Butiran-butiran kristal itu seketika menetes dalam
pusaran bola mata Silvi. Perasaan haru bahagia berdesir deras dalam jiwanya yang
tengah diselimuti dinginnya musim di NegeriSeribu Benteng, Maroko. Segera
Ia singkapkan kemulan selimut panjang
itu dari tubuhnya. Matanya seketika binar tatkala membaca
pesan singkat dari seorang lelaki yang tak asing baginya.
“Aku tulus mencintaimu
Vi…”
Singkat, padat, namun penuh makna dan isyarat.
Diangkatnya kedua jemari Silvi yang langsung
menari, menuliskan balasan isi hatinya yang sukar untuk dibohongi pada teman lamanya itu.
Ilman, nama sapaan lelaki itu, teman seangkatan
Silvi sewaktu SMA tiga tahun lalu. Seragam putih
abu-abu menjadi saksi pertemuan keduanya.
Kepribadian Ilman dulu yang serius pada
pelajaran dan kesibukan organisasinya seakan telah membuatnya lupa akan wanita.
Hanya saja, ada satu wanita yang wajah anggunnya selalu terpotret dan namanya
tercatat dalam memori Ilman sejak awal mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan
Silvi?
Sebenarnya Silvi juga merasakan
kekaguman pada Ilman. Disamping dia anak yang rajin, dia juga tampan dan selalu
berpenampilan rapih. Ranking tiga besar pun rutin disabetnya setiap semester. Hingga
akhirnya lulus dan beasiswa kuliah di Yaman berhasil digenggamannya. Dan kini
pesan cintanya itu terkirim langsung dari Negeri Saba’ yang sedang
dirantauinya.
“Mengapa Ilman baru
sekarang mengungkapkannya? Setelah bertahun-tahun Ia memendamnya?”, hati
Silvi pun bertanya-tanya.
Padahal dulu Ilman sempat berkunjung ke kediaman
Silvi sebelum keduanya diberangkatkan ke dua Negeri tersebut, bahkan beberapa
kali Ilman bertemu dengan orang tua Silvi, sampai ibunda Silvi sempat berpesan,
“Man,
tolong bimbing Silvi yah! dia butuh pengarahan dari seorang teman seperti kamu”
.
Sejak itulah Ilman ingin selalu dekat dengan Silvi
tanpa harus mengungkapkan cintanya. Meski keduanya telah terpisahkan oleh dua
negeri yang terbentang gugusan benua, Ilman tetap merutinkan komunikasi dengan
Silvi melalui chatting-an. Bahkan keduanya sering menciptakan suasana
persaingan prestasi, berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang perkuliahan
yang tengah dijalani keduanya.
“Aa, tolong bantu silvi kerjain tugas kuliah
yah!”, pinta Silvi manja via Messanger.
Aa,
menjadi panggilan hangat Silvi untuk Ilman semenjak keduanya berkomitmen saling
mencintai dan saling mempercayai.
Cinta telah bersemi di hati Ilman dan Silvi, ketulusan
cinta telah mewarnai sosok dua sejoli yang tak menghiraukan jarak ruang dan
waktu.
Indah
terasa cinta ini,
Disaat
hati telah mengungkapkannya,
Tak
seorang pun mengerti,
Dan
hanya kita yang merasakanya,
Bahagia tak terhingga senantiasa
hiasai,
Kala hatiku dan hatimu nan bersatu
cengkrama
Meskipun ruang dan waktu memisahkan
kedua hati
CINTA
kan tetap dalam satu kata bersama kita,
Kini, tinggallah menanti takdir Ilahi
Untuk mempertemukan dua sejoli dalam ikatan
suci.
Dear My Love: Silvi
***
* cerita ini hanyalah fiktif belaka, seandainya ditemukan kesamaan nama atau jalan cerita, itu hanya faktor kebetulan semata....hehe @arman
Cerahnya senin pagi mengawali hari aktifitas Irfan,
ditemani goesan sepeda palang nyentrik berkekuatan sepeda balap, punggungnyamenggendong
tas berisi buku-buku kuliah.jiwa semangat ia pancarkan dari raut muka cerianya,
siap berpetualang dalam dunia ilmu di kampusnya.Jam tujuh pagi pas Irfan
meluncur dari sebuah pesantren dikawasan Kanggraksan Kota Cirebon.Ia mulai
menyusuri jalan raya, melewati gang terobosan, mengikuti belokan dan lampu
merah,begitulah rutinitasnya setiap hari guna meraih gelar S1 Ushuluddin di
IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dedikasi irfan bukanlah rahasia umum lagi diantara
penghuni kampus, Irfan dinobatkan sebagai mahasiswa teladan dua tahun
berturut-turut.Ditahun terakhirnya kini, Irfan ditunjuk kembali memegang
asisten dosen di kelas prodi tafsir.Selain itu pula, Irfan aktif di klub basket
kampus.Baginya, basket merupakan sarana refreshing pelepas kepenatan yang digemarinya
semenjak SMP.Tak khayal, Irfanpun dipasang dalam jajaran pemain intiThe Five
Brothers bersama kawan-kawannya di Meteor Basketball Club. Sementara
job utamanya layer updengan keahlian terobosan dan jump shoot, tak
jarang kemenangan Meteor menjadi kebanggaan berkat tangan emasnya.
Pagi ini Irfan sudah menyiapkan untuk jadwal kegiatan full hari
ini, dari mulai kuliah sampai siang, lalu istirahat sambil shalat dzuhur di
masjid kampus, kemudian latihan basket bersama klub kesayangannya.Priiiiiittttt…priiiiiittt…Terdengar
bunyi peluit dan suara lantang Pak Akyas sudah siap menunggu the meteror
players menengah ke lapangan guna warming up. Pelatih terbaik yang
selama ini membina Irfan dan kawan-kawan hingga nama klub basket kampusnya
sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta basket se-Kota Cirebon. Sambil
pemanasan, Pak Akyaspun mulai bicara, Iamemberikan sebuah pengumuman penting. satu
bulan yang akan datang akan diadakan kompetisi basket antar- Universitas
se-Kota Cirebon yang juaranya akan diikutsertakan mengikuti National
Basketball Tournament of Universities.Terbelalak semua mata mendengarnya,
namun Irfan tak terkusik sedikitpun tanda keceriaan dari raut mukanya.Entah kenapa,
walaupun Irfan pemain handal, dia selalu bersikap biasa saja.Itulah karakter
yang sederhana dari Irfan, tak banyak bicara namun cerdik beraksi.
Setelah tiga minggu latihan optimal, tersisa satu minggu menjelang hari
yang ditunggu. Persiapan tim sudah lumayan matang. Latihan dibubarkan jam
setengah lima sore. Sebelum pulang ke pesantrennya Irfan biasa membersihkan
badan dan shalat ashar dahulu di masjid kampus.Pribadi Irfan selalu tertata
dalam kesehariannya, karenanya Irfan dipesantrennya juga termasuk santri yang
taat pada peraturan.Bisa mengatur waktu kesibukan pesantren, kuliah, dan juga
basketnya.Pak Kyaipun senang dengan kepintaran Irfan dalam ilmu agamanya,sampai
Irfanpun sering ditunjuk mengisi pengajian Ibu-ibu menggantikan Pak Kyai ketika
berhalangan.
Sepeda palangnya sudah siap tuk ditunggangi, kaki kanannya memulai
putaran goesan sepedanya, tak lupa Irfan melafalkan basmalah demi
keselamatannya. Keramaian sore kota Cirebon sudah biasa Irfan temui, kerumunan
pejalan kaki, pengendara motor bahkan mobil-mobil mewah ikut menyemarakan
suasana. Ketika tiba di tikungan, Irfan membelokan stir sepedanya kearah kiri,
tidak dikira mobil sedan silver melesat tepat di depan muka Irfan kencang,
seketika Irfan mencoba menghindar, Namun kecapatan mobil mewah itu sekilas
menabrak Irfan. Irfan tidak bisa berbuat, suara benturan besi sepedanya
membuming, irfan sekejap tak sadarkan diri.
****
Gelap,
Sunyi, tak ada yang Irfan rasa. Setelah semalaman Irfan pingsan.Matanya mulai
meraba-raba, lalu meratap.Terlintas tampak seorang perempuan berdiri
disampingnya, mundar-mandir seperti orang kepanikan, khawatir.Rambutnya lurus
hitam terurai sepunggung.Tiba-tiba perempuan itu berbalik.Seketika langsung tertundukmemohon
maaf, kemarin sore dia ceroboh sampai menabrak Irfan, sementara Irfan pingsan,
dia bawa ke RS. Gunung Ciremai. Dia dengan perasaan bersalahnya siap membayar semua
biaya operasional sampai kesembuhan irfan.Irfan masih diam. Dia masih merasakan
kesakitan di sekujur tubuhnya tertebih kakinya, kakinya digiv,ada keretakan di
tulang betisnya, belum kuat Irfan bergerak.Lalu, Irfan merenung sejenak.berfikir,
Ya Allah, ini semata-mata taqdir-Mu, tak ada yang bisa hambaperbuat tuk melawan
kuasa-Mu. Sedikit-demi Irfan mencoba berkata,” tak usah mba terlalu menyalahkan
diri, mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan mba, saya juga kurang hati-hati
sebelum menikung, Namun, saya merasa, Ini salah satu bukti bahwa Allah SWT
masih sayang kepada saya, hingga Allah memberikan peringatan dan cobaan. Tak semua
cobaan itu buruk, namun saya yakini bahwa Allah menciptakan dibalik semua
cobaan”. Perempuan itupun sedikit meneteskan air mata, terenyuh hatinya akan
kata-kata sang pemuda ini. Kemudian, Diapun memperkenalkan diri, namanya Yohana
Ziskiya, sering di panggil Hana. Dia seorang Mahasiswi FakultasKedokteran di
Unswagati Cirebon tingkat terakhir, sama dengan Irfan. Namun, dalam
perkenalannya, Hana sedikit malu terhadap Irfan. Hana merasa dirinya awam akan
kata-kata Irfan. Irfan seolah pemuda taat beragama. Lisannyatak lepas dari dzikir
dan dalil qur’an yang ia lontarkan. Sementara Hana, walau dari kalangan
keluarga baik-baik namun jauh dari ajaran agama. Irfan yang berhati lapang tersenyum,
kagum akan tanggungjawab dan kepedulian Hana.
*****
Keesokan
harinya, Pak Kyai bersama Bu Nyai datang menjenguk.Kaget
atas kejadian yang menimpa Irfan.Bu Nyai seketika menangis didada Irfan.Beliau
merasa Irfan yang yatim sudah menjadi anaknya semenjak Sekolah Aliyah
dititipkan Ibunya yang kurang mampu.Pak Kyai menasihati untuk bersabar dan
berdo’a semoga lekas sembuh.Tidak lama kemudian,
Hana tiba dengan mobil silver mewahnya.Irfan memperkenalkan Hana kepada Pak
Kyai dan Bu Nyai.Irfan menceritakan kronologi kejadian, Pak Kyaipun menyadari
itu memang takdir, sebagai cobaan untuk Irfan.Setelah shalat Isya, Pak kyai dan
Bu nyai masih di ruang perawatan Irfan, tiba-tiba Hana dengan nada datar meminta
Bu Nyai agar sementara Irfan biarlah Hana yang menjaga, kasihan Bu Nyai dan Pak
Kyai jika harus menjaga Irfan semalaman. Bu Nyai dengan berat hati menyetujui
tawaran Hana.
Semalaman Hana menjaga Irfan, obrolanpun bergulir dari kedua mulut. Hana
yang berwajah putih bermata agak sipit tak habis menanyakan tentang perkuliahan,
lalu berlanjut tentang pemahaman ajaran islam, sampai Hanapun paham dan kagum
akan kepintaran dan pengetahuan Irfan yang luas dan dewasa, Hana dengan rambut
terurainya terkadang dibuat tertawa oleh Irfan, wajahnya yang layaknya artis
Korea juga membuat Irfan tersenyum sendiri.
Hari-hari
berlalu, Hana selalu menyempatkan untuk menjenguk dan menjaga Irfan bergantian
dengan Bu Nyai setiap dua hari sekali, pada hari kelima Irfan dirumah sakit,
Kawan-kawan Irfan di Meteor datang menjenguk, dan mengabari
Pertandinngan antar Universitas lusa akan dimulai, Irfan tidak bisa ikut. Hana
yang ada disitu, merasa bersalah. Namun, Irfan memberikan kepercayaan pada
Rendy, sang kapten. Pertandingan bisa menang tanpa Irfan asalkan kalian kompak.
Satu
bulan berlalu, Irfan sudah pulih.Iakembali kuliah seperti biasa. The meteor
berhasil menjadi juara. Kini Irfan tidak lagi bergabung dengan basketnya, Ia
mulai fokus untuk skripsinya. Impian didepan mata, Irfan tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan, S1-nya cukup cita-cita baginya dan ibunya.Akhirnya,
tepat empat bulan Irfan mampu selesaikan skripsinya, Wisuda S1 Fakultas
Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati digelar, rangkaian acara dimulai satu demi
satu.Diakhir acara, ketika pengumuman nilai IPK tertinggi, Irfanuddin Sholih
namanya terpanggil.Semarak hadirin menepukan tangan untuknya, gerak tangis
Ibunya mencium pipinya.Pak Kyai dan Bu Nyai yang ikut hadir bangga dan
bersyukur memiliki anak asuhan seperti Irfan.
Sorenya,
Irfan membawa ibunya ke Pesantren, setelah bertahun-tahun tinggal di Pesantren,
kini di hari wisudanya, Irfan harus berpisah dengan Pak Kyai dan Bu Nyai.Pulang
ke kampung kelahirannya di Tasik. Desir suara mobil sedan hitam tiba di halaman
pesantren. Rupanya Hana dan keluarganya keluar tidak diduga.Pembicaraan hangat
berlangsung di ruang tamu, besama Pak Yai, Bu Nyai dan Ibu Irfan.Pada satu
titik, Ayah Hana meminta berbicara sesuatu.Hana baru saja wisuda S1 Kedokteran
di Unswagati.Ia ditunjuk untuk melanjutkan S2-nya di Universitas Melbourne,
Australia. Namun Hana ragu, karena khawatir kehidupan dan pergaulan disana
kalau sendirian.Nah, Kedatangan Ayahnya beserta keluarga bermaksud meminta Irfan
untuk menjadi pendamping hidup Hana, yang nanti bisa menjaga dan mengajari Hana.Hana
sudah cerita semua tentang Irfan, seberapa dalam keilmuan dan kepintaran Irfan,
terutama tentang agama. Hana merasa Irfanlah yang cocok untuk menjadi Imam
dalam hidupnya di Australi. Dan disana juga Irfan bisa memegang usaha
restaurant milik ayahnya disana.Ibu Zenab juga bisa ikut disana.Pak Kyai dan
Ibu Zenab tidak bisa memberi keputusan, semuanya menyerahkan kepada Irfan.
Sementara Irfan berfikir dalam, lalu berkata, Ia sebenarnya siap menjadi suami
Hana, namun, Irfan ingin maharnya tidak berupa materi, Irfan tidak punya
apa-apa kecuali hafalan beberapa juz al qur’an. Dan Irfan memohon jikalau boleh
akad nikah cukup dilaksanakan di pesantren dihadiri Pak Kyai dan santri-santri,
itu lebih barokah.Pak Kyai akhirnya menyimpulkan. Baiklah, lamaran ini langsung
diterima, pernikahan juga langsung dilaksanakan malam ini, cukup yang jadi
mahar bacaan tartil surat Ar Rahman dari Irfan didengarkan langsung oleh Hana
dan para santri di Mesjid setelah shalat Isya. Hana tersenyum bahagia, cintanya
kan mekar disirami alunan al qur’an Irfan. Irfan merasakan bahagia tak tertuga,
seakan mimpi setelah lulus wisuda dengan peredikat terbaik, dia juga bisa
menjadi suami Hana layaknnya si artis korea. Visinya kini, adalah menciptakan
kehidupan rumah tangga islami, sakinah mawaddah wa rahmah di tanah Melbourne,
Australi. kota mukalla, april 2011.
Beberapa niat untuk belajar
mengajar dan ketika hendak memasuki ujian
Tidak diragukan
lagi bahwasanya niat memiliki peran besar dalam setiap perbuatan. Karenanya,
tidak akan menjadi baik suatu perbuatan melainkan ketika berniat yang baik
sebelumnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam hadits nabi Muhammad SAW :
إنما
الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى
" Sesungguhnya
segala perbuatan tergantung niat, dan setiap orang berdasarkan apa yang
diniatinya".
Apabila
seseorang berniat sebelum beramal, lalu memperbagus niatnya, jujur, dan ikhlas
dalam niatnya, maka tentu amal perbuatannya akan berhasil karena izin Allah
Ta'ala dan Allah akan memberikan taufik baginya menuju kebaikan dan keta'atan
yang dikehendaki-Nya.
Disini,
Kita akan menyebutkan sebagian kecil dari beberapa niat yang telah dilakukan
ulama-ulama besar, dan kita akan meninggalkan uapaya tambahan untuk para
pelajar sesuai apa yang dipandang cocok dan pantas menurut syari'at dan agama.
Artinya : " Saya berniatuntuk belajar dan mengajar, mengambil dan memberikan
manfa'at, mengingat dan mengingatkan, memberi dan menerima faidah, menganjurkan
atas kitab Allah SWT. dan sunnah Rasulullah SAW, berdo'a untuk petunjuk,
menuntun kepada kebaikan karena mengharap kuasa Allah SWT,Rido-Nya, mendekatkan
diri pada-Nya, ganjaran-Nya Yang Maha Suci dan Maha Luhur".
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah rahmat ta'dzim kepada
baginda kami Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah
ilhamkanlah kepada kami ilmu untuk memahami segala perintah dan larangan-Mu,
dan berilah kami rizki pemahaman untuk mengerti bagaimana bermunajat kepadamu
wahai Dzat Yang Paling Maha Pengasih"
Artinya : " Ya
Allah cukupkanlah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan cita-cita, muliakanlah
kami dengan taqwa, perbaguslah kami dengan kesehatan Wahai Dzat Yang Paling
Maha Pengasih. Dan semoga Allah menambahkan rahmat ta'dzim dan kesejahteraan
kepada baginda kami Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya"
Dan juga berniat dengan menjawab ujian untuk mendapatkan nilai yang
tinggi.
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami
Muhammad hingga tak tersisa suatu shalawatpun"
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad
hingga tak tersisa suatu kesejahteraanpun"
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad
hingga tak tersisa suatu keberkahanpun"
" Ya Allah sayangilah umat baginda kami Muhammad hingga tak tersisa
suatu rahmatpun"
" Ya Allah, Jadikanlah kami berada dibawah naungan baginda kami, Muhammad
SAW.
Kemudian
membaca Al Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW. dan untuk guru, karena itu bisa
menjadikan berhasil berkat izin Allah SWT. Ini dengan syarat harus
bersunguh-sungguh dan berusaha serta melakukan sebab-sebab (untuk untuk
berhasil).
Faidah untuk Futuh (
Memperoleh pintu terbuka)
Imam
Al Ghazali mengatakan : " Beberapa sebab cepatnya menghafal ialah:
1.Konsisten terhadap keta'atan
2.Meninggalkan kemaksiatan
3.Menggunakan siwak (gosok gigi)
4.Meninggalkan tidur
5.Sholat malam
6.Membaca Al Qur'an dengan melihat
7.Meminum madu
8.Memakan kindir dengan gula (susu badui)
9.Memakan dua puluh satu anggur kering (kismis) warna merah dengan
air ludah.
Ja'far
Shodiq RA. Menuturkan : " Barang siapa menuliskan[1] سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ اْلمَلَائِكَةِ وَالرًّوْحِ pada
roti [2]
setelah sholat jum'at dan memakannya, maka Allah SWT. akan membukakan baginya
pintu futuh dan menyelamatkannya dari musibah. Dan barang siapa sebelum
shalat jum'at membaca يَا اللهُ يَا بَصِيْرُ [3]100x,
maka Allah SWT. akan membukakan mata hatinya dan menunjukannya kepada ucapan
dan perbautan yang baik".
Al
Hasan RA. Mengatakan : " Barang siapa konsisten dalam mengucapkan
Artinya : " Semoga Allah memberikan rahmat ta'dzim kepada baginda
kami Muhammad SAW, sebagai kunci orang bisa mengerti. (begitu juga) kepada
keluarga dan para sahabatnya sebanyak kebaikan setiap orang yang mengerti dan
menguasai".
Maka akan diberikan rizki kemudahan,
dibukakan mata hatinya dan diperbanyak berkumpul dengan Dzat yang
bersinar".
Derap lisan Fawwaz yang lanyah melafalkan ayat demi
ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir
keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan
tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila
menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan
bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa
murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi
karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari
ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah
mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana
namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu
istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali.
Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa
meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim
sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru
dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman.
Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang
dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah
siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang
setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan
membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia
harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara
wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping
daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal
dengan sebaik-baiknya.
" Ahsanta…. Ya ibni…",
Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??….
Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain
mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu
tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang
terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana
Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang
dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam,
wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak
terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya
belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa
bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan
hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah
terbaik.
Salah
satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi
penghafal qur'an menjadi hal lumrah dimata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah
menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di
masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.***
Mushaf kecil kesayangannya
Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju
kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu
bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia
kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir
musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit
Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan,
lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam
sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya
harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau
jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran
rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya.
Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum
alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda
ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia
di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari,
waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib,
tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan
dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan
mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini.
Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk
Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan
dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua
matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan
pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang
tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam
dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang
tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap
gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud
putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz
terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum
pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung
putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat
menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa
digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz
dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum…
Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda
sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih
besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa
memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari
yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam
dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami
sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia
yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat
surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an
mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya.
Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa
menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala
Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam
penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk
disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika
tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz
spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz …
Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas
bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai
teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz,
selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di
kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz
menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya
gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru
siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum
menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari
yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam
besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap
mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya
tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyahmelafalkan ayat demi
ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir
keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan
tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila
menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan
bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa
murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi
karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari
ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah
mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana
namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu
istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali.
Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa
meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim
sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru
dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman.
Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang
dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah
siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang
setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan
membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia
harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara
wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping
daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal
dengan sebaik-baiknya.
" Ahsanta…. Ya ibni…",
Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??….
Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain
mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu
tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang
terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana
Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang
dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam,
wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak
terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya
belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa
bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan
hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah
terbaik.
Salah
satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi
penghafal qur'an menjadi hal lumrah dimata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah
menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di
masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.***
Mushaf kecil kesayangannya
Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju
kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu
bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia
kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir
musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit
Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan,
lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam
sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya
harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau
jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran
rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya.
Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum
alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda
ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia
di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari,
waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib,
tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan
dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan
mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini.
Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk
Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan
dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua
matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan
pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang
tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam
dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang
tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap
gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud
putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz
terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum
pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung
putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat
menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa
digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz
dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum…
Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda
sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih
besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa
memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari
yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam
dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami
sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia
yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat
surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an
mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya.
Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa
menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala
Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam
penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk
disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika
tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz
spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz …
Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas
bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai
teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz,
selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di
kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz
menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya
gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru
siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum
menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari
yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam
besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap
mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya
tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???