Di sebuah auditorium kampus, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru
tua, tampak rapi dengan mengenakan peci hitam tertancap di kepala.
Dengan wajah tampannya, Ia tebarkan senyuman pagi cerah, siap akan
menyampaikan kuliah di hari pertamanya menjadi dosen. Kegagahan beliau
memancarkan pesona kekaguman semua pelajar di dalam ruangan. Tak heran
seorang mahasiswi berkerudung kuning penasaran bertanya kepadanya, “
Pak, kalau boleh tahu, apakah bapak sudah
berkeluarga?”, perempuan itu agak malu rupanya bertanya demikian. Namun
dengan bijaknya sang dosen tersenyum dan menjawab, “ hhhmmm,,, mungkin
saya jawab dengan sebuah cerita…”. Semua orang terkesima penasaran ingin
mendengarkan cerita pak dosen, suasanapun menjadi hening, semua telinga
terpusat, pak dosen perlahan bercerita.
“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah
pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi
pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di
dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering
memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan
mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia
terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah
perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya
membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya
telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani
mengatakan isi hatinya.
Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya, Fawwaz dipanggil
oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang
dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke
dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa
Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul
Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang
tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri
yang akan melanjutkan kuliah ke Yaman. Orang tuanya dengan ta’dzimnya
menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun
menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk
mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak
menyangka.
Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang
dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua
sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning
ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah
kepulangan Fawwaz dari Yaman. Senyum wajah Nurul memancar, dengan
anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.
Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya
dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri
Ratu Balqis atau dikenal dahulu dengan sebutan Negeri Saba’. Sebelum
berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “
wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta
ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti,
ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani
hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul
memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku,
aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa
iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan
bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda
bimbinganmu wahai kekasihkku…”
Sesampainya di Yaman, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan
kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh.
Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di
Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan
tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab
tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir
habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang
pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti
dauroh-dauuroh
yang diadakan oleh kalangan
thalabah dengan para
masyayikh.
Di tengah kesibukannya, sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu
kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke
pinggiran sungai kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadromaut, Yaman,
menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia,
sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Mukalla, membayangkan
bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun
sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
“ asirbal qithoo, hal man yu’iiru janaahahu #
la’alli ila man qod hawaitu athiiruu “
“Wahai segerombolan merpati,,,apakah diantara kalian
ada yang berkenan meminjamkan sayapnya # sehingga aku bisa terbang
menuju orang yang sangat ku cinta” .
Nurul yang merupakan santriwati
tahfidz terbaik, seringkali mengirim surat lewat pos untuk Fawwaz, dalam
suratnya Nurul memberi tahu bahwa ia sudah menyelesaikan hafalan Al
Qur’an lebih cepat, Ia juga memohon izin untuk mengabdi sambil mengikuti
kuliah keguruan di Instutut yang ada di pesantrennya. Nurul memang
perempuan yang sangat sholehah, Ia sering memberi nasihat dan motivasi
agar Fawwaz senantiasa tekun ibadah, kuliah dengan rajin, sehingga
mendapat ilmu yang berkah dan manfa’at. Setelah membacanya, Fawwaz
seolah mendapat energi dan semangat baru. Kata-kata Nurul membuat gelora
jiwanya meningkat. Ia bertekad harus menjadi yang terbaik, karena ia
akan menjadi Imam dari bidadari jelitanya.
Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan
kuliahnya dengan predikat
syaraf ula /
cumlaude, Ia
berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan
nadzom-nadzom penting
yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad,
dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan
pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Persatuan Pelajar
Indonesia (PPI) di Yaman. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon
pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar
semangat dan cita-cita.
Setelah kepulangannya dari Yaman, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat
meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu
bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk
digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri
acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab
fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia,
akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz
dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah
Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan
Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul
dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya,
tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir
sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang
berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga
terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada
yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz
dan Nurul, Pak? “
Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz
masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat
kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa
dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia
masih diberi ketabahan. Iapun berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke
dalam surga-Nya, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak.
Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke
Yaman melanjutkan master sampai doktoral, kemudian kembalilah Fawwaz ke
Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H.
Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.
-Mukalla, Juni 2012-
*****
Inilah Ceritaku