Follow us on FaceBook

Friday, 17 June 2011

Tetesan Embun Cinta


Tahun 2003 dimana aku masih duduk di bangku SD, dan masih merasakan jiwa kekanak-kanakan dan kegemaran bermain, aku tumbuh sebagai anak lelaki yang suatu saat kan jadi harapan keluarga. Karena aku adalah anak laki-laki kedua, dan kakakku kini telah berkeluarga.
Sebetulnya aku yang pendiam, lugu, dan tak punya keberania besar. Tapi keterikatanku dengan dunia masa kecil masih melekat, akupun tetap menyempatkan waktu untuk bermain bersama teman-teman yang akrab. Hanya saja terkadang aku memilih teman yang enak dan bersahabat untuk aku ajak bermain.

“Pak, Ilman berangkat sekolah dulu ya, sekalian minta uang jajan buat hari ini….”. ilman adalah nama panggilanku sehari-hari, nama yang diberikan bapak 7 tahun yang lalu setelah ibu melahirkanku yang lengkapnya, Maulana izdadna Ilman.
“ iya, Man ni uang jajannya, ingat pulang sekolah jangan ngelayab kemana-mana, pulang langsung kerumah!”… respon bapakku dengan mengulurkan tangan berisi uang seribu lima ratus rupiah.
Biasanya yang selalu memberi uang jajan setiap hari ialah ibu, namun hari ini ibu sudah berangkat ke pasar, jadilah bapak yang jadi gantinya. Karena bapak sendiri selalu ada dirumah jikalau tidak berangkat merantau ke seberang pulau.

Sekolahku tak jauh dari rumah, dengan jalan kakipun bisa aku tempuh, cukup lima menit sampai. SD yang tergolong Negri kedua di desaku. Karena tepat disampingnya ada SD Negeri I yang menghadap ke Jalan Raya. Walaupun demikian, Dua SD yang berdampingan itu tetap berhubungan baik , baik itu guru-gurunya atapun murid-muridnya,

Aku kini duduk di kelas 2 SD Negeri  2, Setiap hari aku selalu berangkat lebih pagi walaupun sebenarnya aku masuk kelas dimulai jam setengah sepuluh setelah kelas 1 pulang. Aku merasa dengan demikian aku bisa belajar dahulu di pinggir kantin sekolah bersama Bu Endah, sang penjaga kantin. Atau sering juga ketika tidak ada PR, aku malah bermain dengan teman akrabku yang sama selalu berangkat lebih awal, Rayhan namanya.

“ Han, hari ini ada PR gak? Kalau gak ada, yuk kita main kelereng saja! “ ajak aku. Kebetulan murid kelas 2 SD Negeri 2 yang baru berangkat hanya aku dan Rayhan.
“ Kayanya gak ada man, soalnya kemarin Ibu Tini gak ngasih PR” jawab Reyhan dengan menambahi Ibu Tini yang juga mengajar kelas 2.
“ Ya sudah, kita bermain kelereng. Nih, aku punya sepuluh butir, nanti kita bagi dua” bicara aku sambil meyakinkan.

Kita berdua bermain kelereng di halaman tepat di depan kelas satu yang tempatnya di ujung, berdampingan dengan sebelahnya SD Negeri 1. Ditengah asyiknya bermain, terdengar suara obrolan anak-anak perempuan di samping. Ketika aku menengok kearah suara itu, ternyata ada siswi-siswi SD negri 1 sedang asyik ngobrol, sambil tertawa-tawa di kursi panjang depan kelas.
Namun, tampak seorang siswi yang berkerudung putih, dengan memakai seragam merah putihnya seolah-olah berbeda dengan teman lainya yang tidak mengenakan kerudung. Akupun sedikit keheranan melihatnya. Pesona kecantikan Siswi SD itu membuat aku bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa dia memakai kerudung, tidak seperti umumnya anak SD negeri? Tambah dengan merasa kagum akan sikap pendiamnya sambil memegang sebuah buku sedang dibacanya. Sungguh membuat hati ini terpana, seakan melihat putri permaisuri bercanangkan kerudung putih indah dipandang.

Setelah berhari-hari aku menyimpan memori siswi  SD Negeri 1 itu, akhirnya akupun tahu sedikit tentang dia, hanya sebatas kenal. Maklum aku akui, karena SD aku masih kecil tentang hal-hal percintaan dan belum pantas. Tapi rasa kagumku padanya akan senantiasa membekas, karena sosoknya lah yang pertama kali meneteskan embun perasaan di hatiku.
Nayla namanya, Nayla Muna Awwalina. Aku tau dia dari Reyhan, teman terdekat aku. Nayla sebetulnya bukan asli anak desa dimana SD Negeri 1 dan 2 berada, dia berasal dari desa sebelah, dia pergi sekolah tiap hari dengan jalan kaki. Selalu berangkat awal dibanding yang lain. Ternyata, dia juga sama duduk di kelas dua. Karenanya, aku sering menjumpai dia menyempatkan belajar di kursi kecil depan kelasnya sebelum bel bebunyi. Karena berbeda sekolah, akupun tidak bisa bermain dekat dengan dia. Apalagi aku sendiri anak yang pemalu dan jarang bermain dengan anak perempuan.

Selama aku masih duduk di bangku SD, perasaan itu hanya tersimpan di benak, tak pernah terletupkan ucapan tentang kekagumanku pada Nayla kepada siapapun, kecuali Reyhan sendiri.
Karena ia satu-satunya teman yang selalu mengertikanku. Sampai ia pun memberi tahu, bahwa nayla setiap malam selalu mengaji al qur’an di pondok kecil dekat rumahnya. Dan itu masih berjalan sampai Nayla sekarang kelas 5 begitu juga aku.

Di awal aku menduduki bangku kelas 5, aku bulatkan tekad untuk ikut mengaji al qur’an ditempat Nayla setiap hari mengaji. Walaupun jauh, tapi ini adalah pengorbananku untuk bisa melihat Nayla setiap hari, seandainya tidak sempat melihatnya pagi hari di sekolah, malam harinya bisa menjadi penebus rasa rindu wajah manis Nayla saat mengaji di pondok. Yang penting bisa melihat nayla walau dari jauh karena kelas yang terpisah.

Selama mesantren disana, Aku merasa banyak hal baru yang aku jumpai dan alami. Pertama, aku harus berangkat setelah shalat maghrib dari rumah dengan mengendarai sepeda, setelah sampai aku di hadapkan dengan asatidz yang galak-galak, Ust. Furqon salah satunya. Setiap kali ada santri yang masih berkeliaran belum masuk ke kelas, Ia siap siaga dengan memegang pentungannya untuk menakut-nakuti. Pada saat-saat itulah, muncul rombongan santriwati yang melenggangkan badan berjalan menuju pondok dari arah ujung utara, dengan menenteng tas di bahunya dan kitab-kitab di dekap di dadanya. Tersenyum aku melihatnya, karena dari kerumunan santriwati itu, satu diantaranya ada Nayla. Ya nayla yang selama ini aku kejar agar bisa selalu memandang wajah sholihahnya, kelembutan sikap kesehariannya dan kealimannya.

Setahun kemudian…
Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan kebiasaan di Pondok itu dan banyak mendapat pelajaran, walau hanya menghabiskan waktu dari ba’da maghrib sampai sekitar jam setengah sembilan malaman. Aku merasa senang bahagia bisa ikut mesantren disini, walau tujuan awalnya yang salah. Pesantren hanya untuk melihat Nayla.

Suatu malam setelah pulang dari pesantren, aku mampir dahulu di pedagang siomay dekat pesantren. Tak ku kira ternyata tepat di sampingku ada Nayla yang juga sedang membeli siomay. Tiba-tiba dia memandangku dengan senyuman manisnya sambil mengucapkan,
“ assalamu ‘alaikum…. kamu anak desa sebelah kan?” Tanya Nayla sambil memancarkan aura ketulusannya.
“ wa wa wa ‘alaikum salam….” Aku jawab dengan sedikit kaget dan terbata-bata.
“ IIIyya,,, neng ” jawaban dari pertanyaannya tadi dengan ucapan neng sebagai tradisi penghormatan kepada gadis perempuan, teman atau yang lebih muda.
“Neng namanya Nayla ya??? Giliranku bertanya sambil sedikit gugup.
Dia tersenyum sambil manjawab,
“ Iya… kok kamu bisa tau? Ujar Nayla dengan suara lirih dan pancaran senyum dari raut wajahnya.
“ hhhmm… yang cuma tau aja” jawab aku.
“ eh iyya… saya pulang duluan ya, sudah di tunggu bapak dan ibu di rumah”.
Nayla pun pergi, dan aku perhatikan dia dengan perasaan sangat-sangat bahagia. Seketika aku pandangi ternyata dia masuk ke rumah Ust. Furqon. Deg.. rasa bahagiaku pun bercampur dengan rasa khawatir dan takut, ternyata aku baru tahu bahwa Nayla Muna Awwalina itu Putri dari Ust. Furqon yang terkenal super galak dan sangar di pondok. Hhhmm,,,Siap-siap aku harus menghadapi singa padang pasir itu untuk bisa bertahan sampai suatu saat aku bisa mendapatkan anaknya.

Satu tahun itu merupakan tahun pertama aku mengaji di Pondok secara kalong, berangkat maghrib malamnya pulang tanpa menginap di pondok. Setelah satu tahun itu juga bertepatan dengan masuknya aku di kelas 6 SD. Aku menikmati jalannya mengaji dan semua suasana di pondok. Akupun merasa terbiasa.
Sampai tiba akhir tahun. Dimana aku harus memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMP atau MTs. Aku sendiri sudah bulat, ingin masuk SMP agar bisa menguasai pelajaran umum, dan tetap melanjutkan mengaji malam di pondok. Rencanaku diterima dan didukung penuh oleh bapak dan ibuku, karena menyadari ilmu umum juga perlu, tapi dengan tetap mengutamakan ilmu agama dengan tetap pesantren walau kalong.

Setelah aku menjadi siswa SMP, Akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang. Setiap malam aku berangkat ngaji, entah kenapa aku tidak pernah lagi melihat pancaran wajah indah Nayla. Perasaanku tidak enak dan gelisah. Akupun tanya seorang temannya yang dulu selalu bersama Nayla di Pondok. Kaget sungguh kepayang. Sedih hati ini rasanya. Belumlah aku bisa akrab dengannya tapi dia sudah pergi dahulu. Pergi menjauh dariku. Bapaknyalah yang membuatnya pergi, Ust. Furqon. Dia melanjutkan SDnya tidak ke SMP atau MTs terdekat, tapi dia disuruh untuk melanjutkan pesantrennya ke Bandung. Dengan keta’dzimannya terhadap bapaknya, diapun mengikuti apa kata bapaknya.

Bertahun-tahun aku jauh dari Nayla. Tapi aku tetap berusaha untuk tegar. Seperti biasa aku berangkat pesantren, sepintas aku sering memandangi rumahnya, namun tak juga Nayla ada. Semenjak Nayla pergi ke Bandung, Tak pernah aku jumpai dia walau satu kalipun. Aku hanya bisa berharap, suatu saat jika Allah mentaqdirkan aku bertemu Nayla, aku yakin pasti akan bertemu kembali. Karena aku percaya taqdir Allah seperti yang diajarkan Ustadz Rahmat dalam pengajian tauhid di pondok.
Sampai akhirnya akupun selesai Ujian Akhir Nasional, kelas 3 SMP sebentar lagi berakhir. Tinggal aku harus siapkan rencana berikutnya. Beberapa hari setelah UAN, Malam harinnya akupun berniat berangkat pesantren dengan menggunakan sepeda BMXku ditemani beberapa teman. Malam pertama setelah satu minggu libur untuk persiapan UAN. Malam itu, aku bertemu dan bersalaman dengan Ust. Furqon yang sedang duduk di kursi depan Kantor Pondok. Di kelas, aku bertemu Ust. Rahmat yang biasa mengajariku setiap malam, Dialah wali kelasku.

Setelah bubar dari pengajian, aku rasanya ingin membeli somay kesukaanku. Akupun mendatangi pedagang somay tak jauh dari pondok sebelum aku mengambil sepeda ditempat penitipan. Terkejut aku ketika mendengar suara perempuan dari samping kuping kananku.
“ Mang, masih ada somaynya? Nayla mau beli lima bungkus....”
“ masih ada neng,,, ya mang buatin buat tong Ilman dulu ya neng….”
Ya Allah,,, akupun terkejut ketika menengok ke arah kananku, begitu juga Nayla yang menengok ke arah kiri ketika ia mendengar nama ILMAN dari mulut mang somay.
“ Assalamu ‘alaikum Neng Nayla…? Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah bisa dipertemukan kembali ya neng….” Tanya aku dengan perasaan berbinar-binar dan mata berkaca-kaca ketika memandang Nayla setelah bertahun-tahun tak bertemu, ia tumbuh sungguh sangat cantik dan lebih anggun dari dahulu SD.
“ Wa’alaikum salam…. Alhamdulillah baik kang Ilman….” Jawab Nayla sambil tersenyum manis.
Akupun balas senyumannya, apalagi setelah ia jawab dengan kata “kang Ilman”, Panggilan Khas dari Bandung. Dengan berusaha percaya diri, akupun coba keluarkan pertanyaan,
“ Neng Nayla lagi liburan ya?...kemarin ketika UAN bagaimana? Lancar?...” lidahku mulai bebicara.
“ Iya kang,,, kemarin Nayla UAN di Bandung Alhamdulillah lancar…” Naylapun menjawab lirih.
“ Kalau boleh tau… rencana Nayla setelah lulus mau melanjutkan kemana?...”
“ hehhhmmm,,, kata bapak sih Nayla disuruh melanjutkan pesantren lagi ke Jawa Tengah, ya Nayla ikut apa kata bapak saja”... jawaban Nayla sederhana sambil mengambil bungkusan somay yang sudah dibuatkan sekaligus memberikan uangnya ke mang somay.
“ ehhh,,, kang Ilman Nayla pulang duluan ya, tidak enak sama bapak dan ibu kalau somaynya keburu dingin” sambung Nayla sambil pamit mengucapkan salam,
“ Assalamu ‘alaikum… kang”
“ iya neng…wa ‘alaikum salam” akupun jawab dengan senyum tersampul rasa gembira luar biasa.

Perjalan pulangkupun diliputi taburan rasa bahagia, sampai aku tersenyum-senyum sendiri. layaknya perasaan orang yang lama ditinggal wanita yang ia cintai, kemudian ia datang tiba-tiba bagaikan bidadari turun dari kahyangan berkerudungkan  sutra putih, kulit yang halus putih bagaikan susu, senyuman manis lebih manis dari gula serasa, tutur bicaranya seolah butiran-butiran mutiara pelan berjatuhan, sungguh suara jawaban-jawaban dari lisannya seperti tetesan embun pagi menyejukan hati dan menyegarkan aroma di  jiwa. Tak terbayang begitu bahagianya aku, sampai larut malampun aku tetap membayangkannya. Aku pandangi dia dari tembok kamarku seperti tayangan dalam surga. Terus dan terus bayangannya menari-nari depan kedua bola mataku. Sampai tak terasa akupun tertidur dan jatuh dalam larutan mimpi indah bersamanya.

“ Kang Ilman…. Kang…. “ Nayla membangunkanku dalam dunia tidurku.
“ aduwh… Neng Nayla, kok bisa ada disini???”
“ Iya Kang, Nayla datang buat Kang Ilman…” ujar Nayla dengan menyimpulkan senyum manisnya.
“ Hah… Iya tah Neng? Nayla datang jauh-jauh buat akang” tanyaku dengan penasaran.
“ Iya, Kang… Nayla disuruh bapak untuk bertemu akang, dia sudah meridhoi seandainya suatu saat Nayla jadi pendamping hidup akang…” ucapan Nayla seolah embun pagi, akupun disejukan olehnya.
“ Ya Allah, apa ini benar… sungguh aku bersyukur padamu Ya Allah…”
“ kalau begitu akang siap bersedia untuk jadi pendamping hidup dan imam bagi Nayla kelak dalam rumah tangga kita”

Dug..dug…dug…(suara dari pintu kamarku) Man… Man… Baanguunn… siap-siap ambil air wudhu, sholat sama ibu,,, kamu jadi Imam…..
Akupun terperajat, sambil mengusapkan muka dengan kedua tanganku. Wuuuhhhh… ternyata hanya mimpi. Akupun tersenyum sendiri sambil tetap mengingat-ingat bayangan Nayla yang belum kunjung hilang.

“ Iya Bu… tunggu sebentar…” saut aku dari dalam kamar, dengan berharap “ Ya Allah semoga apa yang aku tadi impikan bisa jadi kenyataan”. Lalu akupun bersiap-siap untuk melakukan shalat shubuh. Salama satu minggu ini memang aku selalu jadi Imam shalat bersama Ibuku, karena bapakku dan kakak laki-lakiku sedang melakukan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga.
Ibuku sudah siap di mushola. Setelah akupun siap, Aku berkata kepada ibu,
“ Mari Bu, kita shalat berjama’ah, lebih cepat lebih afdhol agar mendapat waktu fadhilahnya shalat”
“ Iya Nak, baca qur’annya yang tartil dan merdu ya, biar ibu shalatnya bisa lebih khusyuk” tambahi ibu. Begitulah ibu, karena beliau selalu senang mendengar aku mengaji al qur’an dengan tartil dan merdu”

Setelah aku dan ibu menjalankan shalat shubuh berjama’ah dengan khidmat, seperti biasa aku dan ibu salang deres al qur’an. Katika ibu membaca aku mendengarkan dan membetulkan bacaan ketika ada yang salah. Begitu juga ibu mendengarkan ketika aku membaca. Ibu sendiri karena sudah usia lanjut, beliau membaca harus dengan kaca matanya. Berbeda dengan aku. Karenanya, ibu terkadang ada bacaan yang salah lihat, akupun langsung membetulkannya.
Setelah selesai deres al qur’an bersama, aku celetupkan pertanyaan tentang mimpiku tadi.
“ Bu… kalau mimpi itu benar bisa jadi kenyataan nggak sih???” aku mulai bertanya dengan gaya bahasa akrabku kepada ibu.
“ Man… mimpi itu tidak semua jadi kenyataan, yang jelas mimpi itu Cuma bunga tidur, kalau mimpi baik dan benar berarti datang sebagai anugrah dari Allah SWT. Kalau mimpi buruk itu berarti datang dari Syaitan. Ilman sebelum tidur baca dulu tidak? “ jawab ibu dengan penjelasannya.
“ Ilman baca do’a Bu… masa sudah lama ngaji di pondok lupa baca do’a sebelum tidur” ujarku.
“ ya memangnya Ilman mimpi apa?” tanya ibu kembali.
“hhmm.gimana ya? Sebetulnya  ini ada hubungannya dengan perasaan Ilman Bu” jawabanku simpel.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang perasaanku kepada Ibu, dari mulai aku SD kelas 2, kemudian tahu dengan yang namanya Nayla, lalu akupun ikut ngaji di Pondok hanya agar bisa melihat Nayla. Aku juga ceritakan karakteristik Nayla, segalanya. Sampai pada mimpiku tadi malam.
Kemudian Ibu menyimpulkan.
“ Ya Sudah… Ibu sih mendukung saja, tapi Ilmankan masih kelas 3 SMP, baru saja UAN, pengumuman kelulusan juga belum. Masih lama Man memikirkan hal yang seperti itu. Nah… Alangkah baiknya, Ilman sekarang jadikan perasaan itu sebagi motivator yang mendorong Ilman untuk terus jadi yang terbaik, baik untuk keluarga, agama, dan bangsa. Nayla juga akan senang seandainya tahu hal itu. Sekarang yang Ilman harus pikirkan, ingin kemana melanjutkan sekolah setelah SMP?” ibuku memberikan pencerahan diakhiri dengan pertanyaan. Akupun seketika mengiyakan ibu. Dan terpintas kemana aku akan melanjutkan sekolah.
“hhhmm… iya ya bu…” Sambil aku memanggut kepala dan berpikir, teringat bayangan Nayla ketika bertemu kemarin malam.
“ Bu, bagaimana kalau Ilman ingin mondok ke Jawa Tengah? Ilman ingin memperdalam Ilmu agama sambil sekolah disana?” Inisiatif ini, aku terinspirasi dari Nayla karena Dia akan melanjutkan ke Jawa Tengah. Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa dan dimana pondok pesantren di Jawa Tengah itu.

******
            Santri, Asatidz, dan Kyai, nama-nama itu sudah terbiasa terdengar di telingaku. Kehidupan yang awam kini berubah dengan nuansa islami. Keseharian yang dulupun berubah dengan banyak kegiatan mengaji kepada kyai dan asatidz. Suara adzanpun tak lepas dari kupingku berkumandang setiap lima waktu. Tanda akupun harus mendatangi masjid, untuk shalat berjama’ah sebagai kewajiban santri pesantren. Pesantren yang terletak di Jawa Tengah itu bernuansakan kesejukan. Lokasi yang dekat dengan Gunung Slamet membawa kedinginan setiap malam sampai shubuh tiba.
Waktu dua puluh empat jam tiap harinya dihabiskan dengan kegiatan dilingkup pesantren. sekolah keagamaan yang masyhur dengan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) mengisi acara pagi sampai soreku, ditambah pengajian tambahan dari setelah asyar hingga larut malam. Ku rasakan semuanya begitu jauh berbeda dengan apa yang pernah ku jalani sebelumnya ketika di rumah. Namun, semua itu berjalan dengan senyuman. Karena di Pesantren itulah, aku dipertemukan dengan sosok penyejuk hatiku, Nayla Muna Awwalina. Akhirnya, aku bisa bersama Nayla dalam satu pondok pesantren. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya saja, kami tidak bisa bertemu dan bertatap muka layaknya pergaulan bebas di rumah, kami terikat oleh pesantren, penjara suci yang dikelilingi pagar yang berduri peraturan. Siapa orangnya berani menerobos pagar duri itu, dia akan terkena akibatnya. Duri itu akan melukai dirinya tanpa pandang bulu siapa orangnya. Tata tertib pesantren membuatku hanya bisa menyaksikan Nayla dari arah yang berjauhan, karena dilarang bagi kaum ajnabi berdekatan dengan bukan mahromnya.

Beberapa tahun lamanya di pesantren, semua benak perasaanku aku tanam dalam hatiku,  tak berani aku berbuat yang bisa berakibat fatal bagi masa depanku. Tapi aku hanya ingat pesan ibuku, “jadikan perasaan cinta kepada seseorang itu sebagi motivator yang mendorong untuk terus jadi yang terbaik”. Dari situlah, aku bertekad, walaupun perasaanku kepada Nayla ini tersimpan dalam bathinku, aku akan buktikan, aku harus jadi yang terbaik. Setidaknya dengan demikian Nayla akan merasa kagum padaku. Dengan modal kemampuan pas-pasan, hanya lulusan SMP, akupun bejuang mati-matian agar dapatkan apa yang aku inginkan. Porsi belajarku aku tambahkan full sampai larut malam. Setiap setelah pelajaran aku rutinkan muroja’ah. Materi agama dan umum aku kuasai semua. Semua jerih payah aku kerahkan, dengan niat aku ingin bisa jadi yang terbaik, orang tuaku kan senang. Dan yang utama Naylapun akan mengetahui siapa aku.
*****
Setelah lima semester kulalui, namaku selalu terpampang di barisan rangking kesatu, kedua atau ketiga. Karena sulitnya pesaingan di kelas, aku tidak bisa konsisten di peringkat kesatu, tapi aku bersyukur  karena rangking satuku tetap mendominasi. Setiap akhir semester pengumuman peringkat kelas selalu diumumkan dan dipampangkan. Akupun yakin Nayla pasti melihat hasil dari jerih payahku.

Suatu pagi, bertepatan dengan setelah pengumuman semester pertama kelas 3, ketika berangkat sekolah, aku tak sengaja bertemu papasan dengan Nayla di tangga lantai dua sebelum masuk ke kelas. Tak ku sangka, Nayla tersenyum sambil mengucapkan beberapa patah kata,
“Selamat ya Kang Ilman, atas prestasi yang diraih selama di MAK….!!!” Butiran-butiran mutiara itu berjatuhan dari lisan Nayla membuatku terlena kepayang.
Dengan senyum pula akupun menjawab,
”terima kasih neng, mungkin itu juga berkat do’a dan dukungan neng dari belakang, ”…. aku balas dengan sedikit kata-kata so-PD, yang aku yakin itu ada benarnya.
“Nayla ke kelas duluan kang… tidak enak kalau kelihatan orang lain”, ujar Nayla dengan mata malu.
“ Iya Neng, sekali lagi makasih”, saut aku membalas sebelum Nayla pergi.
“ Iya Kang”… Ia pergi dengan agak dicepat-cepatkan jalanya sambil tersenyum-senyum.

            Setelah semester satu kelas 3 berakhir, tinggal tancap gas terakhir untuk menuntaskan jenjang sekolah di MAK. Ujian Nasional SLTA diambang mata sekitar tiga bulan kedepan. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa aku terlena dengan hasil baik prestasiku sebelumnya. Semua harus aku selesaikan dengan baik, dan di akhir akupun harus bisa khusnul khotimah,  baik di sekolah atau juga di pesantren. Apalagi aku merasa iri kepada kakak kelas yang dahulu telah lulus, lalu bisa melanjutkan ke Universitas Negeri bahkan ke Universitas di Timur Tengah. Dari situ, aku juga berharap mudah-mudahan UAN nanti bisa berhasil dan bisa mengantarkanku ke Universitas di Timur Tengah. Walau belum terbayang dari dahulu untuk kuliah di Timur Tengah, tapi setelah aku mendapat banyak pelajaran dan kajian agama, aku mulai mengerti. Ilmu agama berasal dari Negri-negri Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab, sudah pasti ketika aku belajar disana berarti aku seolah meminum air dari sumber mata airnya.
******
Beberapa bulan kemudian,
            Aku dinyatakan lulus UAN dengan predikat Amat Baik. Disamping itu pula, aku mendapat pengumuman kelulusan beasiswa timur tengah. Sesuai dengan target, apa yang aku rencanakan berhasil. Kedua pengumuman itu aku terima dengan rasa bahagia, bangga dan puas. Karena jerih payahku selama di pesantren terbalaskan dengan prestasi baik. Kedua orang tuakupun takjub. Tidak percaya aku bisa seperti itu, padahal aku lulusan SMP, tapi bisa bersaing dengan teman-teman lain yang latar belakang keagamaannya lebih baik. Aku tersenyum saja,,, karena dibalik itu semua, aku termotivasi oleh sosok Nayla yang senantiasa menjadi penyemangat hidupku, gelora wajahnya selalu terpancar dalam bayanganku layaknya tetesan embun yang membasahi dedaunan di setiap pagi. Akulah si dedaunan yang beruntung itu, karena setiap aku ingat kepadanya, aku bangkit untuk berusaha menjadi yang terbaik walaupun banyak yang lebih baik dariku. Setidaknya, aku bisa dilihat baik di mata Nayla. Entah tetesan embun cinta apa yang telah merasuki tubuh ini, sehingga aku selalu merasa sejuk ketika ia hadir dalam bayanganku.
*****
            Suatu ketika akhirnya aku sadar. Aku telah salah dalam melangkah. Semua yang aku lakukan untuk agama aku lakukan dengan niatan yang salah. Bermula dari aku pesantren kalong di kampung hingga kini aku  berhasil mencapai yang aku citakan. Semuanya karena Nayla, seorang perempuan biasa, yang hanya diberi kelebihan oleh Allah SWT hingga bisa menghipnotis hatiku sehingga terpedaya. Aku berjuang pesantren malam hanya untuk melihat Nayla. Aku tekadkan pesantren di Jawa Tengah hanya untuk bisa hidup lebih dekat dengan Nayla. Aku berusaha meraih prestasi terbaik hanya agar mendapat perhatian Nayla. Semua itu salah… aku tidak niatkan semua itu untuk kebaikan semata-mata karena Allah. Tapi malah karena seorang perempuan.
            Dalam shalat istikharahku, Aku merasa bersalah Allah SWT, menggantikan kedudukan-Nya dalam niat baikku. Setelah  aku bertafakkur, rasanya hati ini menuntunku tuk coba melupakan Nayla, aku tidak ingin selamanya berada dalam jalan yang salah. Karena semata-mata untuk Nayla. Akhirnya, aku bulatkan membuka lembaran hidup baru kehidupan baru, dengan tidak menggantungkan diri pada Nayla, tapi hanya pada Allah SWT semata. Bersama alamku yang baru, di negri yang baru, tempat cita-citaku tercapai. Negri Timur Tengah. Yaman.
****

0 komentar:

 

Blogger news

Blogroll