Follow us on FaceBook

Monday, 15 August 2011

Kilas Tentang Alumni PP. Al Hikmah di Negri Yaman


Oleh: Abdul Rahman Malik
Teringat akan kenangan masa-masa di Pesantren dahulu, terlintas rasa rindu bahagia akan Al Hikmah yang kami tinggalkan untuk Pengembaraan Ilmu selanjutnya di Negri Saba atau Negri Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis, Yaman.
Sebagai wujud bahagia dan terimakasih kami kepada Al Hikmah yang telah berjasa dalam mendidik dan membekali kami dengan berbagai kajian-kajian  ilmu baik ruhiyah ataupun pembangun personal characters, kami mewakili segenap Rekan-rekan mahasiswa Al Ahgaff  dan mahasiswa lain di negri Yaman sedikit ingin berbagi cerita dan pengalaman kepada El Waha, Majalahnya santri Al Hikmah….
Kelebihan Study di Negri Yaman
Secara garis besar, Negri Yaman merupakan  salah satu tempat tujuan pelajar Indonesia untuk belajar ilmu agama (Syari’at islam ), salah satu alasannya, hal itu karena Yaman sampai saat ini masih teguh mengedepankan ajaran islam bermadzhab syafi’I dan tradisi budaya islam belum luntur termakan kemajuan zaman.
Disamping itu juga, Yaman terkenal juga sebagai negri para wali dan habaib yang sampai sekarang masih banyak terdapat awliyaullah dan habaib baik yang telah wafat ataupun yang masih hidup dan berperan aktif dalam dunia keilmuan di Yaman. Karena itu, belajar di Yaman bisa juga sebagai ajang Tabarukkan (Ngalap berkah-jawa) kepada para wali, habaib, dan ulama yang ada disana. Terlebih lagi, Yaman adalah Negri asal dimana walisongo, sang penyebar islam di Nusantara Indonesia, yang kotanya sangat terkenal sekali yaitu Hadromaut. Dari situlah, kamipun menjadikan Yaman sebagai objek study yang sesuai dengan budaya Negara kita, Indonesia yang mayoritas Syafi’iyyah.
Sebetulnya, banyak sekali tempat belajar di Yaman yang masih eksis dalam penyebaran dan pengembangan ilmu agama islam khususnya di kawasan Hadromaut,Yaman Selatan, diantaranya Darul Musthofa (Habib Umar bin Hafidz), Universitas Al Ahgaff(Prof. Dr. Habib Abdullah Baharun), Ribath Tarim (Habib Salim As Syathiry), Ribath Al Athos, Ribath Ar Royyan, dan lainnya. Namun kami lebih memilih Universitas Al Ahgaff sebagai objek Thalabul Ilmi yang sesuai, karena system kajian yang bersifat Perkuliahan dan non biaya (Beasiswa).
Alumni Al Hikmah di Yaman.
Maqbaroh al Imam al Habib Ahmad bin Muhsin al Haddar
Pelajar Indonesia sebetulnya tidak hanya terdapat di Hadromaut saja, akan tetapi banyak juga yang tersebar di berbagai daerah atau kota, baik di Yaman Utara atu Yaman Selatan. Namun disini kami akan mespesifikan ke tempat study kami yaitu di Universitas Al Ahgaff.
Sampai tahun ajaran 2011-2012 Mahasiswa/i Universitas Al Ahgaff asal PP. Al Hikmah- Bumiayu  terhitung ada 18 putra dan 5 putri. Karena Universitas Al Ahgaff hanya membuka beasiswa untuk Fakultas Dirasat Islamiyah dan Fakultas Syari'ah wal Qonun, maka kesemuanya termasuk kedalam dua Fakultas tersebut yang dikhususkan Fakultas Dirasat Islamiyah untuk Putri dan Fakultas Syari'ah wal Qonun khusus untuk Putra.
Kamipun dari segi lokasi perkuliahan dibedakan, untuk putri sendiri (di Kota Mukalla, Ibu kota Provisi Hadromaut) . Sedangkan untuk putra sendiri dibagi menjadi dua tempat, yaitu untuk mustawa awwal (tingkat Pertama) bertempat di Kota Mukalla, dan mustawa tsani sampai seterusnya ditempatkan di Kota Tarim.
Pengalaman Liburan Pasca Ujian 

          Sedikit bercerita tentang Alumni Al Hikmah di Yaman, khususnya kami yang merupakan Mahasiswa Al Ahgaff Mustawa awwal di Mukalla. 
     Kami bertujuh (Abdul Rahman Malik/MAK, Thohirin/MAK, Zuhrul Anam/MMA, M. Rifqi Ridho/MMA, Khoerus Sholeh/MMA, Saefuddin Ahsan/MMA, dan Abdul Qodir/PTQ) adalah angkatan mahasiswa baru tahun ajaran 2011-2012. Kami menjalani perkuliahan di kota Mukalla, Ibu kota Provinsi Hadromaut, Yaman Selatan. Berbeda dengan kakak-Kakak angkatan kami, semuanya bertempat di Kota Tarim, Kota Pusat Pendidikan dan Peradaban Islam di Yaman.
Karena Yaman terkenal dengan negri para wali dan habaib, sudah tentu dan hal yang patut bagi kami untuk tidak melupakan jasa-jasa mereka  dengan mendo'akan dan berziyaroh ke Maqbarohnya.
Setelah Ujian berakhir, kami bertujuh menyusun acara " Refreshing Ala Al Hikmah di Yaman", yaitu dengan agenda ziyaroh ke maqom wali dan jalan-jalan mengelilingi kota Mukalla. Habis dzuhur  teng, kami kompoi dengan memakai kostum ala santri dan menuju mukalla dengan bus mini jurusan Syirij,Mukalla. Sesampainya disana, kami shalat ashar dahulu di Mesjid Bazar'a, tepat disamping Maqom Waliyullah al Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar.
Runtutan acara tahlil kami gelar di dalam qubbah maqbaroh beliau, dengan khidmat acara diatur oleh Kang Maman, pembacaan tahlil dipimpin Kang Ridho dan terakhir do'a dibacakan Kang Thohirin. Ziyaroh dengan niat tasyakkur setelah melewati Ujian serasa membawakan ketenangan di  jiwa, terlebih pancaran keberkahaan terpantul dari indahnya kebersamaan dalam memanjatkan do'a.   
Setelah itu, kami berjalan menusuri Pantai mukalla, bersama ayunan angin di sore hari dan keramaian kota mukalla, membawa keceriaan dan kebahagiaan bagi kami bertujuh. Dan saat malam, kami bersama makan malam di Restaurant Ekonomis mengakhiri kesenangan dalam kebersamaan kami.
Liburan bersama-sama santri al hikmah serasa hidup bersama tempo dahulu di pesantren Al Hikmah, namun bedanya kami berada di nuansa dunia yang jauh berbeda dengan di Indonesia, Negri Yaman. Syukron.

Friday, 12 August 2011

Dynamics of Islamic Dormitory Education in Globalization Era



I.                   BACKGROUND
In Indonesia, Islamic Education was crusaded by The Islamic Dormitory. Islamic Dormitory develops Islamic education system which is proven as a render service in making the educated nations and religious society.
Islamic Dormitory Education has started from the basic of Islamic Education bought by Salafy Generation1  who is still present until now. They are people who received Islamic knowledge from the messenger era ( Muhammad SAW ), then tabi’in and tabi’it tabi’in era2. They studied many kinds of knowledge by simple method and classic way by face to face or listening each other3.
The messenger’s friends4 got the knowledge from the messenger by discussion untill they understood everythings the messenger tought as the great teacher of islam. They studied without difficulty because everything was originally from the messenger, then they also studied without any facilities, They directly memorized what they got from the messenger and the method of study was implemented gradually, or step by step. So, the messenger’s friends mastered in knowledge that the messenger told.
Together with the rhythm of time, The progress of science and knowledge have increased, the method of delivering science and knowledge  developed more too. It is with the new way and modern technology.
Raising multimedia system as one of technology development  in this era makes the method and the way of learning be different than before. This development era named by modernization or globalization era.
Islamic dormitory as the centre of islamic science and knowledge development must change and progress from the last education system namely Salafy to Modern system because of the rhytm of time and era.
Therefore, islamic dormitory needed in this modern era has to follow the rhytm of era until it’s existence in developing education and keeping on the great traditions that brought by last scholar of islam will still be continuous.
This paper will explain the dynamics of islamic dormitory education that grows and develops from salafy generation untill now era. So we can know the progress of  islamic dormitory education according to technology development and information with kinds of  modern means and infrastructures nowdays.
In the fact of nowdays there are many islamic dormitories only apply the modern education system, and leave salafy system, meanwhile many islamic dormitories also just apply classic education system and don’t take care the progress of era and technology development and information.
The facts above happened in society. It causes the raising of defference and comparison between those two systems of islamic dormitory above and makes the development system of islamic dormitory various and diverse. Because of that, We would like to make this paper to try elaborating this fact in most of islamic dormitories in Indonesia in order we know the dynamics of islamic dormitory education in this era especially with differences  between modern and salafy education system.







II.                PROBLEMS
            Islamic dormitory has passed some steps of era. Certainly, It experienced some changes and developments.
            This era that can be named by modern era, Islamic dormitory still keeps on the existence and traditions until it can be the pioneer of islam proselytization and the centre of learning islamic knowledge for either youngth or old society.
            Therefore, the system of islamic dormitory education is an important thing will not released from islamic dormitory roles. But, according to the dynamics of islamic dormitory between salafy and modern apply their system and method must be different so long. So it raises the question, Which system of islamic dormitory education that is suitable to be applied in this modern and globalization era with the fact of dynamics of islamic dormitory education nowdays ?
















III.             CONTENTS
            Actually, the origin of islamic dormitory lineage  had raised since the messenger of god, Muhammad era (Peace be upon him). Then it developed more and better following the rhytm of the time. All science and culture of Islam began from a place that named by islamic cultures centre, Mecca. Which the prophet, Muhammad SAW was born there and islamic knowledge also grew and developed over there. Then islam was spreaded to all corners of world until came to Indonesia as long as time passed. Lastly, Indonesia could receive Islam which brought by Walisongo with the ways that connected to Indonesian’s  traditional culture at last time ago.
            Walisongo lived in Indonesia for long years and spreaded Islam religion excellently until they death in Indonesia land. During they lived in Indonesia, they created and foundated the islamic dormitory that become the centre of learning knowledge. Some inharitences could be evidence such as Kudus mosque ( Al Aqsho ), Demak mosque, and Keraton of Cirebon.
            In opinion of Zamakhsyari Dhofier5, Islamic dormitory had been present since 1630 M, If it was accounted, it was a long time which reached 370 years. At the first time of islamic dormitory establishment, it was very simple and classic. The programme was delivered by a teacher  ( Kyai6 ) in then mosque and attended by some students ( santri7 ) or society and the study was always done after Shalat8 every day.
            At Next day, not only the society who followed  learning programme but also the people from the several regions coming to study with kyai. Therefore, the shack was foundated for their place when they studied, especially for the students from out region. Then, it developed from the shack became islamic dormitory as now present.
Islamic dormitory as an islamic educational institution built on unique traditions and special characteristics, can not be found in the other educational institutions in Indonesia. Some unique traditions of islamic dormitory are giving traditional learning such as halaqah system, wetonan, bandongan, and sorogan recitation9. Then, the mind characteristic of these unique traditional learnings is the way of giving the learning that pressed on a classic book and last method, it’s named by Harfiyah10. Because of that, islamic dormitory has traditional characteristic and classical curriculum, it is not based into subject unit and  independent especially.
             Here are some superiorities of traditional concepts that applied by islamic dormitory according to Abdurrahman Wahid in his book “ Moving the traditions” that written as collecting of education thinking story, especially islamic dormitory education.
  1. Capability of creating a universal life attitude that is smooth.
This concept shows that a student of islamic dormitory can do everything himself without dependence on the society institution everywhere.
  1. Capability of taking care the sub culture its self
Because, islamic scholars are the informal leaders in society culture and they admit that ideal roles of islamic dormitory sub culture in nation life are case of  islamic scholars.
Based on the concepts above, Actually islamic dormitory doesn’t release from its traditions, because they are  characteristics of islamic dormitory.11
Untill Now, There are still many islamic dormitories keep on the traditional system and method which is suitable with concepts above. For example, Tegalrejo islamic dormitory in Magelang. All of curriculum learning in that Islamic dormitory are delivered during seven years with traditional and classic system. Its special characteristics are traditional education system given based on informal curriculum and only use islamic dormitory curriculum. It is an example of salaf islamic dormitory that is still exist until now.
            Facing this era, Islamic dormitory as one of islamic institution has the important role in society life and learning of the nations with various systems and diverse methods and curriculum. Untill this era, it passed dynamics that is not constant because of islamic dormitory difference in ways of  behaving this era. The dynamics of islamic dormitory is really significant for all islamic dormitory, specially in Indonesia because Indonesia has hundreds of islamic dormitory spreaded in all corners of cities or villages in Indonesia.
            We have to release that era always moves and changes. As the fact of nowdays, globalization and modernization are effects of the era development and facts that can’t be refused. Firstly, globalization and modernization came by economy stripe then spread to politics and culture stripe. Finally, it became the phenomenon that can’t be denied12.
So, the technology development, ease information, and education system grown effect the ways of education and learning, especially in islamic dormitory in now era. One of the effects is raising of  modern islamic dormitory that based on modern education system.
            For example of modern Islamic dormitory is Darussalam Gontor located on Ponorogo, East Java. It is one of the biggest modern islamic dormitory in Indonesia and has been famous in society circle, especially Java sociaty. All of modern facilities are available and completed. System and method of education use the modern ways and leave the classic ways. Then, Darussalam also grows following knowledge and technology increasment.
            There are shape of islamic dormitory defference in ways of facing this era. We can conclude that islamic dormitory passed dynamics from the classic to the modern. But, actually we  have to know what is islamic dormitory dynamics .So  we’d like to explain the meaning of the dynamics.
In the basis, The dynamics includes two processes; conservating again the positive things that had been there and changing things by the better things.
“ Al muhafadzotu ‘alal qodim as sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah” ( the general principle of Islam)
Meanwhile , the word of dynamics here has the connotation that is the change into more perfect condition with using life attitude and tools that had been there and become the basic.13
            According to the concept above, we conlude that islamic dormitory has to apply these two processes at all in order to be able to experience the dinamics factually.
Therefore, Islamic dormitory should also apply the traditional and classic system, named by salafy system that is suitable and significant for the Islamic Dormitory curriculum. Because, salafy system is the islamic scholars’ inheritance last time and has to be kept on as a evidence of honorability to them whom had brought islamic knowledge. Example of that is application of memorizing al Qur’an and hadits programme, learning classic book with Java or Sundanesse meanings, discussion, roan14, takror15, etc.
            Islamic dormitory also should take and change everything that’s estimated less usefull into better things and more significant as rhythm of era and technology grown that all things have to be more practiced and easier. Like helding the infrastructures and the features that facilitate education system and method, so it makes the students comfortable and focus in following all programe that hold by Islamic Dormitory. For example, helding the library, the condusive classes, the skill development classes, the sports field, the Internet, etc.
One of islamic dormitory in Indonesia that can be the example is Al Hikmah islamic dormitory located in Brebes, Central Java. Al Hikmah has many facilitation and infrastructure support running learning programme and daily activities of all students. Beside Al Hikmah applies modern system of learning like multimedia system education and skill development with specification programme like Computer, English course, welding, fishery, design clothing,  Al Hikmah also practices the salafy method like reciting classic book with Java meanings in every subjects tought by kyai or teachers (ustadz/ustadzah), discussion, memorizing al Qur’an, hadith, several classic book like aqidatul awwam, tuhfatul athfal, imrity, alfiyah, etc.
This proves that the islamic dormitory that’s suitable with dynamics of era is that can still apply the salafy method that’s excellent and exist to be performed on islamic dormitory nowdays and can be collaborated with the modern method that’s significant and helpful in learning islam education easier and more comfortable. So, it can result the best islamic dormitory needed by society and nations in this era.
CONCLUSION
            The dynamics is an effort to keep on and conservate constantly the good and positive things that had been there at last time and to take and change somethings with the better things. It’s actually taken from the general principle of Islam that said “ Al muhafadzotu ‘alal qodim as sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah”.
So, the dynamics includes two processes; conservating again the positive things that had been there and changing things by the better things.
Meanwhile , the word of dynamics here has the connotation that is the change into more perfect condition with using life attitude and tools that had been there and become the basic.16
            Before, those  two process will be collaborated, we strengthen firstly that salafy is a system education brought by the last islamic scholars in classic era, it haven’t been completed by the sophisticated tools and facilitations, so it is characrerized anciently.
But, salafy system is the enheritance of messenger learning that hasn’t contaminated by the modernization.
            Whereas the modern system is the new way of education that follows the rhytme of time and era, it is also effected by the technology grown and science depelopment.
Actually, Modern system is more important in order to Islamic students don’t be misstomorrow .  
            Therefore, from that we can conclude that the suitable education of Islamic dormitory should be applied in this glaobalization era is the education system and method which can use and combine the salafy education system that named by inheritance of the last islam scholar and the modern education system that follows era development and condition grown. So, Islamic dormitory should apply those two systems and collect it into the new system that suitable for this era.

SUGGESTION
            After we know the urgency of islamic dormitory education system, we purpose to increase the quality and quantity of islamic dormitory which can launch the great islamic students. With happy feeling, we’d like to give some suggestion to government firstly in order to give more attention to the islamic dormitory in every corners in Indonesia and don’t compare every islamic dormitory based on the leader, but they have to be comprehensive in behave all islamic dormitories. So, every islamic dormitory can prepare the moslem generation more perspective in islam knowledge and general science.
            Then, the next suggestion is for all elements and departments of islamic dormitory, they should be more  active in efectivating all programmes that have been there and exploiting it to be more usefull. So, it can be created the education system of Islamic dormitory  following the dynamics in this era.
            We hope what we writted in this paper can be  usefull for all of readers especially the sides that take part in increasing and developing islamic dormitory in Indonesia, so that, islam can be the pilar of religion in the world beause of islamic dormitory roles.

           



BIBLIOGRAPHY
Abi Bakr bin Muhammad, Taqiyyudin.Kifayatul Akhyar.Surabaya:Darul ‘Abidin.
At Thohani, Mahmud, Dr.1985. Mushtolahul Ahadits.Kuwait:Haromain.
Ibrahim, Burhanuddin, Al Laqqoni Al Maliki.2006.Jauharu at Tauhid foto copy.Brebes: PP. Al Hikmah 2 Benda
Kamus Munjid.1973. Edisi 21.Beyrut: Darul Masyriq.
Majalah Elwaha.Edisi IV.2010.Artikel:Pesantren Pusat Kajian yang Tiada Habisnya.
Suharso, Drs. & Dra. Ana Retnoningsih.2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Lux.Semarang:Widya Karya.
Ulumul Hadits DEPAG RI.1998/1999. Kelas III Madrasah Aliyah.
Wahid, Abdurrahman.2007.Menggerakan tradisi.Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.
Zaqzuq, Mahmud Hamdi.2004. Reposisi Islam di Era Globalisasi.Yogyakarta.LKIS Pelangi Aksara.


1 Salafy Generation was the best generation of moslems who were from the messenger’s friends, tabi’in and tabi’it tabi’in. whichever  they got the source of Islam knowledge continually and consectivelly from the messenger by the classic ways and methods. (K.H. Mukhlas Hasyim, MA.’s [1]explanation with Jauharut Tauhid classic book, Page 14)
2  Tabi’in is an expression for a person ever met one of the messenger’s friends or more
Tabi’it tabi’in is an expression for a person ever met Tabi’in faithfully to the prophet Muhammad SAW and death in Islam religion.( Hadith Science book of 3rd Grade MAK, page 22)
3  Face to face is a method of hadits receivment that is used by islam scholar last upon time. It includes of Listening each other, Reading, Submitting of Hadith ( as Sima’, al Qiro’ah, al Munawalah, etc) (Musthotahul Hadits classic book, Page 158-164 about The ways of Hadits Receivment ).
4 The messenger’s friends are every moslems ever saw The Messenger Muhammad SAW (Hadith Science book of 3rd Grade MAK, page 20)

5 Zamakhsyari Dhofier, an expert who concentrates on islamic dormitory learning ( El Waha magazine the 4th edition 2010, page 4 )
6 Kyai, a name for a islam scholar  or a leader of islamic dormitory ( Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 251 )
7 Santri, a name for a person who deepen islamic knowledge or a devout person seriously or a good person.
8 Shalat,as etimology is a praying. as terminology is an expression of sayings and actions begun by takbir and finished by salam (Kifayatul Akhyar classic book, about Shalat chapter, page 77)

9  Halaqoh system is a system of education in shape of seats like cyrcle which a Kyai teaches in middle of the students’ cyrcle.( Munjid Dictionary, page 149)
Sorogan, is a learning or recitation method which the students read the classic book to the teacher one by one  in order to be more detail  and more specific in learning. 
Bandongan is a learning or recitation method in shape of class
Wetonan is a learning or recitation method based on the days of Jawa (like pahing, kliwon, wage, pon, legi) (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 73 & 639 )
10 Harfiyah : translation or meanings according to words, word by word, based on lexical meaning, based on sentence context.  (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 165 )
11 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions” second edition, april 2007 page 73.

12  Mahmud Hamdi Zaqzuq, “ Islam Reposition in Globalization Era”, First Edition, September 2004, page 4.
13 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions”, second edition, April 2007. Page 53.
14 Roan is a programme of cooperation on cleaning or  building everything together in islamic dormitory .
15 Takror is a programme of repeating the lessons together
16 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions”, second edition, April 2007. Page 53.

Friday, 17 June 2011

Tetesan Embun Cinta


Tahun 2003 dimana aku masih duduk di bangku SD, dan masih merasakan jiwa kekanak-kanakan dan kegemaran bermain, aku tumbuh sebagai anak lelaki yang suatu saat kan jadi harapan keluarga. Karena aku adalah anak laki-laki kedua, dan kakakku kini telah berkeluarga.
Sebetulnya aku yang pendiam, lugu, dan tak punya keberania besar. Tapi keterikatanku dengan dunia masa kecil masih melekat, akupun tetap menyempatkan waktu untuk bermain bersama teman-teman yang akrab. Hanya saja terkadang aku memilih teman yang enak dan bersahabat untuk aku ajak bermain.

“Pak, Ilman berangkat sekolah dulu ya, sekalian minta uang jajan buat hari ini….”. ilman adalah nama panggilanku sehari-hari, nama yang diberikan bapak 7 tahun yang lalu setelah ibu melahirkanku yang lengkapnya, Maulana izdadna Ilman.
“ iya, Man ni uang jajannya, ingat pulang sekolah jangan ngelayab kemana-mana, pulang langsung kerumah!”… respon bapakku dengan mengulurkan tangan berisi uang seribu lima ratus rupiah.
Biasanya yang selalu memberi uang jajan setiap hari ialah ibu, namun hari ini ibu sudah berangkat ke pasar, jadilah bapak yang jadi gantinya. Karena bapak sendiri selalu ada dirumah jikalau tidak berangkat merantau ke seberang pulau.

Sekolahku tak jauh dari rumah, dengan jalan kakipun bisa aku tempuh, cukup lima menit sampai. SD yang tergolong Negri kedua di desaku. Karena tepat disampingnya ada SD Negeri I yang menghadap ke Jalan Raya. Walaupun demikian, Dua SD yang berdampingan itu tetap berhubungan baik , baik itu guru-gurunya atapun murid-muridnya,

Aku kini duduk di kelas 2 SD Negeri  2, Setiap hari aku selalu berangkat lebih pagi walaupun sebenarnya aku masuk kelas dimulai jam setengah sepuluh setelah kelas 1 pulang. Aku merasa dengan demikian aku bisa belajar dahulu di pinggir kantin sekolah bersama Bu Endah, sang penjaga kantin. Atau sering juga ketika tidak ada PR, aku malah bermain dengan teman akrabku yang sama selalu berangkat lebih awal, Rayhan namanya.

“ Han, hari ini ada PR gak? Kalau gak ada, yuk kita main kelereng saja! “ ajak aku. Kebetulan murid kelas 2 SD Negeri 2 yang baru berangkat hanya aku dan Rayhan.
“ Kayanya gak ada man, soalnya kemarin Ibu Tini gak ngasih PR” jawab Reyhan dengan menambahi Ibu Tini yang juga mengajar kelas 2.
“ Ya sudah, kita bermain kelereng. Nih, aku punya sepuluh butir, nanti kita bagi dua” bicara aku sambil meyakinkan.

Kita berdua bermain kelereng di halaman tepat di depan kelas satu yang tempatnya di ujung, berdampingan dengan sebelahnya SD Negeri 1. Ditengah asyiknya bermain, terdengar suara obrolan anak-anak perempuan di samping. Ketika aku menengok kearah suara itu, ternyata ada siswi-siswi SD negri 1 sedang asyik ngobrol, sambil tertawa-tawa di kursi panjang depan kelas.
Namun, tampak seorang siswi yang berkerudung putih, dengan memakai seragam merah putihnya seolah-olah berbeda dengan teman lainya yang tidak mengenakan kerudung. Akupun sedikit keheranan melihatnya. Pesona kecantikan Siswi SD itu membuat aku bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa dia memakai kerudung, tidak seperti umumnya anak SD negeri? Tambah dengan merasa kagum akan sikap pendiamnya sambil memegang sebuah buku sedang dibacanya. Sungguh membuat hati ini terpana, seakan melihat putri permaisuri bercanangkan kerudung putih indah dipandang.

Setelah berhari-hari aku menyimpan memori siswi  SD Negeri 1 itu, akhirnya akupun tahu sedikit tentang dia, hanya sebatas kenal. Maklum aku akui, karena SD aku masih kecil tentang hal-hal percintaan dan belum pantas. Tapi rasa kagumku padanya akan senantiasa membekas, karena sosoknya lah yang pertama kali meneteskan embun perasaan di hatiku.
Nayla namanya, Nayla Muna Awwalina. Aku tau dia dari Reyhan, teman terdekat aku. Nayla sebetulnya bukan asli anak desa dimana SD Negeri 1 dan 2 berada, dia berasal dari desa sebelah, dia pergi sekolah tiap hari dengan jalan kaki. Selalu berangkat awal dibanding yang lain. Ternyata, dia juga sama duduk di kelas dua. Karenanya, aku sering menjumpai dia menyempatkan belajar di kursi kecil depan kelasnya sebelum bel bebunyi. Karena berbeda sekolah, akupun tidak bisa bermain dekat dengan dia. Apalagi aku sendiri anak yang pemalu dan jarang bermain dengan anak perempuan.

Selama aku masih duduk di bangku SD, perasaan itu hanya tersimpan di benak, tak pernah terletupkan ucapan tentang kekagumanku pada Nayla kepada siapapun, kecuali Reyhan sendiri.
Karena ia satu-satunya teman yang selalu mengertikanku. Sampai ia pun memberi tahu, bahwa nayla setiap malam selalu mengaji al qur’an di pondok kecil dekat rumahnya. Dan itu masih berjalan sampai Nayla sekarang kelas 5 begitu juga aku.

Di awal aku menduduki bangku kelas 5, aku bulatkan tekad untuk ikut mengaji al qur’an ditempat Nayla setiap hari mengaji. Walaupun jauh, tapi ini adalah pengorbananku untuk bisa melihat Nayla setiap hari, seandainya tidak sempat melihatnya pagi hari di sekolah, malam harinya bisa menjadi penebus rasa rindu wajah manis Nayla saat mengaji di pondok. Yang penting bisa melihat nayla walau dari jauh karena kelas yang terpisah.

Selama mesantren disana, Aku merasa banyak hal baru yang aku jumpai dan alami. Pertama, aku harus berangkat setelah shalat maghrib dari rumah dengan mengendarai sepeda, setelah sampai aku di hadapkan dengan asatidz yang galak-galak, Ust. Furqon salah satunya. Setiap kali ada santri yang masih berkeliaran belum masuk ke kelas, Ia siap siaga dengan memegang pentungannya untuk menakut-nakuti. Pada saat-saat itulah, muncul rombongan santriwati yang melenggangkan badan berjalan menuju pondok dari arah ujung utara, dengan menenteng tas di bahunya dan kitab-kitab di dekap di dadanya. Tersenyum aku melihatnya, karena dari kerumunan santriwati itu, satu diantaranya ada Nayla. Ya nayla yang selama ini aku kejar agar bisa selalu memandang wajah sholihahnya, kelembutan sikap kesehariannya dan kealimannya.

Setahun kemudian…
Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan kebiasaan di Pondok itu dan banyak mendapat pelajaran, walau hanya menghabiskan waktu dari ba’da maghrib sampai sekitar jam setengah sembilan malaman. Aku merasa senang bahagia bisa ikut mesantren disini, walau tujuan awalnya yang salah. Pesantren hanya untuk melihat Nayla.

Suatu malam setelah pulang dari pesantren, aku mampir dahulu di pedagang siomay dekat pesantren. Tak ku kira ternyata tepat di sampingku ada Nayla yang juga sedang membeli siomay. Tiba-tiba dia memandangku dengan senyuman manisnya sambil mengucapkan,
“ assalamu ‘alaikum…. kamu anak desa sebelah kan?” Tanya Nayla sambil memancarkan aura ketulusannya.
“ wa wa wa ‘alaikum salam….” Aku jawab dengan sedikit kaget dan terbata-bata.
“ IIIyya,,, neng ” jawaban dari pertanyaannya tadi dengan ucapan neng sebagai tradisi penghormatan kepada gadis perempuan, teman atau yang lebih muda.
“Neng namanya Nayla ya??? Giliranku bertanya sambil sedikit gugup.
Dia tersenyum sambil manjawab,
“ Iya… kok kamu bisa tau? Ujar Nayla dengan suara lirih dan pancaran senyum dari raut wajahnya.
“ hhhmm… yang cuma tau aja” jawab aku.
“ eh iyya… saya pulang duluan ya, sudah di tunggu bapak dan ibu di rumah”.
Nayla pun pergi, dan aku perhatikan dia dengan perasaan sangat-sangat bahagia. Seketika aku pandangi ternyata dia masuk ke rumah Ust. Furqon. Deg.. rasa bahagiaku pun bercampur dengan rasa khawatir dan takut, ternyata aku baru tahu bahwa Nayla Muna Awwalina itu Putri dari Ust. Furqon yang terkenal super galak dan sangar di pondok. Hhhmm,,,Siap-siap aku harus menghadapi singa padang pasir itu untuk bisa bertahan sampai suatu saat aku bisa mendapatkan anaknya.

Satu tahun itu merupakan tahun pertama aku mengaji di Pondok secara kalong, berangkat maghrib malamnya pulang tanpa menginap di pondok. Setelah satu tahun itu juga bertepatan dengan masuknya aku di kelas 6 SD. Aku menikmati jalannya mengaji dan semua suasana di pondok. Akupun merasa terbiasa.
Sampai tiba akhir tahun. Dimana aku harus memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMP atau MTs. Aku sendiri sudah bulat, ingin masuk SMP agar bisa menguasai pelajaran umum, dan tetap melanjutkan mengaji malam di pondok. Rencanaku diterima dan didukung penuh oleh bapak dan ibuku, karena menyadari ilmu umum juga perlu, tapi dengan tetap mengutamakan ilmu agama dengan tetap pesantren walau kalong.

Setelah aku menjadi siswa SMP, Akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang. Setiap malam aku berangkat ngaji, entah kenapa aku tidak pernah lagi melihat pancaran wajah indah Nayla. Perasaanku tidak enak dan gelisah. Akupun tanya seorang temannya yang dulu selalu bersama Nayla di Pondok. Kaget sungguh kepayang. Sedih hati ini rasanya. Belumlah aku bisa akrab dengannya tapi dia sudah pergi dahulu. Pergi menjauh dariku. Bapaknyalah yang membuatnya pergi, Ust. Furqon. Dia melanjutkan SDnya tidak ke SMP atau MTs terdekat, tapi dia disuruh untuk melanjutkan pesantrennya ke Bandung. Dengan keta’dzimannya terhadap bapaknya, diapun mengikuti apa kata bapaknya.

Bertahun-tahun aku jauh dari Nayla. Tapi aku tetap berusaha untuk tegar. Seperti biasa aku berangkat pesantren, sepintas aku sering memandangi rumahnya, namun tak juga Nayla ada. Semenjak Nayla pergi ke Bandung, Tak pernah aku jumpai dia walau satu kalipun. Aku hanya bisa berharap, suatu saat jika Allah mentaqdirkan aku bertemu Nayla, aku yakin pasti akan bertemu kembali. Karena aku percaya taqdir Allah seperti yang diajarkan Ustadz Rahmat dalam pengajian tauhid di pondok.
Sampai akhirnya akupun selesai Ujian Akhir Nasional, kelas 3 SMP sebentar lagi berakhir. Tinggal aku harus siapkan rencana berikutnya. Beberapa hari setelah UAN, Malam harinnya akupun berniat berangkat pesantren dengan menggunakan sepeda BMXku ditemani beberapa teman. Malam pertama setelah satu minggu libur untuk persiapan UAN. Malam itu, aku bertemu dan bersalaman dengan Ust. Furqon yang sedang duduk di kursi depan Kantor Pondok. Di kelas, aku bertemu Ust. Rahmat yang biasa mengajariku setiap malam, Dialah wali kelasku.

Setelah bubar dari pengajian, aku rasanya ingin membeli somay kesukaanku. Akupun mendatangi pedagang somay tak jauh dari pondok sebelum aku mengambil sepeda ditempat penitipan. Terkejut aku ketika mendengar suara perempuan dari samping kuping kananku.
“ Mang, masih ada somaynya? Nayla mau beli lima bungkus....”
“ masih ada neng,,, ya mang buatin buat tong Ilman dulu ya neng….”
Ya Allah,,, akupun terkejut ketika menengok ke arah kananku, begitu juga Nayla yang menengok ke arah kiri ketika ia mendengar nama ILMAN dari mulut mang somay.
“ Assalamu ‘alaikum Neng Nayla…? Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah bisa dipertemukan kembali ya neng….” Tanya aku dengan perasaan berbinar-binar dan mata berkaca-kaca ketika memandang Nayla setelah bertahun-tahun tak bertemu, ia tumbuh sungguh sangat cantik dan lebih anggun dari dahulu SD.
“ Wa’alaikum salam…. Alhamdulillah baik kang Ilman….” Jawab Nayla sambil tersenyum manis.
Akupun balas senyumannya, apalagi setelah ia jawab dengan kata “kang Ilman”, Panggilan Khas dari Bandung. Dengan berusaha percaya diri, akupun coba keluarkan pertanyaan,
“ Neng Nayla lagi liburan ya?...kemarin ketika UAN bagaimana? Lancar?...” lidahku mulai bebicara.
“ Iya kang,,, kemarin Nayla UAN di Bandung Alhamdulillah lancar…” Naylapun menjawab lirih.
“ Kalau boleh tau… rencana Nayla setelah lulus mau melanjutkan kemana?...”
“ hehhhmmm,,, kata bapak sih Nayla disuruh melanjutkan pesantren lagi ke Jawa Tengah, ya Nayla ikut apa kata bapak saja”... jawaban Nayla sederhana sambil mengambil bungkusan somay yang sudah dibuatkan sekaligus memberikan uangnya ke mang somay.
“ ehhh,,, kang Ilman Nayla pulang duluan ya, tidak enak sama bapak dan ibu kalau somaynya keburu dingin” sambung Nayla sambil pamit mengucapkan salam,
“ Assalamu ‘alaikum… kang”
“ iya neng…wa ‘alaikum salam” akupun jawab dengan senyum tersampul rasa gembira luar biasa.

Perjalan pulangkupun diliputi taburan rasa bahagia, sampai aku tersenyum-senyum sendiri. layaknya perasaan orang yang lama ditinggal wanita yang ia cintai, kemudian ia datang tiba-tiba bagaikan bidadari turun dari kahyangan berkerudungkan  sutra putih, kulit yang halus putih bagaikan susu, senyuman manis lebih manis dari gula serasa, tutur bicaranya seolah butiran-butiran mutiara pelan berjatuhan, sungguh suara jawaban-jawaban dari lisannya seperti tetesan embun pagi menyejukan hati dan menyegarkan aroma di  jiwa. Tak terbayang begitu bahagianya aku, sampai larut malampun aku tetap membayangkannya. Aku pandangi dia dari tembok kamarku seperti tayangan dalam surga. Terus dan terus bayangannya menari-nari depan kedua bola mataku. Sampai tak terasa akupun tertidur dan jatuh dalam larutan mimpi indah bersamanya.

“ Kang Ilman…. Kang…. “ Nayla membangunkanku dalam dunia tidurku.
“ aduwh… Neng Nayla, kok bisa ada disini???”
“ Iya Kang, Nayla datang buat Kang Ilman…” ujar Nayla dengan menyimpulkan senyum manisnya.
“ Hah… Iya tah Neng? Nayla datang jauh-jauh buat akang” tanyaku dengan penasaran.
“ Iya, Kang… Nayla disuruh bapak untuk bertemu akang, dia sudah meridhoi seandainya suatu saat Nayla jadi pendamping hidup akang…” ucapan Nayla seolah embun pagi, akupun disejukan olehnya.
“ Ya Allah, apa ini benar… sungguh aku bersyukur padamu Ya Allah…”
“ kalau begitu akang siap bersedia untuk jadi pendamping hidup dan imam bagi Nayla kelak dalam rumah tangga kita”

Dug..dug…dug…(suara dari pintu kamarku) Man… Man… Baanguunn… siap-siap ambil air wudhu, sholat sama ibu,,, kamu jadi Imam…..
Akupun terperajat, sambil mengusapkan muka dengan kedua tanganku. Wuuuhhhh… ternyata hanya mimpi. Akupun tersenyum sendiri sambil tetap mengingat-ingat bayangan Nayla yang belum kunjung hilang.

“ Iya Bu… tunggu sebentar…” saut aku dari dalam kamar, dengan berharap “ Ya Allah semoga apa yang aku tadi impikan bisa jadi kenyataan”. Lalu akupun bersiap-siap untuk melakukan shalat shubuh. Salama satu minggu ini memang aku selalu jadi Imam shalat bersama Ibuku, karena bapakku dan kakak laki-lakiku sedang melakukan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga.
Ibuku sudah siap di mushola. Setelah akupun siap, Aku berkata kepada ibu,
“ Mari Bu, kita shalat berjama’ah, lebih cepat lebih afdhol agar mendapat waktu fadhilahnya shalat”
“ Iya Nak, baca qur’annya yang tartil dan merdu ya, biar ibu shalatnya bisa lebih khusyuk” tambahi ibu. Begitulah ibu, karena beliau selalu senang mendengar aku mengaji al qur’an dengan tartil dan merdu”

Setelah aku dan ibu menjalankan shalat shubuh berjama’ah dengan khidmat, seperti biasa aku dan ibu salang deres al qur’an. Katika ibu membaca aku mendengarkan dan membetulkan bacaan ketika ada yang salah. Begitu juga ibu mendengarkan ketika aku membaca. Ibu sendiri karena sudah usia lanjut, beliau membaca harus dengan kaca matanya. Berbeda dengan aku. Karenanya, ibu terkadang ada bacaan yang salah lihat, akupun langsung membetulkannya.
Setelah selesai deres al qur’an bersama, aku celetupkan pertanyaan tentang mimpiku tadi.
“ Bu… kalau mimpi itu benar bisa jadi kenyataan nggak sih???” aku mulai bertanya dengan gaya bahasa akrabku kepada ibu.
“ Man… mimpi itu tidak semua jadi kenyataan, yang jelas mimpi itu Cuma bunga tidur, kalau mimpi baik dan benar berarti datang sebagai anugrah dari Allah SWT. Kalau mimpi buruk itu berarti datang dari Syaitan. Ilman sebelum tidur baca dulu tidak? “ jawab ibu dengan penjelasannya.
“ Ilman baca do’a Bu… masa sudah lama ngaji di pondok lupa baca do’a sebelum tidur” ujarku.
“ ya memangnya Ilman mimpi apa?” tanya ibu kembali.
“hhmm.gimana ya? Sebetulnya  ini ada hubungannya dengan perasaan Ilman Bu” jawabanku simpel.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang perasaanku kepada Ibu, dari mulai aku SD kelas 2, kemudian tahu dengan yang namanya Nayla, lalu akupun ikut ngaji di Pondok hanya agar bisa melihat Nayla. Aku juga ceritakan karakteristik Nayla, segalanya. Sampai pada mimpiku tadi malam.
Kemudian Ibu menyimpulkan.
“ Ya Sudah… Ibu sih mendukung saja, tapi Ilmankan masih kelas 3 SMP, baru saja UAN, pengumuman kelulusan juga belum. Masih lama Man memikirkan hal yang seperti itu. Nah… Alangkah baiknya, Ilman sekarang jadikan perasaan itu sebagi motivator yang mendorong Ilman untuk terus jadi yang terbaik, baik untuk keluarga, agama, dan bangsa. Nayla juga akan senang seandainya tahu hal itu. Sekarang yang Ilman harus pikirkan, ingin kemana melanjutkan sekolah setelah SMP?” ibuku memberikan pencerahan diakhiri dengan pertanyaan. Akupun seketika mengiyakan ibu. Dan terpintas kemana aku akan melanjutkan sekolah.
“hhhmm… iya ya bu…” Sambil aku memanggut kepala dan berpikir, teringat bayangan Nayla ketika bertemu kemarin malam.
“ Bu, bagaimana kalau Ilman ingin mondok ke Jawa Tengah? Ilman ingin memperdalam Ilmu agama sambil sekolah disana?” Inisiatif ini, aku terinspirasi dari Nayla karena Dia akan melanjutkan ke Jawa Tengah. Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa dan dimana pondok pesantren di Jawa Tengah itu.

******
            Santri, Asatidz, dan Kyai, nama-nama itu sudah terbiasa terdengar di telingaku. Kehidupan yang awam kini berubah dengan nuansa islami. Keseharian yang dulupun berubah dengan banyak kegiatan mengaji kepada kyai dan asatidz. Suara adzanpun tak lepas dari kupingku berkumandang setiap lima waktu. Tanda akupun harus mendatangi masjid, untuk shalat berjama’ah sebagai kewajiban santri pesantren. Pesantren yang terletak di Jawa Tengah itu bernuansakan kesejukan. Lokasi yang dekat dengan Gunung Slamet membawa kedinginan setiap malam sampai shubuh tiba.
Waktu dua puluh empat jam tiap harinya dihabiskan dengan kegiatan dilingkup pesantren. sekolah keagamaan yang masyhur dengan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) mengisi acara pagi sampai soreku, ditambah pengajian tambahan dari setelah asyar hingga larut malam. Ku rasakan semuanya begitu jauh berbeda dengan apa yang pernah ku jalani sebelumnya ketika di rumah. Namun, semua itu berjalan dengan senyuman. Karena di Pesantren itulah, aku dipertemukan dengan sosok penyejuk hatiku, Nayla Muna Awwalina. Akhirnya, aku bisa bersama Nayla dalam satu pondok pesantren. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya saja, kami tidak bisa bertemu dan bertatap muka layaknya pergaulan bebas di rumah, kami terikat oleh pesantren, penjara suci yang dikelilingi pagar yang berduri peraturan. Siapa orangnya berani menerobos pagar duri itu, dia akan terkena akibatnya. Duri itu akan melukai dirinya tanpa pandang bulu siapa orangnya. Tata tertib pesantren membuatku hanya bisa menyaksikan Nayla dari arah yang berjauhan, karena dilarang bagi kaum ajnabi berdekatan dengan bukan mahromnya.

Beberapa tahun lamanya di pesantren, semua benak perasaanku aku tanam dalam hatiku,  tak berani aku berbuat yang bisa berakibat fatal bagi masa depanku. Tapi aku hanya ingat pesan ibuku, “jadikan perasaan cinta kepada seseorang itu sebagi motivator yang mendorong untuk terus jadi yang terbaik”. Dari situlah, aku bertekad, walaupun perasaanku kepada Nayla ini tersimpan dalam bathinku, aku akan buktikan, aku harus jadi yang terbaik. Setidaknya dengan demikian Nayla akan merasa kagum padaku. Dengan modal kemampuan pas-pasan, hanya lulusan SMP, akupun bejuang mati-matian agar dapatkan apa yang aku inginkan. Porsi belajarku aku tambahkan full sampai larut malam. Setiap setelah pelajaran aku rutinkan muroja’ah. Materi agama dan umum aku kuasai semua. Semua jerih payah aku kerahkan, dengan niat aku ingin bisa jadi yang terbaik, orang tuaku kan senang. Dan yang utama Naylapun akan mengetahui siapa aku.
*****
Setelah lima semester kulalui, namaku selalu terpampang di barisan rangking kesatu, kedua atau ketiga. Karena sulitnya pesaingan di kelas, aku tidak bisa konsisten di peringkat kesatu, tapi aku bersyukur  karena rangking satuku tetap mendominasi. Setiap akhir semester pengumuman peringkat kelas selalu diumumkan dan dipampangkan. Akupun yakin Nayla pasti melihat hasil dari jerih payahku.

Suatu pagi, bertepatan dengan setelah pengumuman semester pertama kelas 3, ketika berangkat sekolah, aku tak sengaja bertemu papasan dengan Nayla di tangga lantai dua sebelum masuk ke kelas. Tak ku sangka, Nayla tersenyum sambil mengucapkan beberapa patah kata,
“Selamat ya Kang Ilman, atas prestasi yang diraih selama di MAK….!!!” Butiran-butiran mutiara itu berjatuhan dari lisan Nayla membuatku terlena kepayang.
Dengan senyum pula akupun menjawab,
”terima kasih neng, mungkin itu juga berkat do’a dan dukungan neng dari belakang, ”…. aku balas dengan sedikit kata-kata so-PD, yang aku yakin itu ada benarnya.
“Nayla ke kelas duluan kang… tidak enak kalau kelihatan orang lain”, ujar Nayla dengan mata malu.
“ Iya Neng, sekali lagi makasih”, saut aku membalas sebelum Nayla pergi.
“ Iya Kang”… Ia pergi dengan agak dicepat-cepatkan jalanya sambil tersenyum-senyum.

            Setelah semester satu kelas 3 berakhir, tinggal tancap gas terakhir untuk menuntaskan jenjang sekolah di MAK. Ujian Nasional SLTA diambang mata sekitar tiga bulan kedepan. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa aku terlena dengan hasil baik prestasiku sebelumnya. Semua harus aku selesaikan dengan baik, dan di akhir akupun harus bisa khusnul khotimah,  baik di sekolah atau juga di pesantren. Apalagi aku merasa iri kepada kakak kelas yang dahulu telah lulus, lalu bisa melanjutkan ke Universitas Negeri bahkan ke Universitas di Timur Tengah. Dari situ, aku juga berharap mudah-mudahan UAN nanti bisa berhasil dan bisa mengantarkanku ke Universitas di Timur Tengah. Walau belum terbayang dari dahulu untuk kuliah di Timur Tengah, tapi setelah aku mendapat banyak pelajaran dan kajian agama, aku mulai mengerti. Ilmu agama berasal dari Negri-negri Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab, sudah pasti ketika aku belajar disana berarti aku seolah meminum air dari sumber mata airnya.
******
Beberapa bulan kemudian,
            Aku dinyatakan lulus UAN dengan predikat Amat Baik. Disamping itu pula, aku mendapat pengumuman kelulusan beasiswa timur tengah. Sesuai dengan target, apa yang aku rencanakan berhasil. Kedua pengumuman itu aku terima dengan rasa bahagia, bangga dan puas. Karena jerih payahku selama di pesantren terbalaskan dengan prestasi baik. Kedua orang tuakupun takjub. Tidak percaya aku bisa seperti itu, padahal aku lulusan SMP, tapi bisa bersaing dengan teman-teman lain yang latar belakang keagamaannya lebih baik. Aku tersenyum saja,,, karena dibalik itu semua, aku termotivasi oleh sosok Nayla yang senantiasa menjadi penyemangat hidupku, gelora wajahnya selalu terpancar dalam bayanganku layaknya tetesan embun yang membasahi dedaunan di setiap pagi. Akulah si dedaunan yang beruntung itu, karena setiap aku ingat kepadanya, aku bangkit untuk berusaha menjadi yang terbaik walaupun banyak yang lebih baik dariku. Setidaknya, aku bisa dilihat baik di mata Nayla. Entah tetesan embun cinta apa yang telah merasuki tubuh ini, sehingga aku selalu merasa sejuk ketika ia hadir dalam bayanganku.
*****
            Suatu ketika akhirnya aku sadar. Aku telah salah dalam melangkah. Semua yang aku lakukan untuk agama aku lakukan dengan niatan yang salah. Bermula dari aku pesantren kalong di kampung hingga kini aku  berhasil mencapai yang aku citakan. Semuanya karena Nayla, seorang perempuan biasa, yang hanya diberi kelebihan oleh Allah SWT hingga bisa menghipnotis hatiku sehingga terpedaya. Aku berjuang pesantren malam hanya untuk melihat Nayla. Aku tekadkan pesantren di Jawa Tengah hanya untuk bisa hidup lebih dekat dengan Nayla. Aku berusaha meraih prestasi terbaik hanya agar mendapat perhatian Nayla. Semua itu salah… aku tidak niatkan semua itu untuk kebaikan semata-mata karena Allah. Tapi malah karena seorang perempuan.
            Dalam shalat istikharahku, Aku merasa bersalah Allah SWT, menggantikan kedudukan-Nya dalam niat baikku. Setelah  aku bertafakkur, rasanya hati ini menuntunku tuk coba melupakan Nayla, aku tidak ingin selamanya berada dalam jalan yang salah. Karena semata-mata untuk Nayla. Akhirnya, aku bulatkan membuka lembaran hidup baru kehidupan baru, dengan tidak menggantungkan diri pada Nayla, tapi hanya pada Allah SWT semata. Bersama alamku yang baru, di negri yang baru, tempat cita-citaku tercapai. Negri Timur Tengah. Yaman.
****
 

Blogger news

Blogroll