Thursday, 3 January 2013
Tuesday, 20 November 2012
Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim, Yaman
Bismillahirrrahmanirrahim…
Tibanya tahun ajaran baru menjadi momentum segar dengan kedatangan alumni MAK Al Hikmah 2 baru di Negeri Saba'. Ya, itulah sebutan negara yang akrab kita kenal kini dengan Negara Yaman. Setiap tahunnya, para pencari ilmu berbondong-bondong datang demi segenggam ilmu syari'at yang menjadi tujuannya. Tak ketinggalan Alumni MAK Al Hikmah 2 Bumiayupun termasuk salah satu dari deretan lembaga pendidikan yang kerap memberangkatkan pelajarnya ke Negeri tersebut.
| kiri : Khoirul Jadi, M. Fuad Mas'ud, Fathul Bary, Khoirul Amrullah, Robby Adriyanto, Tohirin, Arman Malieky |
Tahun
Ajaran 2012-2013 kini, Universitas Al Ahgaff, Yaman tepatnya, kedatangan 3
generasi baru MAK Al Hikmah 2, Khoirul Jadi, Robby Adrianto, dan Fathul Bari.
Hadirnya mereka menambah kapasitas Alumni MAK di Yaman, yang kini menjadi 8
pelajar putra. Penambahan yang cukup signifikan, karena setiap tahunnya kisaran
1 atau 2 pelajar saja yang bisa berangkat.
Setelah
tiba di kota Mukalla, Yaman (28/09/2012), mereka bertiga seperti itik
kehilangan induknya. Mengikuti perkuliahan tanpa hidup bersama kakak kelas.
Begitulah,,, semua kakak kelas di tingkat II sampai akhir berlokasi di kota
Tarim. Jaraknya sekitar 6 jam perjalanan angkutan darat. Lantas merekapun
sengaja mengisi liburan Idul Adha dengan berwisata religi ke kota Tarim, Provinsi
Hadhramaut. Dengan berbekalkan izin dari staff Idaroh Universitas Al
Ahgaff, Mukalla, akhirnya mereka melesat ke kota Tarim, kota yang masyhur sebagai
kota wali, ilmu dan ulama.
Dua hari sebelum Idul Adha, tepat pukul
13.00 waktu setempat (KSA), mereka tiba di halaman kampus Universitas Al
Ahgaff, Tarim. Semarak suka gempita menyelimuti tatkala mereka disambut Alumni
MAK Al Hikmah 2 lainya. " Wahh wahh, marhaban ahlan wa sahlan, bisa jumpa
lagi di Yaman, kangen nih sama kalian, adik-adikku", ungkap Thohirin,
salah satu Alumni MAK Al Hikmah 2 yang duduk di Mustawa II Univesitas Al Ahgaf,
Tarim.
" Iya Khi, kita-kita
kesepian , masa kakak-kakaknya di Tarim, adik-adiknya merana jauh di Mukalla,,,
Hehe", pungkas Jadid mewakili ketiganya.
" Ya kan sekarang
sudah kumpul bareng di Tarim, yuk kita nostalgia bareng mengingat sweet
memorian Al Hikmah 2, pondok kesayangan", lanjut Arman yang sama di
Mustawa II.
Liburan Idul Adha kali ini bertajuk " Wisata
Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim". sengaja diberi judul demikian,
karena tak lain tujuannya adalah berziarah ke makam-makam auliya dan
jalan-jalan mengitari masjid-mesjid bersejarah di Kota Tarim.
" Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,, Allahu
Akbar… Laa Ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu...".
Suara gema takbir meramaikan seantareo kota Tarim. pakaian serba putih
dikenakan seluruh masyarakat dalam Ibadah Sholat 'Ied. Kitapun mengikuti
tradisi yang ada, berpeci putih, berjubah putih, dan berkalung sorban. Sungguh,
menambah kekhusyuan dan ketenangan dalam bathin. Siap menghadap Ilahi Rabb
berjama'ah di Mesjid Jabanah, 1 km dari kampus Al Ahgaff.
Kemudian kami berziarah ke Maqbaroh Zanbal. 200 meter
sebelah kiri masjid Jabanah. Pelatarannya begitu luas dan dipenuhi banyak batu
nisan maqom para wali. Hal itu karena memang ribuan wali disemayamkan disana,
bahkan beberapa ashabul badr[1]
yang dulu diutus Rasullullah ke Yaman. Tak heran, karenanya Yaman dijuluki
sebagai Negeri Seribu Wali.
Setapak demi setapak
kami melangkah. Pertama menziarohi maqbarah al Ustadzul A'dzom Sayyidina al
Faqih al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath (574 - 653 H.).
Beliau adalah seorang wali besar, al 'arif billah, pemuka para imam dan ulama,
pemuka thoriqoh 'Alawiyyah yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah luar
biasa. Beliau termasuk wali quthb yang banyak menghasilkan para ulama besar di
zamannya.
Dikisahkan beliau pernah berkirim surat kepada
seorang pemuka para ahli sufi, yaitu as Syaikh Sa'ad bin 'Ali adz-Dzofari.
Setelah as Syaikh Sa'ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya,
Ia terkagum-kagum dan merasakan cahaya dan rahasia batin yang ada didalamnya.
Lantas membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, "
Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah swt yang tidak
dimiliki siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan syari'ah dan haqiqah, baik yang dzahir maupun
bathin".
Kemudian kami
beralih menuju maqom 'Amul Faqih (Paman Faqih Muqoddam) as Sayyid Alawi bin
Muhammad Shohib Mirbath (w. 613 H). Beliaulah kakek moyang dari wali songo yang
telah menyebarkan islam di Indonesia. Karena itulah, asal usul wali songo dan
para habaib 'alawiyyin di Nusantara, sebenarnya bermula dari tanah Tarim,
Yaman.
Lisan
ini tak henti-hentinya berdo'a dan bersholawat sepanjang ziyaroh hingga
sampai di depan maqbaroh al Habib
Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al Masyhur (1250-1320 H), Pengarang
Bughyatul Mustarsyidin. Lalu menuju Dhorihah[2]
al Imam al Habib Abdurrahman as Seggaf bin Muhammad Maula Dawilayh (739-819H).
Beliau dijuluki al Faqih al Muqoddam ats- Tsani karena saking alim dan ma'rifatnya
kepada Allah swt. Beliau jugalah orang pertama dari kalangan alawiyyin yang
dijuluki 'as Seggaf'.
Berikutnya memasuki
Qubbah Waliyullah Sulthonul Mala, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus (811-865 H) bin
Abu Bakar as Sakran bin Abdurrahman as Seggaf Faqih Muqoddam Tsani. Beliau, as
Sayyid Abdullah al 'Aydrus merupakan putra pengarang Hizib Sakron, dan
juga orang pertama yang dijuluki 'al 'Aydrus'.
Dan
Terakhir, Kami menziarahi pemakaman Waliyullah al Qutub al Imam Abdullah Alawy
al Haddad (1044-1132 H), pengarang kitab Risalatul Mu'awanah dan an Nashoih ad
Diniyah. Beliau disebut sebagai ulama
mujaddid atau tokoh pembaharu abad 12. Banyak karangan beliau dalam segala fan
ilmu telah sampai ke semua penjuru
dunia.
Demikianlah
wisata religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim kali ini. Cerita ziyaroh Zanbal
ini hanya satu dari beberapa objek wisata religi di Tarim yang kami singgahi. Selepas
beberapa hari bersama ketiga adik kelas, akhirnya mereka dengan berat hati
harus kembali ke Mukalla. Cukup perjumpaan kami sampai disitu dahulu sebagai pengisi
liburan idul adha. Kelak kamipun pasti kan dipertemukan kembali, tatkala mereka
naik tingkat berikutnya, tentunya di kota seribu wali, Tarim. (Arman
Malieky/author).
Friday, 7 September 2012
20 Jam di Cirata, Antara Limpahan Rejeki dan Sakit yg Menanti
Istilah Ngaliwet di kalangan masyarakat Sunda, agaknya sudah biasa. Tapi bagaimana jika Ngaliwet
ini dipadukan dengan bakar ikan air tawar yang dipancing atau dijaring
sendiri dari laut? Terlebih dinikmati bersama keluarga, saat siluet
mentari memberi tanda senja hendak tiba. Moment ini kian asyik karena
ditemani panorama hamparan laut yang menyudut Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat. Tempat ini cocok untuk Anda yang memang hobi berekreasi, atau sekedar melepas penat saat melintas dalam perjalanan jauh.
—-
Ialah laut pembudidayaan ikan air tawar: Cirata. Perairan yang cantik dan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar ini dapat Anda temui di Cipeundeuy,
Bandung Barat. Perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam dari pusat
kota Bandung, dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Namun Anda
perlu berhati-hati selepas Tol, karena banyak jalan berbatu kerikil yang
cukup ngeri untuk dilalui.
Label:
Sundanesse
Lokasi:
Bandung, Indonesia
Sunday, 2 September 2012
Haflah Akhir Sanah dan Perpisahan Mahasiswa Indonesia Al Ahgaff di Mukalla.
Malam Ahad ( 1/09/ 2012) tepat setelah Isya pukul 20.00 WY
digelar acara rutin Mahasiswa Universitas Al Ahgaff Indonesia Tingkat
Pertama yang bertempat di Sutuh Sakan Basalamah, Asrama Mahasiswa
Indonesia di kota Mukalla. Runtutan acara berjalan mengikuti arah bicara
Master of Ceremony yang dibawakan oleh sdr. Muhammad Fadlillah,
Mahasiswa Fak. Syari’ah Mustawa Awwal.
Acara yang sungguh dramatis dan harmonis ini bertajuk tentang “
Akhirus Sanah wal Wada’”. Ya daramatis, itu karena Mahasiswa Al Ahgaff
yang akan mengenjang masa kuliah di Fakultas Syari’ah selama lima tahun (
5 mustawa), tahun pertamanya mereka ditempatkan di Kota Mukalla.
Kemudian sisa tahun berikutnya akan dihabiskan di Kota Tarim, Baldatul
Awliya’. Tahun pertama yang dilalui para mahasiswa sangat meninggalkan
banyak kesan unik dan menarik yang merupakan masa adaftasi mahasiswa baru
(mustawa awwal) dalam berjuang mengarungi lautan ilmu Negeri Yaman ini.
Dalam Acara ini, dihadiri juga oleh jajaran staff Universitas Al Ahgaff, masyayikh setempat diantaranya, DR. Shodiq Umar Maknun (Wakil Rektor Universitas Al Ahgaff), Syeikh DR. Fuad Abdul Karim (Qodhi Kota Mukalla), Syeikh Ba’syan, Syeikh Zain Al Jufri dan juga Asatidz baik dari Negara Yaman sendiri maupun Asatidzah Indonesia. Namun Sayangnya acara monumental ini tidak sempat dihadiri oleh Sang Murabby Ruh Utama Ahgaff, yaitu beliau Syeikh Sayyid Prof. DR. Abdullah Muhammad Baharun, MA.
Walau Demikian, Dalam sambutan yang diwakili oleh DR. Shodiq Maknun sebagai Wakil Rektor, mampu mengisi kegundahan para hadirin, khususnya Mahasiswa Al Ahgaff Indonesia yang senantianya menanti-nanti kedatangannya guna bermuwajahah di sakan kebanggaan mahasiswa Indonesia.
Sambutan pertama sebagai perwakilan panitia penyelenggara acara, turut berbicara Ustadz Kehormatan kita, DR. Muhammad Najib, MA. Beliau disamping sebagai salah satu staff pengajar dari Indonesia yang berkedudukan juga sebagai wakil dekan fakultas syari’ah Universitas Al Ahgaff yang bertempat di kota Mukalla. Dalam awal sambutannya, beliau hanya berpesan kepada para mahasiswa mustawa awwal yang dalam waktu dekat akan diberangkatkan ke kota Tarim. Pesan beliau sangat singkat, namun padat isi dan kaya nasihat. “ Waktu tidak bisa kembali lagi, jangalah kalian menyia-nyiakan waktu yang ada, karena posisi Kalian sebagai tholibul ‘ilm, maka waktu kalian adalah untuk ‘ilmu’ “ . Beliau juga menyampaikan hal yang perlu diperhatikan ketika sudah di Tarim nanti. Sesuai yang pernah beliau dapati dari Syeikh Ali Ba’udhon, Mufti Tarim, yaitu untuk tidak sering-sering mengikuti maulid yang banyak diadakan di kota Tarim, namun cukuplah sesekali dalam seminggu, itu agar mengefektifkan waktu untuk konsentrasi belajar karena itulah tugas utama penuntut ilmu.
Kemudian acara disusul dengan mau’idzoh hasanah dari Syaikh Ba’syan. Sebagai salah satu syeikh yang dihormati dan dituakan, beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu di Yaman berbeda dengan menuntut ilmu di tempat lain. Karena di Yaman, penuntut ilmu berbondong-bondong datang bukan hanya untuk menuntut ilmu, akan tetapi juga untuk tazkiyatun nufus (pembersihan hati nurani). Beliau juga memberikan nasihat tentang indahnya kehidupan di kota Tarim. Sikap utama yang harus dipegang teguh dan diindahkan oleh para penuntut ilmu di Tarim ada tiga hal yang merupakan keistimewaan kota Tarim dibandingkan kota lainnya. Tiga hal itu ialah; “ Al Adab , At Tawaadhu’, dan Al Ihtiram “. Sikap-sikap itulah yang patut dilestarikan ; sikap sopan santun, rendah hati dan sikap menghormati.
Acarapun berlangsung hingga larut dan diselingi dengan pemberian Syahadatut Takrim kepada pihak-pihak yang terkait hubungan kerja sama dengan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) yang disampaikan oleh Ketua AMI 2011-2012 Cabang Mukalla, Habib Syukri Mudhij. Kemudian acara ditutup dengan do’a dan diakhiri dengan ‘asya (makan malam) bersama. Seperti biasa, setelah runtutan acara berakhir, saatnya berdendang dan bersyai’r bersama Irama musik marawis dan tarian zafin. Acara terkenang menarik dan berkesan, menorehkan a sweet memorian in Mukalla. Arman-red.
Dalam Acara ini, dihadiri juga oleh jajaran staff Universitas Al Ahgaff, masyayikh setempat diantaranya, DR. Shodiq Umar Maknun (Wakil Rektor Universitas Al Ahgaff), Syeikh DR. Fuad Abdul Karim (Qodhi Kota Mukalla), Syeikh Ba’syan, Syeikh Zain Al Jufri dan juga Asatidz baik dari Negara Yaman sendiri maupun Asatidzah Indonesia. Namun Sayangnya acara monumental ini tidak sempat dihadiri oleh Sang Murabby Ruh Utama Ahgaff, yaitu beliau Syeikh Sayyid Prof. DR. Abdullah Muhammad Baharun, MA.
Walau Demikian, Dalam sambutan yang diwakili oleh DR. Shodiq Maknun sebagai Wakil Rektor, mampu mengisi kegundahan para hadirin, khususnya Mahasiswa Al Ahgaff Indonesia yang senantianya menanti-nanti kedatangannya guna bermuwajahah di sakan kebanggaan mahasiswa Indonesia.
Sambutan pertama sebagai perwakilan panitia penyelenggara acara, turut berbicara Ustadz Kehormatan kita, DR. Muhammad Najib, MA. Beliau disamping sebagai salah satu staff pengajar dari Indonesia yang berkedudukan juga sebagai wakil dekan fakultas syari’ah Universitas Al Ahgaff yang bertempat di kota Mukalla. Dalam awal sambutannya, beliau hanya berpesan kepada para mahasiswa mustawa awwal yang dalam waktu dekat akan diberangkatkan ke kota Tarim. Pesan beliau sangat singkat, namun padat isi dan kaya nasihat. “ Waktu tidak bisa kembali lagi, jangalah kalian menyia-nyiakan waktu yang ada, karena posisi Kalian sebagai tholibul ‘ilm, maka waktu kalian adalah untuk ‘ilmu’ “ . Beliau juga menyampaikan hal yang perlu diperhatikan ketika sudah di Tarim nanti. Sesuai yang pernah beliau dapati dari Syeikh Ali Ba’udhon, Mufti Tarim, yaitu untuk tidak sering-sering mengikuti maulid yang banyak diadakan di kota Tarim, namun cukuplah sesekali dalam seminggu, itu agar mengefektifkan waktu untuk konsentrasi belajar karena itulah tugas utama penuntut ilmu.
Kemudian acara disusul dengan mau’idzoh hasanah dari Syaikh Ba’syan. Sebagai salah satu syeikh yang dihormati dan dituakan, beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu di Yaman berbeda dengan menuntut ilmu di tempat lain. Karena di Yaman, penuntut ilmu berbondong-bondong datang bukan hanya untuk menuntut ilmu, akan tetapi juga untuk tazkiyatun nufus (pembersihan hati nurani). Beliau juga memberikan nasihat tentang indahnya kehidupan di kota Tarim. Sikap utama yang harus dipegang teguh dan diindahkan oleh para penuntut ilmu di Tarim ada tiga hal yang merupakan keistimewaan kota Tarim dibandingkan kota lainnya. Tiga hal itu ialah; “ Al Adab , At Tawaadhu’, dan Al Ihtiram “. Sikap-sikap itulah yang patut dilestarikan ; sikap sopan santun, rendah hati dan sikap menghormati.
Acarapun berlangsung hingga larut dan diselingi dengan pemberian Syahadatut Takrim kepada pihak-pihak yang terkait hubungan kerja sama dengan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) yang disampaikan oleh Ketua AMI 2011-2012 Cabang Mukalla, Habib Syukri Mudhij. Kemudian acara ditutup dengan do’a dan diakhiri dengan ‘asya (makan malam) bersama. Seperti biasa, setelah runtutan acara berakhir, saatnya berdendang dan bersyai’r bersama Irama musik marawis dan tarian zafin. Acara terkenang menarik dan berkesan, menorehkan a sweet memorian in Mukalla. Arman-red.
Tuesday, 12 June 2012
Do'a Untuk Bidadari
Di sebuah auditorium kampus, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru
tua, tampak rapi dengan mengenakan peci hitam tertancap di kepala.
Dengan wajah tampannya, Ia tebarkan senyuman pagi cerah, siap akan
menyampaikan kuliah di hari pertamanya menjadi dosen. Kegagahan beliau
memancarkan pesona kekaguman semua pelajar di dalam ruangan. Tak heran
seorang mahasiswi berkerudung kuning penasaran bertanya kepadanya, “
Pak, kalau boleh tahu, apakah bapak sudah
berkeluarga?”, perempuan itu agak malu rupanya bertanya demikian. Namun
dengan bijaknya sang dosen tersenyum dan menjawab, “ hhhmmm,,, mungkin
saya jawab dengan sebuah cerita…”. Semua orang terkesima penasaran ingin
mendengarkan cerita pak dosen, suasanapun menjadi hening, semua telinga
terpusat, pak dosen perlahan bercerita.
“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani mengatakan isi hatinya.
Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya, Fawwaz dipanggil oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri yang akan melanjutkan kuliah ke Yaman. Orang tuanya dengan ta’dzimnya menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak menyangka.
Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah kepulangan Fawwaz dari Yaman. Senyum wajah Nurul memancar, dengan anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.
Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri Ratu Balqis atau dikenal dahulu dengan sebutan Negeri Saba’. Sebelum berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “ wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti, ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku, aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda bimbinganmu wahai kekasihkku…”
Sesampainya di Yaman, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh. Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti dauroh-dauuroh yang diadakan oleh kalangan thalabah dengan para masyayikh.
Di tengah kesibukannya, sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke pinggiran sungai kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadromaut, Yaman, menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia, sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Mukalla, membayangkan bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan kuliahnya dengan predikat syaraf ula / cumlaude, Ia berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan nadzom-nadzom penting yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad, dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar semangat dan cita-cita.
Setelah kepulangannya dari Yaman, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia, akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya, tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz dan Nurul, Pak? “
Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia masih diberi ketabahan. Iapun berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke dalam surga-Nya, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak. Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke Yaman melanjutkan master sampai doktoral, kemudian kembalilah Fawwaz ke Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H. Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.
“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani mengatakan isi hatinya.
Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya, Fawwaz dipanggil oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri yang akan melanjutkan kuliah ke Yaman. Orang tuanya dengan ta’dzimnya menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak menyangka.
Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah kepulangan Fawwaz dari Yaman. Senyum wajah Nurul memancar, dengan anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.
Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri Ratu Balqis atau dikenal dahulu dengan sebutan Negeri Saba’. Sebelum berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “ wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti, ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku, aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda bimbinganmu wahai kekasihkku…”
Sesampainya di Yaman, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh. Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti dauroh-dauuroh yang diadakan oleh kalangan thalabah dengan para masyayikh.
Di tengah kesibukannya, sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke pinggiran sungai kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadromaut, Yaman, menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia, sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Mukalla, membayangkan bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
“ asirbal qithoo, hal man yu’iiru janaahahu #
la’alli ila man qod hawaitu athiiruu “
“Wahai segerombolan merpati,,,apakah diantara kalian
ada yang berkenan meminjamkan sayapnya # sehingga aku bisa terbang
menuju orang yang sangat ku cinta” .
Nurul yang merupakan santriwati
tahfidz terbaik, seringkali mengirim surat lewat pos untuk Fawwaz, dalam
suratnya Nurul memberi tahu bahwa ia sudah menyelesaikan hafalan Al
Qur’an lebih cepat, Ia juga memohon izin untuk mengabdi sambil mengikuti
kuliah keguruan di Instutut yang ada di pesantrennya. Nurul memang
perempuan yang sangat sholehah, Ia sering memberi nasihat dan motivasi
agar Fawwaz senantiasa tekun ibadah, kuliah dengan rajin, sehingga
mendapat ilmu yang berkah dan manfa’at. Setelah membacanya, Fawwaz
seolah mendapat energi dan semangat baru. Kata-kata Nurul membuat gelora
jiwanya meningkat. Ia bertekad harus menjadi yang terbaik, karena ia
akan menjadi Imam dari bidadari jelitanya.Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan kuliahnya dengan predikat syaraf ula / cumlaude, Ia berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan nadzom-nadzom penting yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad, dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar semangat dan cita-cita.
Setelah kepulangannya dari Yaman, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia, akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya, tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz dan Nurul, Pak? “
Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia masih diberi ketabahan. Iapun berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke dalam surga-Nya, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak. Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke Yaman melanjutkan master sampai doktoral, kemudian kembalilah Fawwaz ke Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H. Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.
-Mukalla, Juni 2012-
*****
Inilah Ceritaku
Label:
Cerpen
Lokasi:
Mukalla, Al Mukalla, Yemen
Monday, 15 August 2011
Kilas Tentang Alumni PP. Al Hikmah di Negri Yaman
Oleh:
Abdul Rahman Malik
Teringat akan kenangan masa-masa di Pesantren dahulu, terlintas
rasa rindu bahagia akan Al Hikmah yang kami tinggalkan untuk Pengembaraan Ilmu
selanjutnya di Negri Saba atau Negri Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis, Yaman.
Sebagai wujud bahagia dan terimakasih kami kepada Al Hikmah yang telah
berjasa dalam mendidik dan membekali kami dengan berbagai kajian-kajian ilmu baik ruhiyah ataupun pembangun personal
characters, kami mewakili segenap Rekan-rekan mahasiswa Al Ahgaff dan mahasiswa lain di negri Yaman sedikit ingin
berbagi cerita dan pengalaman kepada El Waha, Majalahnya santri Al Hikmah….
Kelebihan Study di Negri Yaman
Secara garis
besar, Negri Yaman merupakan salah satu
tempat tujuan pelajar Indonesia untuk belajar ilmu agama (Syari’at islam ), salah
satu alasannya, hal itu karena Yaman sampai saat ini masih teguh mengedepankan
ajaran islam bermadzhab syafi’I dan tradisi budaya islam belum luntur termakan
kemajuan zaman.
Disamping itu
juga, Yaman terkenal juga sebagai negri para wali dan habaib yang sampai
sekarang masih banyak terdapat awliyaullah dan habaib baik yang telah wafat
ataupun yang masih hidup dan berperan aktif dalam dunia keilmuan di Yaman. Karena
itu, belajar di Yaman bisa juga sebagai ajang Tabarukkan (Ngalap
berkah-jawa) kepada para wali, habaib, dan ulama yang ada disana. Terlebih
lagi, Yaman adalah Negri asal dimana walisongo, sang penyebar islam di Nusantara
Indonesia, yang kotanya sangat terkenal sekali yaitu Hadromaut. Dari situlah,
kamipun menjadikan Yaman sebagai objek study yang sesuai dengan budaya Negara
kita, Indonesia yang mayoritas Syafi’iyyah.
Sebetulnya,
banyak sekali tempat belajar di Yaman yang masih eksis dalam penyebaran dan
pengembangan ilmu agama islam khususnya di kawasan Hadromaut,Yaman Selatan,
diantaranya Darul Musthofa (Habib Umar bin Hafidz), Universitas Al Ahgaff(Prof.
Dr. Habib Abdullah Baharun), Ribath Tarim (Habib Salim As Syathiry), Ribath Al
Athos, Ribath Ar Royyan, dan lainnya. Namun kami lebih memilih Universitas Al
Ahgaff sebagai objek Thalabul Ilmi yang sesuai, karena system kajian
yang bersifat Perkuliahan dan non biaya (Beasiswa).
Alumni Al Hikmah di Yaman.
![]() | |
| Maqbaroh al Imam al Habib Ahmad bin Muhsin al Haddar |
Sampai tahun
ajaran 2011-2012 Mahasiswa/i Universitas Al Ahgaff asal PP. Al Hikmah-
Bumiayu terhitung ada 18 putra dan 5 putri.
Karena Universitas Al Ahgaff hanya membuka beasiswa untuk Fakultas Dirasat
Islamiyah dan Fakultas Syari'ah wal Qonun, maka kesemuanya termasuk kedalam dua
Fakultas tersebut yang dikhususkan Fakultas Dirasat Islamiyah untuk Putri dan
Fakultas Syari'ah wal Qonun khusus untuk Putra.
Kamipun dari
segi lokasi perkuliahan dibedakan, untuk putri sendiri (di Kota Mukalla, Ibu
kota Provisi Hadromaut) . Sedangkan untuk putra sendiri dibagi menjadi dua tempat, yaitu
untuk mustawa awwal (tingkat Pertama) bertempat di Kota Mukalla, dan mustawa
tsani sampai seterusnya ditempatkan di Kota Tarim.
Pengalaman Liburan Pasca Ujian
Sedikit bercerita tentang Alumni Al Hikmah di Yaman, khususnya kami yang merupakan Mahasiswa Al Ahgaff Mustawa awwal di Mukalla.
Kami bertujuh (Abdul Rahman Malik/MAK, Thohirin/MAK, Zuhrul Anam/MMA, M. Rifqi Ridho/MMA, Khoerus Sholeh/MMA, Saefuddin Ahsan/MMA, dan Abdul Qodir/PTQ) adalah angkatan mahasiswa baru tahun ajaran 2011-2012. Kami menjalani perkuliahan di kota Mukalla, Ibu kota Provinsi Hadromaut, Yaman Selatan. Berbeda dengan kakak-Kakak angkatan kami, semuanya bertempat di Kota Tarim, Kota Pusat Pendidikan dan Peradaban Islam di Yaman.
Sedikit bercerita tentang Alumni Al Hikmah di Yaman, khususnya kami yang merupakan Mahasiswa Al Ahgaff Mustawa awwal di Mukalla.
Kami bertujuh (Abdul Rahman Malik/MAK, Thohirin/MAK, Zuhrul Anam/MMA, M. Rifqi Ridho/MMA, Khoerus Sholeh/MMA, Saefuddin Ahsan/MMA, dan Abdul Qodir/PTQ) adalah angkatan mahasiswa baru tahun ajaran 2011-2012. Kami menjalani perkuliahan di kota Mukalla, Ibu kota Provinsi Hadromaut, Yaman Selatan. Berbeda dengan kakak-Kakak angkatan kami, semuanya bertempat di Kota Tarim, Kota Pusat Pendidikan dan Peradaban Islam di Yaman.
Karena Yaman terkenal dengan negri para wali dan habaib, sudah
tentu dan hal yang patut bagi kami untuk tidak melupakan jasa-jasa mereka dengan mendo'akan dan berziyaroh ke Maqbarohnya.
Setelah Ujian
berakhir, kami bertujuh menyusun acara " Refreshing Ala Al Hikmah di
Yaman", yaitu dengan agenda ziyaroh ke maqom wali dan jalan-jalan
mengelilingi kota Mukalla. Habis dzuhur teng, kami kompoi
dengan memakai kostum ala santri dan menuju mukalla dengan bus mini jurusan
Syirij,Mukalla. Sesampainya disana, kami shalat ashar dahulu di Mesjid Bazar'a,
tepat disamping Maqom Waliyullah al Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar.
Runtutan acara tahlil kami gelar di dalam qubbah maqbaroh beliau,
dengan khidmat acara diatur oleh Kang Maman, pembacaan tahlil dipimpin Kang
Ridho dan terakhir do'a dibacakan Kang Thohirin. Ziyaroh dengan niat tasyakkur
setelah melewati Ujian serasa membawakan ketenangan di jiwa, terlebih pancaran keberkahaan terpantul
dari indahnya kebersamaan dalam memanjatkan do'a.
Setelah itu, kami berjalan menusuri Pantai mukalla, bersama ayunan
angin di sore hari dan keramaian kota mukalla, membawa keceriaan dan
kebahagiaan bagi kami bertujuh. Dan saat malam, kami bersama makan malam di
Restaurant Ekonomis mengakhiri kesenangan dalam kebersamaan kami.
Liburan bersama-sama santri al hikmah serasa hidup bersama tempo
dahulu di pesantren Al Hikmah, namun bedanya kami berada di nuansa dunia yang jauh
berbeda dengan di Indonesia, Negri Yaman. Syukron.
Friday, 12 August 2011
Dynamics of Islamic Dormitory Education in Globalization Era
I.
BACKGROUND
In Indonesia,
Islamic Education was crusaded by The Islamic Dormitory. Islamic Dormitory
develops Islamic education system which is proven as a render service in making
the educated nations and religious society.
Islamic Dormitory
Education has started from the basic of Islamic Education bought by Salafy Generation1
who is still present until now. They are people who received Islamic
knowledge from the messenger era ( Muhammad SAW ), then tabi’in and tabi’it tabi’in era2.
They studied many kinds of knowledge by simple method and classic way by face to face or listening each other3.
The messenger’s friends4
got the knowledge from the messenger by discussion untill they understood everythings
the messenger tought as the great teacher of islam. They studied without
difficulty because everything was originally from the messenger, then they also
studied without any facilities, They directly memorized what they got from the
messenger and the method of study was implemented gradually, or step by step.
So, the messenger’s friends mastered in knowledge that the messenger told.
Together with the
rhythm of time, The progress of science and knowledge have increased, the
method of delivering science and knowledge
developed more too. It is with the new way and modern technology.
Raising multimedia
system as one of technology development
in this era makes the method and the way of learning be different than
before. This development era named by modernization or globalization era.
Islamic dormitory as
the centre of islamic science and knowledge development must change and
progress from the last education system namely Salafy to Modern system
because of the rhytm of time and era.
Therefore, islamic dormitory
needed in this modern era has to follow the rhytm of era until it’s existence
in developing education and keeping on the great traditions that brought by
last scholar of islam will still be continuous.
This paper will explain
the dynamics of islamic dormitory education that grows and develops from salafy
generation untill now era. So we can know the progress of islamic dormitory education according to
technology development and information with kinds of modern means and infrastructures nowdays.
In the fact of nowdays there
are many islamic dormitories only apply the modern education system, and leave
salafy system, meanwhile many islamic dormitories also just apply classic
education system and don’t take care the progress of era and technology
development and information.
The facts above happened
in society. It causes the raising of defference and comparison between those two
systems of islamic dormitory above and makes the development system of islamic dormitory
various and diverse. Because of that, We would like to make this paper to try
elaborating this fact in most of islamic dormitories in Indonesia in order we
know the dynamics of islamic dormitory education in this era especially with
differences between modern and salafy
education system.
II.
PROBLEMS
Islamic
dormitory has passed some steps of era. Certainly, It experienced some changes
and developments.
This
era that can be named by modern era, Islamic dormitory still keeps on the
existence and traditions until it can be the pioneer of islam proselytization
and the centre of learning islamic knowledge for either youngth or old society.
Therefore,
the system of islamic dormitory education is an important thing will not released
from islamic dormitory roles. But, according to the dynamics of islamic dormitory
between salafy and modern apply their system and method must be different so
long. So it raises the question, Which system of islamic dormitory education
that is suitable to be applied in this modern and globalization era with the
fact of dynamics of islamic dormitory education nowdays ?
III.
CONTENTS
Actually,
the origin of islamic dormitory lineage
had raised since the messenger of god, Muhammad era (Peace be upon him).
Then it developed more and better following the rhytm of the time. All science
and culture of Islam began from a place that named by islamic cultures centre,
Mecca. Which the prophet, Muhammad SAW was born there and islamic knowledge
also grew and developed over there. Then islam was spreaded to all corners of
world until came to Indonesia as long as time passed. Lastly, Indonesia could
receive Islam which brought by Walisongo with the ways that connected to
Indonesian’s traditional culture at last
time ago.
Walisongo
lived in Indonesia for long years and spreaded Islam religion excellently until
they death in Indonesia land. During they lived in Indonesia, they created and
foundated the islamic dormitory that become the centre of learning knowledge.
Some inharitences could be evidence such as Kudus mosque ( Al Aqsho ), Demak
mosque, and Keraton of Cirebon.
In
opinion of Zamakhsyari Dhofier5, Islamic
dormitory had been present since 1630 M, If it was accounted, it was a long
time which reached 370 years. At the first time of islamic dormitory
establishment, it was very simple and classic. The programme was delivered by a
teacher ( Kyai6
) in then mosque and attended by some students ( santri7
) or society and the study was always done after Shalat8
every day.
At
Next day, not only the society who followed
learning programme but also the people from the several regions coming
to study with kyai. Therefore, the shack was foundated for their place when
they studied, especially for the students from out region. Then, it developed
from the shack became islamic dormitory as now present.
Islamic dormitory as an
islamic educational institution built on unique traditions and special characteristics,
can not be found in the other educational institutions in Indonesia. Some
unique traditions of islamic dormitory are giving traditional learning such as halaqah system, wetonan, bandongan, and sorogan recitation9. Then,
the mind characteristic of these unique traditional learnings is the way of
giving the learning that pressed on a classic book and last method, it’s named
by Harfiyah10. Because of
that, islamic dormitory has traditional characteristic and classical
curriculum, it is not based into subject unit and independent especially.
Here are some superiorities of traditional
concepts that applied by islamic dormitory according to Abdurrahman Wahid in
his book “ Moving the traditions” that written as collecting of education
thinking story, especially islamic dormitory education.
- Capability of creating a universal life attitude that is smooth.
This
concept shows that a student of islamic dormitory can do everything himself without
dependence on the society institution everywhere.
- Capability of taking care the sub culture its self
Because,
islamic scholars are the informal leaders in society culture and they admit
that ideal roles of islamic dormitory sub culture in nation life are case
of islamic scholars.
Based on the concepts above, Actually islamic
dormitory doesn’t release from its traditions, because they are characteristics of islamic
dormitory.11
Untill Now, There are
still many islamic dormitories keep on the traditional system and method which is
suitable with concepts above. For example, Tegalrejo islamic dormitory in
Magelang. All of curriculum learning in that Islamic dormitory are delivered
during seven years with traditional and classic system. Its special characteristics
are traditional education system given based on informal curriculum and only
use islamic dormitory curriculum. It is an example of salaf islamic dormitory
that is still exist until now.
Facing this era, Islamic
dormitory as one of islamic institution has the important role in society life
and learning of the nations with various systems and diverse methods and
curriculum. Untill this era, it passed dynamics that is not constant because of
islamic dormitory difference in ways of
behaving this era. The dynamics of islamic dormitory is really
significant for all islamic dormitory, specially in Indonesia because Indonesia
has hundreds of islamic dormitory spreaded in all corners of cities or villages
in Indonesia.
We
have to release that era always moves and changes. As the fact of nowdays, globalization
and modernization are effects of the era development and facts that can’t be
refused. Firstly, globalization and modernization came by economy stripe then
spread to politics and culture stripe. Finally, it became the phenomenon that
can’t be denied12.
So, the technology development, ease
information, and education system grown effect the ways of education and
learning, especially in islamic dormitory in now era. One of the effects is
raising of modern islamic dormitory that
based on modern education system.
For
example of modern Islamic dormitory is Darussalam Gontor located on Ponorogo,
East Java. It is one of the biggest modern islamic dormitory in Indonesia and
has been famous in society circle, especially Java sociaty. All of modern
facilities are available and completed. System and method of education use the
modern ways and leave the classic ways. Then, Darussalam also grows following
knowledge and technology increasment.
There
are shape of islamic dormitory defference in ways of facing this era. We can
conclude that islamic dormitory passed dynamics from the classic to the modern.
But, actually we have to know what is islamic
dormitory dynamics .So we’d like to
explain the meaning of the dynamics.
In the basis, The dynamics
includes two processes; conservating again the positive things that had been
there and changing things by the better things.
“
Al muhafadzotu ‘alal qodim as sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah” ( the
general principle of Islam)
Meanwhile , the word of dynamics here
has the connotation that is the change into more perfect condition with using
life attitude and tools that had been there and become the basic.13
According
to the concept above, we conlude that islamic dormitory has to apply these two
processes at all in order to be able to experience the dinamics factually.
Therefore, Islamic dormitory should also
apply the traditional and classic system, named by salafy system that is suitable
and significant for the Islamic Dormitory curriculum. Because, salafy system is
the islamic scholars’ inheritance last time and has to be kept on as a evidence
of honorability to them whom had brought islamic knowledge. Example of that is
application of memorizing al Qur’an and hadits programme, learning classic book
with Java or Sundanesse meanings, discussion, roan14, takror15, etc.
Islamic
dormitory also should take and change everything that’s estimated less usefull
into better things and more significant as rhythm of era and technology grown
that all things have to be more practiced and easier. Like helding the
infrastructures and the features that facilitate education system and method,
so it makes the students comfortable and focus in following all programe that
hold by Islamic Dormitory. For example, helding the library, the condusive
classes, the skill development classes, the sports field, the Internet, etc.
One of islamic dormitory
in Indonesia that can be the example is Al Hikmah islamic dormitory located in
Brebes, Central Java. Al Hikmah has many facilitation and infrastructure
support running learning programme and daily activities of all students. Beside
Al Hikmah applies modern system of learning like multimedia system education
and skill development with specification programme like Computer, English
course, welding, fishery, design clothing, Al Hikmah also practices the salafy method
like reciting classic book with Java meanings in every subjects tought by kyai
or teachers (ustadz/ustadzah), discussion, memorizing al Qur’an, hadith,
several classic book like aqidatul awwam,
tuhfatul athfal, imrity, alfiyah, etc.
This proves that the islamic
dormitory that’s suitable with dynamics of era is that can still apply the
salafy method that’s excellent and exist to be performed on islamic dormitory
nowdays and can be collaborated with the modern method that’s significant and
helpful in learning islam education easier and more comfortable. So, it can result
the best islamic dormitory needed by society and nations in this era.
CONCLUSION
The
dynamics is an effort to keep on and conservate constantly the good and
positive things that had been there at last time and to take and change somethings
with the better things. It’s actually taken from the general principle of Islam
that said “ Al muhafadzotu ‘alal qodim as
sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah”.
So, the dynamics includes two processes;
conservating again the positive things that had been there and changing things
by the better things.
Meanwhile , the word of dynamics here
has the connotation that is the change into more perfect condition with using
life attitude and tools that had been there and become the basic.16
Before,
those two process will be collaborated,
we strengthen firstly that salafy is a system education brought by the last islamic
scholars in classic era, it haven’t been completed by the sophisticated tools
and facilitations, so it is characrerized anciently.
But, salafy system is the enheritance of
messenger learning that hasn’t contaminated by the modernization.
Whereas
the modern system is the new way of education that follows the rhytme of time
and era, it is also effected by the technology grown and science depelopment.
Actually, Modern system is more
important in order to Islamic students don’t be misstomorrow .
Therefore,
from that we can conclude that the suitable education of Islamic dormitory
should be applied in this glaobalization era is the education system and method
which can use and combine the salafy education system that named by inheritance
of the last islam scholar and the modern education system that follows era
development and condition grown. So, Islamic dormitory should apply those two
systems and collect it into the new system that suitable for this era.
SUGGESTION
After
we know the urgency of islamic dormitory education system, we purpose to
increase the quality and quantity of islamic dormitory which can launch the
great islamic students. With happy feeling, we’d like to give some suggestion
to government firstly in order to give more attention to the islamic dormitory
in every corners in Indonesia and don’t compare every islamic dormitory based
on the leader, but they have to be comprehensive in behave all islamic
dormitories. So, every islamic dormitory can prepare the moslem generation more
perspective in islam knowledge and general science.
Then,
the next suggestion is for all elements and departments of islamic dormitory,
they should be more active in
efectivating all programmes that have been there and exploiting it to be more
usefull. So, it can be created the education system of Islamic dormitory following the dynamics in this era.
We
hope what we writted in this paper can be
usefull for all of readers especially the sides that take part in
increasing and developing islamic dormitory in Indonesia, so that, islam can be
the pilar of religion in the world beause of islamic dormitory roles.
BIBLIOGRAPHY
Abi
Bakr bin Muhammad, Taqiyyudin.Kifayatul
Akhyar.Surabaya:Darul ‘Abidin.
At
Thohani, Mahmud, Dr.1985. Mushtolahul
Ahadits.Kuwait:Haromain.
Ibrahim,
Burhanuddin, Al Laqqoni Al Maliki.2006.Jauharu
at Tauhid foto copy.Brebes: PP. Al Hikmah 2 Benda
Kamus
Munjid.1973. Edisi 21.Beyrut: Darul Masyriq.
Majalah
Elwaha.Edisi IV.2010.Artikel:Pesantren
Pusat Kajian yang Tiada Habisnya.
Suharso,
Drs. & Dra. Ana Retnoningsih.2005.Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi Lux.Semarang:Widya
Karya.
Ulumul
Hadits DEPAG RI.1998/1999. Kelas III Madrasah Aliyah.
Wahid,
Abdurrahman.2007.Menggerakan tradisi.Yogyakarta:
LKIS Yogyakarta.
Zaqzuq,
Mahmud Hamdi.2004. Reposisi Islam di Era
Globalisasi.Yogyakarta.LKIS Pelangi Aksara.
1 Salafy Generation was the best generation of
moslems who were from the messenger’s friends, tabi’in and tabi’it tabi’in. whichever
they got the source of Islam knowledge
continually and consectivelly from the messenger by the classic ways and
methods. (K.H. Mukhlas Hasyim, MA.’s [1]explanation
with Jauharut Tauhid classic book,
Page 14)
Tabi’it tabi’in is an expression for a person
ever met Tabi’in faithfully to the prophet Muhammad SAW and death in Islam
religion.( Hadith Science book of 3rd Grade MAK, page 22)
3 Face to face is a method of hadits receivment
that is used by islam scholar last upon time. It includes of Listening each
other, Reading, Submitting of Hadith ( as Sima’, al Qiro’ah, al Munawalah, etc)
(Musthotahul Hadits classic book, Page 158-164 about The ways of Hadits
Receivment ).
4
The messenger’s friends are every moslems
ever saw The Messenger Muhammad SAW (Hadith Science book of 3rd
Grade MAK, page 20)
5 Zamakhsyari
Dhofier, an
expert who concentrates on islamic dormitory learning ( El Waha magazine the 4th
edition 2010, page 4 )
6 Kyai,
a name for a
islam scholar or a leader of islamic dormitory ( Indonesia Big Dictionary, Lux
Edition, page 251 )
7
Santri,
a name for a
person who deepen islamic knowledge or a devout person seriously or a good
person.
8 Shalat,as etimology is a praying.
as terminology is an expression of sayings and actions begun by takbir and finished by salam (Kifayatul Akhyar classic book, about
Shalat chapter, page 77)
9 Halaqoh system is a system of education
in shape of seats like cyrcle which a Kyai teaches in middle of the students’
cyrcle.( Munjid Dictionary, page 149)
Sorogan, is a learning or recitation method
which the students read the classic book to the teacher one by one in order to be more detail and more specific in learning.
Bandongan is a learning or recitation method
in shape of class
Wetonan
is a learning or
recitation method based on the days of Jawa (like pahing, kliwon, wage, pon,
legi) (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 73 & 639 )
10 Harfiyah : translation or meanings according to words, word by
word, based on lexical meaning, based on sentence context. (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page
165 )
11 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “
Moving the traditions” second edition, april 2007 page 73.
12 Mahmud Hamdi Zaqzuq, “ Islam
Reposition in Globalization Era”, First Edition, September 2004, page 4.
13
Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions”, second edition, April 2007.
Page 53.
14
Roan is a programme of cooperation on
cleaning or building everything together
in islamic dormitory .
15
Takror is a programme of repeating the lessons together
16 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “
Moving the traditions”, second edition, April 2007. Page 53.
Subscribe to:
Comments (Atom)



