Manusia
diciptakan tidak lepas dari cobaan, Allah Ta’ala menurunkan semua itu
melainkan untuk menguji setiap hambanya, seberapa besarkah nilai ketaqwaan dan
kesabarannya?. Berbagai macam ujian baik secara lahir ataupun batin sudah merupakan
hak preogratif Sang Maha Kuasa dalam memberikan hikmah ketuhanan-Nya. Penyakit menjadi
salah satu bentuk ujian yang bisa dirasakan oleh siapa saja, tidak terkecuali aku sendiri, hamba Allah
yang lemah dan tak memiliki daya upaya melainkan hanya dari-Nya.
Aku, Seorang Penjuang Negeri Saba’
Kisah
ini berawal ketika aku mengenyam masa study di sebuah negeri di Timur Tengah.
Mulanya, aku juga tidak menyangka sampai bisa menginjakan kaki di sebuah
negara yang akrab dijuluki Negeri Ratu Balqis atau Negeri Saba’,
Yaman. Pasalnya, aku ini hanya seorang santri salaf dari pedesaan, notebene
keluarga juga hanya sebatas kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun dibalik
semua itu, Allah Ta’ala merencanakan skenario terbaik-Nya untukku,
walhasil hanya puja dan puji syukur kehadirat-Nyalah yang senantiasa aku
panjatkan atas anugerah terbesar dalam perjalanan hidupku ini.
25 September 2011 adalah tanggal dimana aku mulai
menjalani hidup dalam perantauan dalam menuntut ilmu di sebuah universitas
terkemuka di Yaman. Jauh dari orang tua dan aktifitas kuliah yang padat membuat
aku cepat betah di Universitas Al Ahgaff –kota
Mukalla. Hal itu tak lain karena aku sendiri sudah terbiasa tinggal di pondok
pesantren sejak kecil dan mata kuliah di fakultas Syari’ah yang selalu menguras
otak, jadi setiap hari aku kerjaanya ya belajar dan belajar, Study hard. Sampai
karena saking asyiknya belajar, aku sering melek malam demi menguasai
pelajaran esok hari.
Aku tinggal di sebuah asrama berlantai empat, sekitar 1 km jarak dari kampusku di kota Mukalla. Rutinitas naik
turun tangga dan jalan kaki ditengah terik panas negeri Arab sudah biasa aku
jalani. Namun, setelah aku melewati ujian semester pertama, tiba-tiba pikiran kepalaku
serasa mulai terkuras dan sering merasa pusing. Kepadatan aktifitas yang full
setiap harinya dari mulai pukul 04.00 pagi waktu setempat (KSA/King of Saudi Arabia)
sampai malam seakan tiada henti untuk berpikir. Ditambah lagi aku ini orang
yang jarang berolahraga. Dari situ aku seakan merasaakan ada keganjalan dengan
kesehatanku. Setiap aku tidur menyamping, akupun merasakan ada yang sakit di
dada, tapi aku biarkan saja tanpa dihiraukan sampai akhirnya aku bisa naik ke
semester 3 dan sesuai peraturan Universitas untuk pelajar Indonesia putra Fak. Syari’ah dan
Hukum yang sudah setahun di kota Mukalla harus dipindah
lokasikan ke Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman untuk menyesuaikan lingkungan study
dengan kota
yang terkenal luhur akan peradaban Islam dan khazanah keilmuannya.
Setahun merasakan
hidup di Yaman telah berlalu, suasana kota
Mukalla kini berubah dengan atmosfir kota
para wali yaitu Tarim al Ghanna[1].
Tentu, setelah mengetahui keistimewaan kota
Tarim sebagai kota
wali, ulama dan sholihin, aku merasakan spirit yang membara. Semangat untuk
kuliah, semangat juga untuk menimba ilmu sedalam-dalamnya pada para ulama dan masyayikh.
Namun, semenjak kepindahan aku ke kota Tarim, rasa-rasa sering pusing kepala
itu masih tetap saja muncul, malah cenderung tambah berdampak pada badan yang
menjadi ikut-ikutan lemas.
Berkat
“ALA BISA KARENA DIPAKSA”, benar ungkapan kata-kata itu. Aku selalu
memaksakan diri untuk bisa, untuk selalu menghasilkan yang terbaik. Walhasil, meski
dengan kondisi tubuh seperti itu, aku masih bisa melewati UTS dengan hasil
predikat nilai istimewa. Namun di tengah senyum bahagia itu, aku seketika ambruk
tak sadarkan diri.
Aku dan Sakitku
Aku putuskan untuk
tidak masuk kuliah barang sehari atau dua hari guna mengistirahatkan tubuhku.
Awalnya aku mengira ini hanya sakit biasa, mungkin karena kecapean, tapi ada
hal aneh yang mengagetkanku. Ketika aku kencing ternyata air kencing itu
berwarna merah kecoklatan. Akupun nyaris keheranan. Segera sore harinya aku
periksakan ke Al Chairy Hospital yang dekat jaraknya dengan kampusku.
Hari itu adalah
pertama kalinya aku merasakan rumah sakit di Yaman. Suasananya sangat jauh
berbeda dengan layaknya RSU di Indonesia. Ya, karena para penghuninya jelas mayoritas
orang Arab. Aku pandangi setiap sudut rumah sakit yang terlihat agak kumuh itu.
Sekilas perhatianku tertuju pada orang-orang sakit yang diperiksa dengan dicampur
aduk dalam satu ruangan. Sungguh kasihan. Aku hanya mengelus dada sambil duduk
di tempat tunggu. Seperti inikah rumah sakit di Negara Republik Yaman? Serba
kekurangan.
“ anta mushobun
bi marodil kabid ya thoyyib[2]”, ujar dokter laki-laki berkumis yang memeriksaku.
Aku tersontak kaget. Hah?? Penyakit Liver. aku seketika tertunduk lunglai.
Semakin
hari penyakitku semakin parah. Penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis
B (VHB) telah menggerogoti hatiku. Seandainya aku biarkan, mungkin Hepadnavirus
itu bisa menyebabkan peradangan hati akut dan menahun yang dapat berlanjut
menjadi sirosi hati atau kanker hati. Miris jiwa ini setelah mengetahui hal itu.
Selama
sepuluh hari aku terus konsisten melakukan rawat jalan, padahal kondisi saat
itu seharusnya aku sudah diinfus dan sepantasnya dirawat tetap di Rumah Sakit,
namun karena kekurangan sarana dan prasaran Al Chairy Hospital aku rela bolak
balik asrama-RS setiap harinya. Maklum adanya di Yaman seperti ini, segala sesuatu
serba terbatas sebab faktor keterbelakangan negaranya.
Teman Adalah Orang Yang Selalu
Ada dikala Suka maupun Duka
Aku yang selalu
ditemani seorang pengurus asrama setiap kali periksa, diberi instruksi oleh
dokter untuk ditempatkan di kamar khusus yang tenang dan jauh dari keramaian
teman-teman asrama. Akhirnya, Dhobit sakan[3]
terpaksa memindahkanku di sebuah kantor yang hanya berukuran 3x3 meter. Suasana
hariku semakin terasa sepi. Sedih hati ini rasanya menderita penyakit kronis
dan jauh dari belaian kedua orang tua. Untungnya teman-teman sepondokku dululah
yang senantiasa mengurus dan merawatku, setidaknya aku merasa terhibur dan
terbantu dalam segala kebutuhan seperti makan, cuci pakaian, membelikan ini itu
dan lain-lain. Luti, Wahid dan Rahmat, merekalah yang bersedia menemani
sakitku. Mereka adalah teman sejati yang selalu ada dikala suka maupun duka,
susah ataupun bahagia, dan tulus ikhlas tanpa mengharap imbalan.
Entah kenapa, mulut
ini enggan untuk makan, paling hanya beberapa suap saja. Itu juga seringnya aku
muntahkan karena sering mual. Akhirnya, disamping diberi resep obat sederhana
dari dokter Yaman dan hanya makan nasi bubur yang dibuatkan teman-temanku
secara bergiliran. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit makanan itu bisa
masuk, meski tetap saja tubuh ini masih setia berbaring di selembar kasur
lantai.
Sempat aku merasa
pesimis. Orang-orang di sekitarku banyak yang menyarankanku untuk pulang ke
Tanah Air saja, karena perobatan dan kedokteran di Yaman sangatlah minim dan
bisa dikatakan berkualitas buruk. Kondisiku pun tidak mengalami perubahan
sampai aku dipindah rawat ke RSU Hawy dan sama saja hasilnya. Aku berpikir
untuk tidak ingin pulang. Malah berpikir lebih baik aku sampai meninggal di kota suci ini seperti kejadian
teman yang pernah aku dengar daripada aku harus pulang lantas mendapat cemoohan
masyarakat. Oh, begini yah kuliah di Timur tengah, malah sakit? Siapa suruh
kuliah jauh-jauh? karena itu aku pun enggan memgabari kedua orang tuaku perihal
sakit yang dialami olehku, tentu orang tuaku juga akan mencemaskanku.
Dilain pihak,
teman-teman kampusku berbondong-bondong melakukan gerakan solidaritas. Ada yang memintakan
sumbangan ke teman-teman seasrama dari berbagai asal Negara, ada juga teman
Afrika yang sering menjengukku dengan rutin membacakan do’a dan hadits-hadits
Rasullullah tentang wasiat bersabar dikala sakit.
The Power of Tawakal
Hari
demi hari aku belum mengalami perubahan yang signifikan, namun aku tetap
berikhtiyar dengan terus meminum obat dan makan makanan sesuai anjuran dokter.
Setiap malam aku hanya ditemani kesepian, pada saat seperti itulah aku
bertawakal dan bermunajat pada Allah ta’ala dengan tubuh terbentang ke langit.
Musibah penyakit ini adalah ujian Allah untuk melebur segala dosa hamba-Nya, dan
nyawa ini berasal dari yang Maha Kuasa dan akan kembali pada-Nya. Seandainya
aku ditakdirkan menemui-Nya di kota
ini, aku sudah siap menanti sang ajal.
Setelah
genap 45 hari aku rutin mengikuti anjuran dokter, keajaiban tiba-tiba datang
tanpa disangka. Kesehatanku mulai memulih drastis. Meski belum seratus persen dikatakan
sembuh, Penyakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Prediksi yang diluar
perkiraan. Sampai akhirnya seminggu mendekati UAS, aku pun mencoba paksakan
untuk mengikuti Ujian Semester. Dengan hanya bermodalkan keilmuan pondok salaf
dahulu dan belajar sekuatnya, akhirnya akupun berhasil lulus dan sampai kini
aku masih diberikan sehat wal ‘afiyat oleh Allah Ta’ala dalam mengikuti kuliah
di Universitas Al ahgaff, Yaman.
* Wallahu a’lam*
BIODATA PENULIS
Abdul Rahman Malik, lebih dikenal
dengan nama pena “Arman Malieky/Facebook”dengan emailnya armanmania@gmail.com, terlahir di Majalengka, 12 Februari 1991. Alamat
rumah di Jl. Raya Selatan Desa Leuwimunding Rt 01 Rw 01 Kec. Leuwimunding Kab.
Majalengka, 45473. Kini aku tinggal di Universitas Al Ahgaff Yaman dan
tergabung dalam anggota FLP Hadhramaut. Syukron.
0 komentar:
Post a Comment