Follow us on FaceBook

Monday, 30 June 2014

Madrasah Hadramaut; Objek Studi Berasaskan Karakter Edukasi Nabawi

Oleh : Abdul Rahman Malik*
            Belajar pendidikan agama islam sejatinya bisa dilakukan dimana saja, baik itu di dalam negeri Indonesia ataupun di luar negeri. Pasalnya, Islam berikut ajaran dan keilmuannya telah tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya adalah penganut agama Islam dengan pencapaian prosentase 87,18 % dari 237.641.326 jumlah penduduknya (sensus tahun 2010- Wikipedia-).
Kendati demikian, studi kajian Islam di dalam negeri tentu berbeda dengan pembelajaran keislaman di Timur Tengah atau lebih dikenal dengan negeri-negeri Arab. Ibarat meminum air, pastilah lebih segar meneguk air dari sumber mata airnya langsung dibanding meminum air yang sudah berpencar ke setiap penjuru. Kemurniaan kajiannyapun jelas terasa berbeda.
Madrasah Hadhramaut merupakan salah satu diantara objek studi Timur Tengah.  Sejak bertahun-tahun lamanya, kiprah Madhrasah Hadhramaut terkenal akan khazanah keilmuan yang dalam, luas dan kental. Keberkahan ilmu di madrasah Hadhramaut telah mampu menciptakan kader-kader ulama yang tersebar ke seantareo dunia. Disamping berkat keikhlasan para pendidiknya, hal itu disebabkan karena berkesinambungannya ilmu dari generasi ke generasi sejak era penyebaran Islam pertama di zaman kekhalifahan hingga kini dengan rantaian sanad (silsilah-red.) keilmuan dan ajarannya yang masih tergolong salaf dan bermanhaj nabawi. Manhaj inilah yang diterapkan oleh para pegiat ilmu di Hadhramaut dengan senantiasa mengamalkan sunah-sunah nabi yang kini kian terlupakan di kalangan banyak umat Islam terutama di Negara Indonesia kita tercinta.
Di era modernisasi ini, Peran Madhrasah Hadhramaut mulai mampu menarik perhatian kalangan penuntut ilmu di tanah air. Buktinya, lebih dari 2000 pelajar Indonesia kini banyak berdomisili di lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar di Hadhramaut. Mereka datang untuk terjun langsung menyelami samudera ilmu yang ada di Hadhramaut. Tentu ini bukanlah sebuah tingginya animo belaka, namun karena –konon- sudah panggilan keberangkatan dari pencetus cikal bakal Madhrasah Hadhramaut ini, yaitu Imam Al Muhajir Ilallah Ahmad Bin Isa.
Sebagai pemegang tongkat estapet ajaran kakek moyangnya, Imam Al Muhajir berhijrah ke Hadhramaut untuk mempertahankan eksistensi keturunan Rasulullah saw dan juga untuk menyebarkan ajaran yang turun temurun diterapkan dalam kehidupan berupa syari’at Agama Islam. Walhasil, Hadhramaut kini menjadi pusat kajian islam bermanhaj Nabawi terbesar dan tervalid dengan dipegang tonggak pendidikannya oleh mayoritas Ahlul Bait (baca; keturunan rasulullah). 
Madhrasah Hadhramaut dengan system edukasi berpola penerapan sunnah nubuwwah mampu mendidik kader-kader muda dengan berkarakter nabawy artinya dengan pendidikan tarbiyah langsung oleh guru, para penuntut ilmu senantiasa belajar dengan tuntunan dan penerapan yang diajarkan Rasullah saw. Hal inilah yang menjadikan Hadhramaut memiliki kharisma tersendiri dari lembaga pendidikan lainnya. Manhaj seperti inilah yang seharusnya direvitalisasi kembali dalam dunia pendidikan di Indonesia yang kebanyakan berorientasi pada ranah formal saja, sehingga identitas pendidikan agamapun semakin pudar.
Menurut Al Habib Abu Bakar Al Adny, Madhrasah Hadhramaut memiliki asas dan prinsip pendidikan berupa “ILMU – AMAL – IKHLAS –  “, dengan rangkaian ketiga unsur tersebut, karakter seseorang akan terbentuk dengan baik seandainya mampu diterapkan secara seksama dalam dunia pendidikan. Pasalnya ilmu tanpa amal berdampak pada disfungsi ilmu itu sendiri. Sedangkan amal tanpa ilmu berakibat tertolaknya suatu pekerjaan, dan kesemuanya itu akan memperoleh hasil baik dengan dilandasi keikhlasan.  
Diantara sekian lembaga pendidikan Madrasah Hadhramaut adalah Ribath Darul Musthofa asuhan Al Habib Umar bin Hafidz. Beliau menuturkan, "Ribath Darul Mushtofa ini didirikan atas dasar tiga visi utama; yaitu pertama, mempelajari ilmu syari'ah dengan sanadnya dari generasi ke generasi ulama sampai menuju sumbernya ialah Rasulullah saw, kedua; tazkiyah an nafs (pembersihan hati) dari segala kotoran rohani dan mengamalkan ilmu dengan sebenar-benarnya atas dasar ikhlas karena Allah Ta'ala, ketiga; menyebarkan panji Islam dengan berdakwah di jalan Allah dengan hikmah dan mau'idzoh hasanah  seperti yang diajarkan Rasulullah Saw".
Selain Darul Musthofa, ada beberapa lembaga pendidikan lainnya yang kokoh mempertahankan Manhaj Madrasah Hadhramaut meski dengan system dan kurikulum pendidikan yang berbeda. Diantaranya adalah Universitas Al Ahgaff – Tarim dengan kajian kurikulum perkuliahan berbasis ilmu syari'ah dan hokum yang dipimpin oleh Rektor Prof. DR. Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun, MA, kemudian Ribath Tarim dengan manhaj salaf yang diasuh oleh Al Habib Salim bin Abdullah bin Umar as Syathiry. Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga pendidikan yang berlokasi di Hadhramaut selain yang disebutkan baik berstrata pendidikan formal maupun non-formal. Semua itu adalah manifestasi pendidikan di Hadhramaut yang mampu menjadikannya sebagai salah satu pusat kajian Islam terpercaya di negeri Balqis ini. 
Hal ini juga terbukti dirasakan oleh Dr. Jamal Faruq Al Husainy, seorang Dosen Aqidah dan Filsafat Universitas Al Azhar-Kairo pada saat kunjungannya ke kota Tarim tahun 2013 dalam rangka ikut serta Konferensi Da'i Internasional ke-13 di Darul Musthofa. Setelah Dr. Jamal melakukan survei satu persatu lembaga yang berada di kota Tarim, Ia sangat mengapresiasi sampai menuliskan sebuah artikel di majalah at Tawashul Edisi 14 dengan judul, "Tarim laksana Al Azhar tempo dulu". Hingga kini, Tarim tetap menjadi kiblat ilmu bagi setiap kalangan. Khazanah keilmuannya seakan tak habis termakan masa. Halaqoh-halaqoh ilmu berpencaran dimana-mana baik itu di ribath ataupun di masjid-masjid kota Tarim. Setiap waktu, para ulama dengan ikhlas mengisi kegiatan kajian ilmu-ilmu warisan turun temurun Rasulullah SAW.
Tampaknya di tengah hiruk pikuk pendidikan moral bangsa Indonesia saat ini, Manhaj Madrasah Hadhramaut bisa menjadi salah satu kunci untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Moral yang kian merosot setidaknya bisa ditopang dengan penerapan tarbiyah yang biasa diajarkan di Madhrasah Hadhramaut. Dengan cara apa? Bagaimanakah awal mulanya? Hal itu cukup dengan menjadikan Madhrasah Hadhramaut sebagai objek studi bagi anak didik Indonesia di masa kini dan mendatang. Sehingga mereka bisa merasakan bagaimana pendidikan berasaskan karakter edukasi nabawi yang sepatutnya diadopsi oleh para pendidik di Indonesia. Wallahu a'lam.

The Power of Tawakal


            Manusia diciptakan tidak lepas dari cobaan, Allah Ta’ala menurunkan semua itu melainkan untuk menguji setiap hambanya, seberapa besarkah nilai ketaqwaan dan kesabarannya?. Berbagai macam ujian baik secara lahir ataupun batin sudah merupakan hak preogratif Sang Maha Kuasa dalam memberikan hikmah ketuhanan-Nya. Penyakit menjadi salah satu bentuk ujian yang bisa dirasakan oleh siapa saja,  tidak terkecuali aku sendiri, hamba Allah yang lemah dan tak memiliki daya upaya melainkan hanya dari-Nya.
Aku, Seorang Penjuang Negeri Saba’
            Kisah ini berawal ketika aku mengenyam masa study di sebuah negeri di Timur Tengah. Mulanya, aku juga tidak menyangka sampai bisa menginjakan kaki di sebuah negara yang akrab dijuluki Negeri Ratu Balqis atau Negeri Saba’, Yaman. Pasalnya, aku ini hanya seorang santri salaf dari pedesaan, notebene keluarga juga hanya sebatas kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun dibalik semua itu, Allah Ta’ala merencanakan skenario terbaik-Nya untukku, walhasil hanya puja dan puji syukur kehadirat-Nyalah yang senantiasa aku panjatkan atas anugerah terbesar dalam perjalanan hidupku ini.    
            25 September 2011 adalah tanggal dimana aku mulai menjalani hidup dalam perantauan dalam menuntut ilmu di sebuah universitas terkemuka di Yaman. Jauh dari orang tua dan aktifitas kuliah yang padat membuat aku cepat betah di Universitas Al Ahgaff –kota Mukalla. Hal itu tak lain karena aku sendiri sudah terbiasa tinggal di pondok pesantren sejak kecil dan mata kuliah di fakultas Syari’ah yang selalu menguras otak, jadi setiap hari aku kerjaanya ya belajar dan belajar, Study hard. Sampai karena saking asyiknya belajar, aku sering melek malam demi menguasai pelajaran esok hari.
            Aku tinggal di sebuah asrama berlantai empat, sekitar 1 km jarak dari kampusku di kota Mukalla. Rutinitas naik turun tangga dan jalan kaki ditengah terik panas negeri Arab sudah biasa aku jalani. Namun, setelah aku melewati ujian semester pertama, tiba-tiba pikiran kepalaku serasa mulai terkuras dan sering merasa pusing. Kepadatan aktifitas yang full setiap harinya dari mulai pukul 04.00 pagi waktu setempat (KSA/King of Saudi Arabia) sampai malam seakan tiada henti untuk berpikir. Ditambah lagi aku ini orang yang jarang berolahraga. Dari situ aku seakan merasaakan ada keganjalan dengan kesehatanku. Setiap aku tidur menyamping, akupun merasakan ada yang sakit di dada, tapi aku biarkan saja tanpa dihiraukan sampai akhirnya aku bisa naik ke semester 3 dan sesuai peraturan Universitas untuk pelajar Indonesia putra Fak. Syari’ah dan Hukum yang sudah setahun di kota Mukalla harus dipindah lokasikan ke Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman untuk menyesuaikan lingkungan study dengan kota yang terkenal luhur akan peradaban Islam dan khazanah keilmuannya.
Setahun merasakan hidup di Yaman telah berlalu, suasana kota Mukalla kini berubah dengan atmosfir kota para wali yaitu Tarim al Ghanna[1]. Tentu, setelah mengetahui keistimewaan kota Tarim sebagai kota wali, ulama dan sholihin, aku merasakan spirit yang membara. Semangat untuk kuliah, semangat juga untuk menimba ilmu sedalam-dalamnya pada para ulama dan masyayikh. Namun, semenjak kepindahan aku ke kota Tarim, rasa-rasa sering pusing kepala itu masih tetap saja muncul, malah cenderung tambah berdampak pada badan yang menjadi ikut-ikutan lemas.
            Berkat “ALA BISA KARENA DIPAKSA”, benar ungkapan kata-kata itu. Aku selalu memaksakan diri untuk bisa, untuk selalu menghasilkan yang terbaik. Walhasil, meski dengan kondisi tubuh seperti itu, aku masih bisa melewati UTS dengan hasil predikat nilai istimewa. Namun di tengah senyum bahagia itu, aku seketika ambruk tak sadarkan diri.   
Aku dan Sakitku
Aku putuskan untuk tidak masuk kuliah barang sehari atau dua hari guna mengistirahatkan tubuhku. Awalnya aku mengira ini hanya sakit biasa, mungkin karena kecapean, tapi ada hal aneh yang mengagetkanku. Ketika aku kencing ternyata air kencing itu berwarna merah kecoklatan. Akupun nyaris keheranan. Segera sore harinya aku periksakan ke Al Chairy Hospital yang dekat jaraknya dengan kampusku.
Hari itu adalah pertama kalinya aku merasakan rumah sakit di Yaman. Suasananya sangat jauh berbeda dengan layaknya RSU di Indonesia. Ya, karena para penghuninya jelas mayoritas orang Arab. Aku pandangi setiap sudut rumah sakit yang terlihat agak kumuh itu. Sekilas perhatianku tertuju pada orang-orang sakit yang diperiksa dengan dicampur aduk dalam satu ruangan. Sungguh kasihan. Aku hanya mengelus dada sambil duduk di tempat tunggu. Seperti inikah rumah sakit di Negara Republik Yaman? Serba kekurangan.
“ anta mushobun bi marodil kabid ya thoyyib[2]”, ujar dokter laki-laki berkumis yang memeriksaku. Aku tersontak kaget. Hah?? Penyakit Liver. aku seketika tertunduk lunglai.
            Semakin hari penyakitku semakin parah. Penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) telah menggerogoti hatiku. Seandainya aku biarkan, mungkin Hepadnavirus itu bisa menyebabkan peradangan hati akut dan menahun yang dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Miris jiwa ini setelah mengetahui hal itu.
            Selama sepuluh hari aku terus konsisten melakukan rawat jalan, padahal kondisi saat itu seharusnya aku sudah diinfus dan sepantasnya dirawat tetap di Rumah Sakit, namun karena kekurangan sarana dan prasaran Al Chairy Hospital aku rela bolak balik asrama-RS setiap harinya. Maklum adanya di Yaman seperti ini, segala sesuatu serba terbatas sebab faktor keterbelakangan negaranya.
Teman Adalah Orang Yang Selalu Ada dikala Suka maupun Duka
Aku yang selalu ditemani seorang pengurus asrama setiap kali periksa, diberi instruksi oleh dokter untuk ditempatkan di kamar khusus yang tenang dan jauh dari keramaian teman-teman asrama. Akhirnya, Dhobit sakan[3] terpaksa memindahkanku di sebuah kantor yang hanya berukuran 3x3 meter. Suasana hariku semakin terasa sepi. Sedih hati ini rasanya menderita penyakit kronis dan jauh dari belaian kedua orang tua. Untungnya teman-teman sepondokku dululah yang senantiasa mengurus dan merawatku, setidaknya aku merasa terhibur dan terbantu dalam segala kebutuhan seperti makan, cuci pakaian, membelikan ini itu dan lain-lain. Luti, Wahid dan Rahmat, merekalah yang bersedia menemani sakitku. Mereka adalah teman sejati yang selalu ada dikala suka maupun duka, susah ataupun bahagia, dan tulus ikhlas tanpa mengharap imbalan.  
Entah kenapa, mulut ini enggan untuk makan, paling hanya beberapa suap saja. Itu juga seringnya aku muntahkan karena sering mual. Akhirnya, disamping diberi resep obat sederhana dari dokter Yaman dan hanya makan nasi bubur yang dibuatkan teman-temanku secara bergiliran. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit makanan itu bisa masuk, meski tetap saja tubuh ini masih setia berbaring di selembar kasur lantai.
Sempat aku merasa pesimis. Orang-orang di sekitarku banyak yang menyarankanku untuk pulang ke Tanah Air saja, karena perobatan dan kedokteran di Yaman sangatlah minim dan bisa dikatakan berkualitas buruk. Kondisiku pun tidak mengalami perubahan sampai aku dipindah rawat ke RSU Hawy dan sama saja hasilnya. Aku berpikir untuk tidak ingin pulang. Malah berpikir lebih baik aku sampai meninggal di kota suci ini seperti kejadian teman yang pernah aku dengar daripada aku harus pulang lantas mendapat cemoohan masyarakat. Oh, begini yah kuliah di Timur tengah, malah sakit? Siapa suruh kuliah jauh-jauh? karena itu aku pun enggan memgabari kedua orang tuaku perihal sakit yang dialami olehku, tentu orang tuaku juga akan mencemaskanku.
Dilain pihak, teman-teman kampusku berbondong-bondong melakukan gerakan solidaritas. Ada yang memintakan sumbangan ke teman-teman seasrama dari berbagai asal Negara, ada juga teman Afrika yang sering menjengukku dengan rutin membacakan do’a dan hadits-hadits Rasullullah tentang wasiat bersabar dikala sakit.
The Power of Tawakal
            Hari demi hari aku belum mengalami perubahan yang signifikan, namun aku tetap berikhtiyar dengan terus meminum obat dan makan makanan sesuai anjuran dokter. Setiap malam aku hanya ditemani kesepian, pada saat seperti itulah aku bertawakal dan bermunajat pada Allah ta’ala dengan tubuh terbentang ke langit. Musibah penyakit ini adalah ujian Allah untuk melebur segala dosa hamba-Nya, dan nyawa ini berasal dari yang Maha Kuasa dan akan kembali pada-Nya. Seandainya aku ditakdirkan menemui-Nya di kota ini, aku sudah siap menanti sang ajal.
            Setelah genap 45 hari aku rutin mengikuti anjuran dokter, keajaiban tiba-tiba datang tanpa disangka. Kesehatanku mulai memulih drastis. Meski belum seratus persen dikatakan sembuh, Penyakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Prediksi yang diluar perkiraan. Sampai akhirnya seminggu mendekati UAS, aku pun mencoba paksakan untuk mengikuti Ujian Semester. Dengan hanya bermodalkan keilmuan pondok salaf dahulu dan belajar sekuatnya, akhirnya akupun berhasil lulus dan sampai kini aku masih diberikan sehat wal ‘afiyat oleh Allah Ta’ala dalam mengikuti kuliah di Universitas Al ahgaff, Yaman.
* Wallahu a’lam*


BIODATA PENULIS
Abdul Rahman Malik, lebih dikenal dengan nama pena “Arman Malieky/Facebook”dengan emailnya armanmania@gmail.com, terlahir di Majalengka, 12 Februari 1991. Alamat rumah di Jl. Raya Selatan Desa Leuwimunding Rt 01 Rw 01 Kec. Leuwimunding Kab. Majalengka, 45473. Kini aku tinggal di Universitas Al Ahgaff Yaman dan tergabung dalam anggota FLP Hadhramaut. Syukron.


[1] Al Ghanna ialah nama julukan kota Tarim yang artinya kota yang kaya (ilmu, wali, sumber daya alam dan lain sebagainya)
[2] Anda menderita penyakit Liver.
[3] Dhobit Sakan: Panggilan petugas yang menjadi pengurus asrama

Monday, 31 March 2014

Cinta 2 Negeri


Butiran-butiran kristal itu seketika menetes dalam pusaran bola mata Silvi. Perasaan haru bahagia berdesir deras dalam jiwanya yang tengah diselimuti dinginnya musim di Negeri  Seribu Benteng, Maroko. Segera Ia singkapkan kemulan selimut panjang itu dari tubuhnya. Matanya seketika binar tatkala membaca pesan singkat dari seorang lelaki yang tak asing baginya.
“Aku tulus mencintaimu Vi…”

Singkat, padat, namun penuh makna dan isyarat.
Diangkatnya kedua jemari Silvi yang langsung menari, menuliskan balasan isi hatinya yang sukar untuk dibohongi pada teman lamanya itu. 
Ilman, nama sapaan lelaki itu, teman seangkatan Silvi sewaktu SMA tiga tahun lalu. Seragam putih abu-abu menjadi saksi pertemuan keduanya.
 Kepribadian Ilman dulu yang serius pada pelajaran dan kesibukan organisasinya seakan telah membuatnya lupa akan wanita. Hanya saja, ada satu wanita yang wajah anggunnya selalu terpotret dan namanya tercatat dalam memori Ilman sejak awal mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Silvi?  
 Sebenarnya Silvi juga merasakan kekaguman pada Ilman. Disamping dia anak yang rajin, dia juga tampan dan selalu berpenampilan rapih. Ranking tiga besar pun rutin disabetnya setiap semester. Hingga akhirnya lulus dan beasiswa kuliah di Yaman berhasil digenggamannya. Dan kini pesan cintanya itu terkirim langsung dari Negeri Saba’ yang sedang dirantauinya.
            Mengapa Ilman baru sekarang mengungkapkannya? Setelah bertahun-tahun Ia memendamnya?”, hati Silvi pun bertanya-tanya.
Padahal dulu Ilman sempat berkunjung ke kediaman Silvi sebelum keduanya diberangkatkan ke dua Negeri tersebut, bahkan beberapa kali Ilman bertemu dengan orang tua Silvi, sampai ibunda Silvi sempat berpesan,
 “Man, tolong bimbing Silvi yah! dia butuh pengarahan dari seorang teman seperti kamu” .
Sejak itulah Ilman ingin selalu dekat dengan Silvi tanpa harus mengungkapkan cintanya. Meski keduanya telah terpisahkan oleh dua negeri yang terbentang gugusan benua, Ilman tetap merutinkan komunikasi dengan Silvi melalui chatting-an. Bahkan keduanya sering menciptakan suasana persaingan prestasi, berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang perkuliahan yang tengah dijalani keduanya.
“Aa, tolong bantu silvi kerjain tugas kuliah yah!”, pinta Silvi manja via Messanger.
 Aa, menjadi panggilan hangat Silvi untuk Ilman semenjak keduanya berkomitmen saling mencintai dan saling mempercayai.
Cinta telah bersemi di hati Ilman dan Silvi, ketulusan cinta telah mewarnai sosok dua sejoli yang tak menghiraukan jarak ruang dan waktu.
Indah terasa cinta ini,
Disaat hati telah mengungkapkannya,
Tak seorang pun mengerti,
Dan hanya kita yang merasakanya,
            Bahagia tak terhingga senantiasa hiasai,
            Kala hatiku dan hatimu nan bersatu cengkrama
            Meskipun ruang dan waktu memisahkan kedua hati
CINTA kan tetap dalam satu kata bersama kita,
                        Kini, tinggallah menanti takdir Ilahi
                        Untuk mempertemukan dua sejoli dalam ikatan suci.          

 Dear My Love: Silvi
***  
* cerita ini hanyalah fiktif belaka, seandainya ditemukan kesamaan nama atau jalan cerita, itu hanya faktor kebetulan semata....hehe @arman

Tuesday, 14 May 2013

CINTA DARI LANGIT

Cerahnya senin pagi mengawali hari aktifitas Irfan, ditemani goesan sepeda palang nyentrik berkekuatan sepeda balap, punggungnyamenggendong tas berisi buku-buku kuliah.jiwa semangat ia pancarkan dari raut muka cerianya, siap berpetualang dalam dunia ilmu di kampusnya.Jam tujuh pagi pas Irfan meluncur dari sebuah pesantren dikawasan Kanggraksan Kota Cirebon.Ia mulai menyusuri jalan raya, melewati gang terobosan, mengikuti belokan dan lampu merah,begitulah rutinitasnya setiap hari guna meraih gelar S1 Ushuluddin di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dedikasi irfan bukanlah rahasia umum lagi diantara penghuni kampus, Irfan dinobatkan sebagai mahasiswa teladan dua tahun berturut-turut.Ditahun terakhirnya kini, Irfan ditunjuk kembali memegang asisten dosen di kelas prodi tafsir.Selain itu pula, Irfan aktif di klub basket kampus.Baginya, basket merupakan sarana refreshing pelepas kepenatan yang digemarinya semenjak SMP.Tak khayal, Irfanpun dipasang dalam jajaran pemain intiThe Five Brothers bersama kawan-kawannya di Meteor Basketball Club. Sementara job utamanya layer updengan keahlian terobosan dan jump shoot, tak jarang kemenangan Meteor menjadi  kebanggaan berkat tangan emasnya.
Pagi ini Irfan sudah menyiapkan untuk jadwal kegiatan full hari ini, dari mulai kuliah sampai siang, lalu istirahat sambil shalat dzuhur di masjid kampus, kemudian latihan basket bersama klub kesayangannya.Priiiiiittttt…priiiiiittt…Terdengar bunyi peluit dan suara lantang Pak Akyas sudah siap menunggu the meteror players menengah ke lapangan guna warming up. Pelatih terbaik yang selama ini membina Irfan dan kawan-kawan hingga nama klub basket kampusnya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta basket se-Kota Cirebon. Sambil pemanasan, Pak Akyaspun mulai bicara, Iamemberikan sebuah pengumuman penting. satu bulan yang akan datang akan diadakan kompetisi basket antar- Universitas se-Kota Cirebon yang juaranya akan diikutsertakan mengikuti National Basketball Tournament of Universities.Terbelalak semua mata mendengarnya, namun Irfan tak terkusik sedikitpun tanda keceriaan dari raut mukanya.Entah kenapa, walaupun Irfan pemain handal, dia selalu bersikap biasa saja.Itulah karakter yang sederhana dari Irfan, tak banyak bicara namun cerdik beraksi.
Setelah tiga minggu latihan optimal, tersisa satu minggu menjelang hari yang ditunggu. Persiapan tim sudah lumayan matang. Latihan dibubarkan jam setengah lima sore. Sebelum pulang ke pesantrennya Irfan biasa membersihkan badan dan shalat ashar dahulu di masjid kampus.Pribadi Irfan selalu tertata dalam kesehariannya, karenanya Irfan dipesantrennya juga termasuk santri yang taat pada peraturan.Bisa mengatur waktu kesibukan pesantren, kuliah, dan juga basketnya.Pak Kyaipun senang dengan kepintaran Irfan dalam ilmu agamanya,sampai Irfanpun sering ditunjuk mengisi pengajian Ibu-ibu menggantikan Pak Kyai ketika berhalangan.
Sepeda palangnya sudah siap tuk ditunggangi, kaki kanannya memulai putaran goesan sepedanya, tak lupa Irfan melafalkan basmalah demi keselamatannya. Keramaian sore kota Cirebon sudah biasa Irfan temui, kerumunan pejalan kaki, pengendara motor bahkan mobil-mobil mewah ikut menyemarakan suasana. Ketika tiba di tikungan, Irfan membelokan stir sepedanya kearah kiri, tidak dikira mobil sedan silver melesat tepat di depan muka Irfan kencang, seketika Irfan mencoba menghindar, Namun kecapatan mobil mewah itu sekilas menabrak Irfan. Irfan tidak bisa berbuat, suara benturan besi sepedanya membuming, irfan sekejap tak sadarkan diri.
****
            Gelap, Sunyi, tak ada yang Irfan rasa. Setelah semalaman Irfan pingsan.Matanya mulai meraba-raba, lalu meratap.Terlintas tampak seorang perempuan berdiri disampingnya, mundar-mandir seperti orang kepanikan, khawatir.Rambutnya lurus hitam terurai sepunggung.Tiba-tiba perempuan itu berbalik.Seketika langsung tertundukmemohon maaf, kemarin sore dia ceroboh sampai menabrak Irfan, sementara Irfan pingsan, dia bawa ke RS. Gunung Ciremai. Dia dengan perasaan bersalahnya siap membayar semua biaya operasional sampai kesembuhan irfan.Irfan masih diam. Dia masih merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya tertebih kakinya, kakinya digiv,ada keretakan di tulang betisnya, belum kuat Irfan bergerak.Lalu, Irfan merenung sejenak.berfikir, Ya Allah, ini semata-mata taqdir-Mu, tak ada yang bisa hambaperbuat tuk melawan kuasa-Mu. Sedikit-demi Irfan mencoba berkata,” tak usah mba terlalu menyalahkan diri, mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan mba, saya juga kurang hati-hati sebelum menikung, Namun, saya merasa, Ini salah satu bukti bahwa Allah SWT masih sayang kepada saya, hingga Allah memberikan peringatan dan cobaan. Tak semua cobaan itu buruk, namun saya yakini bahwa Allah menciptakan dibalik semua cobaan”. Perempuan itupun sedikit meneteskan air mata, terenyuh hatinya akan kata-kata sang pemuda ini. Kemudian, Diapun memperkenalkan diri, namanya Yohana Ziskiya, sering di panggil Hana. Dia seorang Mahasiswi FakultasKedokteran di Unswagati Cirebon tingkat terakhir, sama dengan Irfan. Namun, dalam perkenalannya, Hana sedikit malu terhadap Irfan. Hana merasa dirinya awam akan kata-kata Irfan. Irfan seolah pemuda taat beragama. Lisannyatak lepas dari dzikir dan dalil qur’an yang ia lontarkan. Sementara Hana, walau dari kalangan keluarga baik-baik namun jauh dari ajaran agama. Irfan yang berhati lapang tersenyum, kagum akan tanggungjawab dan kepedulian Hana.
*****
            Keesokan harinya, Pak Kyai bersama Bu Nyai datang menjenguk.Kaget atas kejadian yang menimpa Irfan.Bu Nyai seketika menangis didada Irfan.Beliau merasa Irfan yang yatim sudah menjadi anaknya semenjak Sekolah Aliyah dititipkan Ibunya yang kurang mampu.Pak Kyai menasihati untuk bersabar dan berdo’a semoga lekas sembuh.Tidak lama kemudian, Hana tiba dengan mobil silver mewahnya.Irfan memperkenalkan Hana kepada Pak Kyai dan Bu Nyai.Irfan menceritakan kronologi kejadian, Pak Kyaipun menyadari itu memang takdir, sebagai cobaan untuk Irfan.Setelah shalat Isya, Pak kyai dan Bu nyai masih di ruang perawatan Irfan, tiba-tiba Hana dengan nada datar meminta Bu Nyai agar sementara Irfan biarlah Hana yang menjaga, kasihan Bu Nyai dan Pak Kyai jika harus menjaga Irfan semalaman. Bu Nyai dengan berat hati menyetujui tawaran Hana.
Semalaman Hana menjaga Irfan, obrolanpun bergulir dari kedua mulut. Hana yang berwajah putih bermata agak sipit tak habis menanyakan tentang perkuliahan, lalu berlanjut tentang pemahaman ajaran islam, sampai Hanapun paham dan kagum akan kepintaran dan pengetahuan Irfan yang luas dan dewasa, Hana dengan rambut terurainya terkadang dibuat tertawa oleh Irfan, wajahnya yang layaknya artis Korea juga membuat Irfan tersenyum sendiri.
            Hari-hari berlalu, Hana selalu menyempatkan untuk menjenguk dan menjaga Irfan bergantian dengan Bu Nyai setiap dua hari sekali, pada hari kelima Irfan dirumah sakit, Kawan-kawan Irfan di Meteor datang menjenguk, dan mengabari Pertandinngan antar Universitas lusa akan dimulai, Irfan tidak bisa ikut. Hana yang ada disitu, merasa bersalah. Namun, Irfan memberikan kepercayaan pada Rendy, sang kapten. Pertandingan bisa menang tanpa Irfan asalkan kalian kompak.
            Satu bulan berlalu, Irfan sudah pulih.Iakembali kuliah seperti biasa. The meteor berhasil menjadi juara. Kini Irfan tidak lagi bergabung dengan basketnya, Ia mulai fokus untuk skripsinya. Impian didepan mata, Irfan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, S1-nya cukup cita-cita baginya dan ibunya.Akhirnya, tepat empat bulan Irfan mampu selesaikan skripsinya, Wisuda S1 Fakultas Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati digelar, rangkaian acara dimulai satu demi satu.Diakhir acara, ketika pengumuman nilai IPK tertinggi, Irfanuddin Sholih namanya terpanggil.Semarak hadirin menepukan tangan untuknya, gerak tangis Ibunya mencium pipinya.Pak Kyai dan Bu Nyai yang ikut hadir bangga dan bersyukur memiliki anak asuhan seperti Irfan.
            Sorenya, Irfan membawa ibunya ke Pesantren, setelah bertahun-tahun tinggal di Pesantren, kini di hari wisudanya, Irfan harus berpisah dengan Pak Kyai dan Bu Nyai.Pulang ke kampung kelahirannya di Tasik. Desir suara mobil sedan hitam tiba di halaman pesantren. Rupanya Hana dan keluarganya keluar tidak diduga.Pembicaraan hangat berlangsung di ruang tamu, besama Pak Yai, Bu Nyai dan Ibu Irfan.Pada satu titik, Ayah Hana meminta berbicara sesuatu.Hana baru saja wisuda S1 Kedokteran di Unswagati.Ia ditunjuk untuk melanjutkan S2-nya di Universitas Melbourne, Australia. Namun Hana ragu, karena khawatir kehidupan dan pergaulan disana kalau sendirian.Nah, Kedatangan Ayahnya beserta keluarga bermaksud meminta Irfan untuk menjadi pendamping hidup Hana, yang nanti bisa menjaga dan mengajari Hana.Hana sudah cerita semua tentang Irfan, seberapa dalam keilmuan dan kepintaran Irfan, terutama tentang agama. Hana merasa Irfanlah yang cocok untuk menjadi Imam dalam hidupnya di Australi. Dan disana juga Irfan bisa memegang usaha restaurant milik ayahnya disana.Ibu Zenab juga bisa ikut disana.Pak Kyai dan Ibu Zenab tidak bisa memberi keputusan, semuanya menyerahkan kepada Irfan. Sementara Irfan berfikir dalam, lalu berkata, Ia sebenarnya siap menjadi suami Hana, namun, Irfan ingin maharnya tidak berupa materi, Irfan tidak punya apa-apa kecuali hafalan beberapa juz al qur’an. Dan Irfan memohon jikalau boleh akad nikah cukup dilaksanakan di pesantren dihadiri Pak Kyai dan santri-santri, itu lebih barokah.Pak Kyai akhirnya menyimpulkan. Baiklah, lamaran ini langsung diterima, pernikahan juga langsung dilaksanakan malam ini, cukup yang jadi mahar bacaan tartil surat Ar Rahman dari Irfan didengarkan langsung oleh Hana dan para santri di Mesjid setelah shalat Isya. Hana tersenyum bahagia, cintanya kan mekar disirami alunan al qur’an Irfan. Irfan merasakan bahagia tak tertuga, seakan mimpi setelah lulus wisuda dengan peredikat terbaik, dia juga bisa menjadi suami Hana layaknnya si artis korea. Visinya kini, adalah menciptakan kehidupan rumah tangga islami, sakinah mawaddah wa rahmah di tanah Melbourne, Australi.
kota mukalla, april 2011.
*****

Sunday, 3 March 2013

Do'a Penting untuk Ujian Beserta Petunjuk untuk Para Pelajar


بسم الله الرحمن الرحيم
دُعَاءٌ مُهِمٌّ لِْلاِمْتِحَانِ مَعَ إِرْشَادَاتٍ تَهُمُّ الطَّالِبَ

Do'a Penting untuk Ujian
Beserta Petunjuk untuk Para Pelajar
Penyusun : Sayyid Muhammad Alawy Alydrus (Sa'ad)

Beberapa niat untuk belajar mengajar dan ketika hendak memasuki ujian
                Tidak diragukan lagi bahwasanya niat memiliki peran besar dalam setiap perbuatan. Karenanya, tidak akan menjadi baik suatu perbuatan melainkan ketika berniat yang baik sebelumnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam hadits nabi Muhammad SAW :
إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى
 " Sesungguhnya segala perbuatan tergantung niat, dan setiap orang berdasarkan apa yang diniatinya".
                Apabila seseorang berniat sebelum beramal, lalu memperbagus niatnya, jujur, dan ikhlas dalam niatnya, maka tentu amal perbuatannya akan berhasil karena izin Allah Ta'ala dan Allah akan memberikan taufik baginya menuju kebaikan dan keta'atan yang dikehendaki-Nya.
                Disini, Kita akan menyebutkan sebagian kecil dari beberapa niat yang telah dilakukan ulama-ulama besar, dan kita akan meninggalkan uapaya tambahan untuk para pelajar sesuai apa yang dipandang cocok dan pantas menurut syari'at dan agama.

Niat Imam Al Haddad dalam belajar dan mengajar.
نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ, وَالنَّفْعَ وَالْاِنْتِفَاعَ , وَالْمُذَاكَرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ, وَالْإِفَادَةَ وَالْاِسْتِفَادَةَ , وَالْحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِr  وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى وَالدِّلَالَةَ عَلَى الْخَيْرِ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .
Artinya : " Saya berniat untuk belajar dan mengajar, mengambil dan memberikan manfa'at, mengingat dan mengingatkan, memberi dan menerima faidah, menganjurkan atas kitab Allah SWT. dan sunnah Rasulullah SAW, berdo'a untuk petunjuk, menuntun kepada kebaikan karena mengharap kuasa Allah SWT,Rido-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, ganjaran-Nya Yang Maha Suci dan Maha Luhur".
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ , اَللَّهُمَّ أَلْهِمْنَا عِلْمًا نَفْقَهُ بِهِ أَوَ امِرَكَ وَنَوَاهِيْكَ وَارْزُقْنَا فَهْمًا نَعْرِفُ بِهِ كَيْفَ نُنَاجِيْكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah rahmat ta'dzim kepada baginda kami Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah ilhamkanlah kepada kami ilmu untuk memahami segala perintah dan larangan-Mu, dan berilah kami rizki pemahaman untuk mengerti bagaimana bermunajat kepadamu wahai Dzat Yang Paling Maha Pengasih"
اَللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَّا بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنَا بِالتَّقْوَي وَجَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .
Artinya : " Ya Allah cukupkanlah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan cita-cita, muliakanlah kami dengan taqwa, perbaguslah kami dengan kesehatan Wahai Dzat Yang Paling Maha Pengasih. Dan semoga Allah menambahkan rahmat ta'dzim dan kesejahteraan kepada baginda kami Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya"
Dan juga berniat dengan menjawab ujian untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الصَّلاَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ السَّلَام ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الْبَرَكَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الرَّحْمَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي تَحْتَ أَنْظَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu shalawatpun"
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu kesejahteraanpun" 
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu keberkahanpun" 
" Ya Allah sayangilah umat baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu rahmatpun"
" Ya Allah, Jadikanlah kami berada dibawah naungan baginda kami, Muhammad SAW. 

Kemudian membaca Al Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW. dan untuk guru, karena itu bisa menjadikan berhasil berkat izin Allah SWT. Ini dengan syarat harus bersunguh-sungguh dan berusaha serta melakukan sebab-sebab (untuk untuk berhasil).

Faidah untuk Futuh ( Memperoleh pintu terbuka)
                Imam Al Ghazali mengatakan : " Beberapa sebab cepatnya menghafal ialah:
1.       Konsisten terhadap keta'atan
2.       Meninggalkan kemaksiatan
3.       Menggunakan siwak (gosok gigi)
4.       Meninggalkan tidur
5.       Sholat malam
6.       Membaca Al Qur'an dengan melihat
7.       Meminum madu
8.       Memakan kindir dengan gula (susu badui)
9.       Memakan dua puluh satu anggur kering (kismis) warna merah dengan air ludah.
Ja'far Shodiq RA. Menuturkan : " Barang siapa menuliskan [1] سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ اْلمَلَائِكَةِ وَالرًّوْحِ  pada roti [2] setelah sholat jum'at dan memakannya, maka Allah SWT. akan membukakan baginya pintu futuh dan menyelamatkannya dari musibah. Dan barang siapa sebelum shalat jum'at membaca يَا اللهُ يَا بَصِيْرُ [3]  100x, maka Allah SWT. akan membukakan mata hatinya dan menunjukannya kepada ucapan dan perbautan yang baik".
Al Hasan RA. Mengatakan : " Barang siapa konsisten dalam mengucapkan
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ الْعَارِفِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ حَسَنَاتِ كُلِّ عَارِفٍ وَغَارِفٍ
Artinya : " Semoga Allah memberikan rahmat ta'dzim kepada baginda kami Muhammad SAW, sebagai kunci orang bisa mengerti. (begitu juga) kepada keluarga dan para sahabatnya sebanyak kebaikan setiap orang yang mengerti dan menguasai".
Maka akan diberikan rizki kemudahan, dibukakan mata hatinya dan diperbanyak berkumpul dengan Dzat yang bersinar".
Sekian berkat puji syukur Allah SWT.
Wallau a'lam.
Penerjemah: Hamba yang lemah, Abdul Rahman Malik
Tarim, 1 Maret 2013






[1] Maha Suci Dzat Pemilik Malaikat dan Ruh
[2] Menuliskanya disini bisa dengan telunjuk tangan kanan
[3] Ya Allah Wahai Dzat Yang Maha Melihat
 

Blogger news

Blogroll