Follow us on FaceBook

Saturday, 16 February 2013

99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Juli 2011
Tebal : 412 halaman

Hubungan dunia Eropa dan Islam mulai memanas sejak rusuhnya berbagai kejadian dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sebut saja, pengeboman Madrid dan London, kemudian serangan teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun nabi Muhammad, semuanya menyebabkan ketegangan hubungan antara Islam dan Eropa. Islam menjadi sesuatu yang menakutkan. Sehingga peradaban Islam di daratan Eropa menjadi sesuatu yang kian lama kian disudutkan.

Yang paling menonjol adalah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Alquran, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Akibatnya, Islam terstigma dengan agama yang berkonotasi negatif dan menyebabkan kegincuan antara Islam dan dunia Eropa.

Ikhtiar untuk menghilangkan stigma demikian datang dari catatan perjalanan atas pencarian cahaya Islam di Eropa. Hanum Salsabiela Rais-Rangga Mahendra menemukan secercah cahaya perdaban Islam di Eropa yang sejatinya sejak dulu terbentang bertautan membentuk peradaban dan ilmu pengetahuan. Berbekal pengalaman selaman tiga tahun tinggal di Eropa, Hanum menemukan hal baru yang selama ini belum tersentuh oleh banyak kalangan.

Eropa dan Islam ternyata merupakan dua sejoli yang dulu pernah menjadi pasangan serasi. Eropa sesungguhnya menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Kekuatan Islam di Eropa pernah menjadi inovator dan menjaga peradaban sebagaimana masa-masa Islam berkembang di Madinah dan Mekkah. Islam pernah menebar cahaya kedamaian dan persaudaraan di samudera Eropa.

Penelusuran Hanum menemukan bahwa Islam masuk dan menyinari Spanyol selama 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama dari pada Indonesia. Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyayanginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Yang menarik, ternyata yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, Socrates, yang pada akhirnya mengantarkan Eropa pada lanskap renaisance kemajuan, tak lain adalah peradaban Islam. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol yang pernah menjadi pusat perdaban pengetahuan dunia, juga mampu membuat beberapa negara seperti Paris dan London beriri hati.

Dengan daya pikat bahasa yang lugas nan tandas, Hanum mampu menghadirkan detak gambaran  bagaimana jatuh bangun peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Buku ini lebih dari novel biasa, bukan pula buku traveling yang memandu perjalanan, lebih dari itu novel ini menghanyutkan akan unggahan pemahaman dan perilaku beragama kita selama ini. Misalnya, radikalisme agama terlanjur teridentifikasi erat dengan dunia Islam.

Karena itu, Hanum mencoba memosisikan kembali hubungan harmonis Islam dan Eropa dalam pertautan wajah kebersamaan untuk menghadirkan gemuruh cahaya peradaban Islam seperti waktu dulu. Novel ini mampu memberikan pemahaman bahwa Islam “nyata” menjadi kekuatan alternatif yang dominan bagi pembangunan bangsa dan kemanusiaan. Hanum mampu merakit rentetan mozaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu dengan anggitan penilaian obyektif.

Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang

Resensi Novel 5 cm


Info : http://www.21cineplex.com
Author : Rizal Mantovani
Star : Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor 'Saykoji', Denny Sumargo, Raline Shah
Genre : Drama
Producer : SUNIL SORAYA
Production : SORAYA RAM
Director : Rizal Mantovani
Sinopsis : 
Film ini diangkat dari novel berjudul sama 5 cm. 17 Agustus di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya.
Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sepuluh tahun lamanya. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Zafran yang puitis, sedikit "gila", apa adanya, idealis, agak narsis, dan memiliki bakat untuk menjadi orang terkenal. Riani yang merupakan gadis cerdas, cerewet, dan mempunyai ambisi untuk cita-citanya. Genta, pria yang tidak senang mementingkan dirinya sendiri sehingga memiliki jiwa pemimpin dan mampu membuat orang lain nyaman di sekitarnya. Arial, pria termacho diantara pemain lainnya, hobi berolah raga, paling taat aturan, namun paling canggung kenalan dengan wanita. Ian, dia memiliki badan yang paling subur dibandingkan teman-temannya, penggemar indomie dan bola, paling telat wisuda. Ada pula Dinda yang merupakan adik dari Arial, seorang mahasiswi cantik yang sebenarnya dicintai Zafran. Suatu hari mereka berlima merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.

Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlima pun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia. Petualangan dalam kisah ini, bukanlah petualangan yang menantang adrenalin, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak gunung. Tapi petualangan ini, juga perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan yang erat, dan hati yang mencintai negeri ini.

Segala rintangan dapat mereka hadapi, karena mereka memiliki impian. Impian yang ditaruh 5cm dari depan kening. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/5_cm)

Thursday, 3 January 2013

Bismillahirrahmanirrahim, Shallallahu 'alan Nabi...

Senandung irama shalawat bertaburkan aroma harmonis kebersamaan,
Menyatu padukan semarak kebahagiaan di jiwa,

Setelah kucuran keringat berminggu-minggu harus tertumpahkan
Segala energi dan daya ingat dikerahkan,
Kaki di kepala dan kepala di kaki demi muroj'ah ujian,
Sungguh itulah segala upaya dan perjuangan,

Semoga dengan lantunan Maulid Simthud Duror yang bersama kita bacakan,
Mengantarkan kita menuju pintu gerbang keberhasilan....
Amiin...
 di Kota Tarim,
Setelah menghadiri acara Maulid di Sakan Qohum. 11.00 KSA.

Tuesday, 20 November 2012

Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim, Yaman


Bismillahirrrahmanirrahim…

Tibanya tahun ajaran baru menjadi momentum segar dengan kedatangan alumni MAK Al Hikmah 2 baru di Negeri Saba'. Ya, itulah sebutan negara yang akrab kita kenal kini dengan Negara Yaman. Setiap tahunnya, para pencari ilmu berbondong-bondong datang demi segenggam ilmu syari'at yang menjadi tujuannya. Tak ketinggalan Alumni MAK Al Hikmah 2 Bumiayupun termasuk salah satu dari deretan lembaga pendidikan yang kerap memberangkatkan pelajarnya ke Negeri tersebut.
kiri : Khoirul Jadi, M. Fuad Mas'ud, Fathul Bary, Khoirul Amrullah, Robby Adriyanto, Tohirin, Arman Malieky
Tahun Ajaran 2012-2013 kini, Universitas Al Ahgaff, Yaman tepatnya, kedatangan 3 generasi baru MAK Al Hikmah 2, Khoirul Jadi, Robby Adrianto, dan Fathul Bari. Hadirnya mereka menambah kapasitas Alumni MAK di Yaman, yang kini menjadi 8 pelajar putra. Penambahan yang cukup signifikan, karena setiap tahunnya kisaran 1 atau 2 pelajar saja yang bisa berangkat.
Setelah tiba di kota Mukalla, Yaman (28/09/2012), mereka bertiga seperti itik kehilangan induknya. Mengikuti perkuliahan tanpa hidup bersama kakak kelas. Begitulah,,, semua kakak kelas di tingkat II sampai akhir berlokasi di kota Tarim. Jaraknya sekitar 6 jam perjalanan angkutan darat. Lantas merekapun sengaja mengisi liburan Idul Adha dengan berwisata religi ke kota Tarim, Provinsi Hadhramaut. Dengan berbekalkan izin dari staff Idaroh Universitas Al Ahgaff, Mukalla, akhirnya mereka melesat ke kota Tarim, kota yang masyhur sebagai kota wali, ilmu dan ulama.
Dua hari sebelum Idul Adha, tepat pukul 13.00 waktu setempat (KSA), mereka tiba di halaman kampus Universitas Al Ahgaff, Tarim. Semarak suka gempita menyelimuti tatkala mereka disambut Alumni MAK Al Hikmah 2 lainya. " Wahh wahh, marhaban ahlan wa sahlan, bisa jumpa lagi di Yaman, kangen nih sama kalian, adik-adikku", ungkap Thohirin, salah satu Alumni MAK Al Hikmah 2 yang duduk di Mustawa II Univesitas Al Ahgaf, Tarim.
" Iya Khi, kita-kita kesepian , masa kakak-kakaknya di Tarim, adik-adiknya merana jauh di Mukalla,,, Hehe", pungkas Jadid mewakili ketiganya.
" Ya kan sekarang sudah kumpul bareng di Tarim, yuk kita nostalgia bareng mengingat sweet memorian Al Hikmah 2, pondok kesayangan", lanjut Arman yang sama di Mustawa II.
                Liburan Idul Adha kali ini bertajuk " Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim". sengaja diberi judul demikian, karena tak lain tujuannya adalah berziarah ke makam-makam auliya dan jalan-jalan mengitari masjid-mesjid bersejarah di Kota Tarim.
                " Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,, Allahu Akbar… Laa Ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu...". Suara gema takbir meramaikan seantareo kota Tarim. pakaian serba putih dikenakan seluruh masyarakat dalam Ibadah Sholat 'Ied. Kitapun mengikuti tradisi yang ada, berpeci putih, berjubah putih, dan berkalung sorban. Sungguh, menambah kekhusyuan dan ketenangan dalam bathin. Siap menghadap Ilahi Rabb berjama'ah di Mesjid Jabanah, 1 km dari kampus Al Ahgaff.
                Lekas Shalat 'ied, kami bersalam-salaman baik sesama pelajar Indonesia ataupun masyarakat arab Tarim. " 'Ied Mubarok,,,'alaina wa 'alaikum insya allah", ucap seorang warga Tarim, yang ber'imamah putih. Seperti dari kalangan masyayikh.
                Kemudian kami berziarah ke Maqbaroh Zanbal. 200 meter sebelah kiri masjid Jabanah. Pelatarannya begitu luas dan dipenuhi banyak batu nisan maqom para wali. Hal itu karena memang ribuan wali disemayamkan disana, bahkan beberapa ashabul badr[1] yang dulu diutus Rasullullah ke Yaman. Tak heran, karenanya Yaman dijuluki sebagai Negeri Seribu Wali.  
Setapak demi setapak kami melangkah. Pertama menziarohi maqbarah al Ustadzul A'dzom Sayyidina al Faqih al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath (574 - 653 H.). Beliau adalah seorang wali besar, al 'arif billah, pemuka para imam dan ulama, pemuka thoriqoh 'Alawiyyah yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah luar biasa. Beliau termasuk wali quthb yang banyak menghasilkan para ulama besar di zamannya.
                Dikisahkan beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi, yaitu as Syaikh Sa'ad bin 'Ali adz-Dzofari. Setelah as Syaikh Sa'ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, Ia terkagum-kagum dan merasakan cahaya dan rahasia batin yang ada didalamnya. Lantas membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, " Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah swt yang tidak dimiliki siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan  syari'ah dan haqiqah, baik yang dzahir maupun bathin".
                 Kemudian kami beralih menuju maqom 'Amul Faqih (Paman Faqih Muqoddam) as Sayyid Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath (w. 613 H). Beliaulah kakek moyang dari wali songo yang telah menyebarkan islam di Indonesia. Karena itulah, asal usul wali songo dan para habaib 'alawiyyin di Nusantara, sebenarnya bermula dari tanah Tarim, Yaman.
Lisan ini tak henti-hentinya berdo'a dan bersholawat sepanjang ziyaroh hingga sampai  di depan maqbaroh al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al Masyhur (1250-1320 H), Pengarang Bughyatul Mustarsyidin. Lalu menuju Dhorihah[2] al Imam al Habib Abdurrahman as Seggaf bin Muhammad Maula Dawilayh (739-819H). Beliau dijuluki al Faqih al Muqoddam ats- Tsani karena saking alim dan ma'rifatnya kepada Allah swt. Beliau jugalah orang pertama dari kalangan alawiyyin yang dijuluki 'as Seggaf'.
Berikutnya memasuki Qubbah Waliyullah Sulthonul Mala, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus (811-865 H) bin Abu Bakar as Sakran bin Abdurrahman as Seggaf Faqih Muqoddam Tsani. Beliau, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus merupakan putra pengarang Hizib Sakron, dan juga orang pertama yang dijuluki 'al 'Aydrus'.
Dan Terakhir, Kami menziarahi pemakaman Waliyullah al Qutub al Imam Abdullah Alawy al Haddad (1044-1132 H), pengarang kitab Risalatul Mu'awanah dan an Nashoih ad Diniyah.  Beliau disebut sebagai ulama mujaddid atau tokoh pembaharu abad 12. Banyak karangan beliau dalam segala fan ilmu  telah sampai ke semua penjuru dunia.
Demikianlah wisata religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim kali ini. Cerita ziyaroh Zanbal ini hanya satu dari beberapa objek wisata religi di Tarim yang kami singgahi. Selepas beberapa hari bersama ketiga adik kelas, akhirnya mereka dengan berat hati harus kembali ke Mukalla. Cukup perjumpaan kami sampai disitu dahulu sebagai pengisi liburan idul adha. Kelak kamipun pasti kan dipertemukan kembali, tatkala mereka naik tingkat berikutnya, tentunya di kota seribu wali, Tarim. (Arman Malieky/author).


[1]  Ashabul Badr : para sahabat nabi yang ikut serta dalam perang badr (12 Bulan setelah Hijrah Nabi Muhammad saw.)
[2]  Dhorihah : Maqom

Friday, 7 September 2012

20 Jam di Cirata, Antara Limpahan Rejeki dan Sakit yg Menanti

Istilah Ngaliwet di kalangan masyarakat Sunda, agaknya sudah biasa. Tapi bagaimana jika Ngaliwet ini dipadukan dengan bakar ikan air tawar yang dipancing atau dijaring sendiri dari laut? Terlebih dinikmati bersama keluarga, saat siluet mentari memberi tanda senja hendak tiba. Moment ini kian asyik karena ditemani panorama hamparan laut yang menyudut Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat. Tempat ini cocok untuk Anda yang memang hobi berekreasi, atau sekedar melepas penat saat melintas dalam perjalanan jauh.
 —-
Ialah laut pembudidayaan ikan air tawar: Cirata. Perairan yang cantik dan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar ini dapat Anda temui di Cipeundeuy, Bandung Barat. Perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam dari pusat kota Bandung, dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Namun Anda perlu berhati-hati selepas Tol, karena banyak jalan berbatu kerikil yang cukup ngeri untuk dilalui.

Sunday, 2 September 2012

Haflah Akhir Sanah dan Perpisahan Mahasiswa Indonesia Al Ahgaff di Mukalla.

Malam Ahad ( 1/09/ 2012) tepat setelah Isya pukul 20.00 WY digelar acara rutin Mahasiswa Universitas Al Ahgaff Indonesia Tingkat Pertama yang bertempat di Sutuh Sakan Basalamah, Asrama Mahasiswa Indonesia di kota Mukalla. Runtutan acara berjalan mengikuti arah bicara Master of Ceremony yang dibawakan oleh sdr. Muhammad Fadlillah, Mahasiswa Fak. Syari’ah Mustawa Awwal.
Acara yang sungguh dramatis dan harmonis ini bertajuk tentang “ Akhirus Sanah wal Wada’”. Ya daramatis, itu karena Mahasiswa Al Ahgaff yang akan mengenjang masa kuliah di Fakultas Syari’ah selama lima tahun ( 5 mustawa), tahun pertamanya mereka ditempatkan di Kota Mukalla. Kemudian sisa tahun berikutnya akan dihabiskan di Kota Tarim, Baldatul Awliya’. Tahun pertama yang dilalui para mahasiswa sangat meninggalkan banyak kesan unik dan menarik yang merupakan masa adaftasi mahasiswa baru (mustawa awwal) dalam berjuang mengarungi lautan ilmu Negeri Yaman ini.
Dalam Acara ini, dihadiri juga oleh jajaran staff Universitas Al Ahgaff, masyayikh setempat diantaranya, DR. Shodiq Umar Maknun (Wakil Rektor Universitas Al Ahgaff), Syeikh DR. Fuad Abdul Karim (Qodhi Kota Mukalla), Syeikh Ba’syan, Syeikh Zain Al Jufri dan juga Asatidz baik dari Negara Yaman sendiri maupun Asatidzah Indonesia. Namun Sayangnya acara monumental ini tidak sempat dihadiri oleh Sang Murabby Ruh Utama Ahgaff, yaitu beliau Syeikh Sayyid Prof. DR. Abdullah Muhammad Baharun, MA.
Walau Demikian, Dalam sambutan yang diwakili oleh DR. Shodiq Maknun sebagai Wakil Rektor, mampu mengisi kegundahan para hadirin, khususnya Mahasiswa Al Ahgaff Indonesia yang senantianya menanti-nanti kedatangannya guna bermuwajahah di sakan kebanggaan mahasiswa Indonesia.
Sambutan pertama  sebagai perwakilan panitia penyelenggara acara, turut berbicara Ustadz Kehormatan kita, DR. Muhammad Najib, MA. Beliau disamping sebagai salah satu staff pengajar dari Indonesia yang berkedudukan juga sebagai wakil dekan fakultas syari’ah Universitas Al Ahgaff yang bertempat di kota Mukalla. Dalam awal sambutannya, beliau hanya berpesan kepada para mahasiswa mustawa awwal yang dalam waktu dekat akan diberangkatkan ke kota Tarim. Pesan beliau sangat singkat, namun padat isi dan kaya nasihat. “ Waktu tidak bisa kembali lagi, jangalah kalian menyia-nyiakan waktu yang ada, karena posisi Kalian sebagai tholibul ‘ilm, maka waktu kalian adalah untuk ‘ilmu’ “ . Beliau juga menyampaikan hal yang perlu diperhatikan ketika sudah di Tarim nanti. Sesuai yang pernah beliau dapati dari Syeikh Ali Ba’udhon, Mufti Tarim,  yaitu untuk tidak sering-sering mengikuti maulid yang banyak diadakan di kota Tarim, namun cukuplah sesekali dalam seminggu, itu agar mengefektifkan waktu untuk konsentrasi belajar karena itulah tugas utama penuntut ilmu.
Kemudian acara disusul dengan mau’idzoh hasanah dari Syaikh Ba’syan. Sebagai salah satu syeikh yang dihormati dan dituakan, beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu di Yaman berbeda dengan menuntut ilmu di tempat lain. Karena di Yaman, penuntut ilmu berbondong-bondong datang bukan hanya untuk menuntut ilmu, akan tetapi juga untuk tazkiyatun nufus (pembersihan hati nurani). Beliau juga memberikan nasihat tentang indahnya kehidupan di kota Tarim. Sikap utama yang harus dipegang teguh dan diindahkan oleh para penuntut ilmu di Tarim ada tiga hal yang merupakan keistimewaan kota Tarim dibandingkan kota lainnya. Tiga hal itu ialah; “ Al Adab , At Tawaadhu’, dan Al Ihtiram “. Sikap-sikap itulah yang patut dilestarikan ; sikap sopan santun, rendah hati dan sikap menghormati.
Acarapun berlangsung hingga larut dan diselingi dengan pemberian Syahadatut Takrim kepada pihak-pihak yang terkait hubungan kerja sama dengan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) yang disampaikan oleh Ketua AMI 2011-2012 Cabang Mukalla, Habib Syukri Mudhij. Kemudian acara ditutup dengan do’a dan diakhiri dengan ‘asya (makan malam) bersama. Seperti biasa, setelah runtutan acara berakhir, saatnya berdendang dan bersyai’r bersama Irama musik marawis dan tarian zafin. Acara terkenang menarik dan berkesan, menorehkan a sweet memorian in Mukalla. Arman-red.

Tuesday, 12 June 2012

Do'a Untuk Bidadari


Di sebuah auditorium kampus, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru tua, tampak rapi dengan mengenakan peci hitam tertancap di kepala. Dengan wajah tampannya, Ia tebarkan senyuman pagi cerah, siap akan menyampaikan kuliah di hari pertamanya menjadi dosen. Kegagahan beliau memancarkan pesona kekaguman semua pelajar di dalam ruangan. Tak heran seorang mahasiswi berkerudung kuning penasaran bertanya kepadanya, “ Pak, kalau boleh tahu, apakah bapak sudah berkeluarga?”, perempuan itu agak malu rupanya bertanya demikian. Namun dengan bijaknya sang dosen tersenyum dan  menjawab, “ hhhmmm,,, mungkin saya jawab dengan sebuah cerita…”. Semua orang terkesima penasaran ingin mendengarkan cerita pak dosen, suasanapun menjadi hening, semua telinga terpusat, pak dosen perlahan bercerita.

“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani mengatakan isi hatinya.
Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya,  Fawwaz dipanggil oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri yang akan melanjutkan kuliah ke Yaman. Orang tuanya dengan ta’dzimnya menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak menyangka.
Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah kepulangan Fawwaz dari Yaman. Senyum wajah Nurul memancar,  dengan anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.
Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri Ratu Balqis atau dikenal dahulu dengan sebutan Negeri Saba’. Sebelum berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “ wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti, ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku, aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda bimbinganmu wahai kekasihkku…”
Sesampainya di Yaman, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh. Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti dauroh-dauuroh yang diadakan oleh kalangan thalabah dengan para masyayikh.
Di tengah kesibukannya,  sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke pinggiran sungai kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadromaut, Yaman, menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia, sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Mukalla, membayangkan bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
asirbal qithoo, hal man yu’iiru janaahahu # la’alli ila man qod hawaitu athiiruu “
“Wahai segerombolan merpati,,,apakah diantara kalian ada yang berkenan meminjamkan sayapnya # sehingga aku bisa terbang menuju orang yang sangat ku cinta” .
            Nurul yang merupakan santriwati tahfidz terbaik, seringkali mengirim surat lewat pos untuk Fawwaz, dalam suratnya Nurul memberi tahu bahwa ia sudah menyelesaikan hafalan Al Qur’an lebih cepat, Ia juga memohon izin untuk mengabdi sambil mengikuti kuliah keguruan di Instutut yang ada di pesantrennya. Nurul memang perempuan yang sangat sholehah,  Ia sering memberi nasihat dan motivasi agar Fawwaz senantiasa tekun ibadah, kuliah dengan rajin, sehingga mendapat ilmu yang berkah dan manfa’at. Setelah membacanya, Fawwaz seolah mendapat energi dan semangat baru. Kata-kata Nurul membuat gelora jiwanya meningkat. Ia bertekad harus menjadi yang terbaik, karena ia akan menjadi Imam dari bidadari jelitanya.
Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan kuliahnya dengan predikat syaraf ula / cumlaude, Ia berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan  nadzom-nadzom penting yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad, dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar semangat dan cita-cita.
Setelah kepulangannya dari Yaman, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia, akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya, tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz dan Nurul, Pak? “
Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia masih diberi ketabahan. Iapun berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke dalam surga-Nya, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak. Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke Yaman melanjutkan master sampai doktoral, kemudian  kembalilah Fawwaz ke Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H. Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.
-Mukalla, Juni 2012-
*****
Inilah Ceritaku
 

Blogger news

Blogroll