah anggunnya selalu terpotret dan namanya
tercatat dalam memori Ilman sejak awal mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan
Silvi?
Sebenarnya Silvi juga merasakan
kekaguman pada Ilman. Disamping dia anak yang rajin, dia juga tampan dan selalu
berpenampilan rapih. Ranking tiga besar pun rutin disabetnya setiap semester. Hingga
akhirnya lulus dan beasiswa kuliah di Yaman berhasil digenggamannya. Dan kini
pesan cintanya itu terkirim langsung dari Negeri Saba’ yang sedang
dirantauinya.
“Mengapa Ilman baru
sekarang mengungkapkannya? Setelah bertahun-tahun Ia memendamnya?”, hati
Silvi pun bertanya-tanya.
Padahal dulu Ilman sempat berkunjung ke kediaman
Silvi sebelum keduanya diberangkatkan ke dua Negeri tersebut, bahkan beberapa
kali Ilman bertemu dengan orang tua Silvi, sampai ibunda Silvi sempat berpesan,
“Man,
tolong bimbing Silvi yah! dia butuh pengarahan dari seorang teman seperti kamu”
.
Sejak itulah Ilman ingin selalu dekat dengan Silvi
tanpa harus mengungkapkan cintanya. Meski keduanya telah terpisahkan oleh dua
negeri yang terbentang gugusan benua, Ilman tetap merutinkan komunikasi dengan
Silvi melalui chatting-an. Bahkan keduanya sering menciptakan suasana
persaingan prestasi, berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang perkuliahan
yang tengah dijalani keduanya.
“Aa, tolong bantu silvi kerjain tugas kuliah
yah!”, pinta Silvi manja via Messanger.
Aa,
menjadi panggilan hangat Silvi untuk Ilman semenjak keduanya berkomitmen saling
mencintai dan saling mempercayai.
Cinta telah bersemi di hati Ilman dan Silvi, ketulusan
cinta telah mewarnai sosok dua sejoli yang tak menghiraukan jarak ruang dan
waktu.
Indah
terasa cinta ini,
Disaat
hati telah mengungkapkannya,
Tak
seorang pun mengerti,
Dan
hanya kita yang merasakanya,
Bahagia tak terhingga senantiasa
hiasai,
Kala hatiku dan hatimu nan bersatu
cengkrama
Meskipun ruang dan waktu memisahkan
kedua hati
CINTA
kan tetap dalam satu kata bersama kita,
Kini, tinggallah menanti takdir Ilahi
Untuk mempertemukan dua sejoli dalam ikatan
suci.
Dear My Love: Silvi
***
* cerita ini hanyalah fiktif belaka, seandainya ditemukan kesamaan nama atau jalan cerita, itu hanya faktor kebetulan semata....hehe @arman
0 komentar:
Post a Comment