Follow us on FaceBook

Tuesday, 19 February 2013

Senyum di Senja Saba'


'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyah melafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyahmelafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
Inilah Ceritaku

Saturday, 16 February 2013

99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Juli 2011
Tebal : 412 halaman

Hubungan dunia Eropa dan Islam mulai memanas sejak rusuhnya berbagai kejadian dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sebut saja, pengeboman Madrid dan London, kemudian serangan teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun nabi Muhammad, semuanya menyebabkan ketegangan hubungan antara Islam dan Eropa. Islam menjadi sesuatu yang menakutkan. Sehingga peradaban Islam di daratan Eropa menjadi sesuatu yang kian lama kian disudutkan.

Yang paling menonjol adalah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Alquran, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Akibatnya, Islam terstigma dengan agama yang berkonotasi negatif dan menyebabkan kegincuan antara Islam dan dunia Eropa.

Ikhtiar untuk menghilangkan stigma demikian datang dari catatan perjalanan atas pencarian cahaya Islam di Eropa. Hanum Salsabiela Rais-Rangga Mahendra menemukan secercah cahaya perdaban Islam di Eropa yang sejatinya sejak dulu terbentang bertautan membentuk peradaban dan ilmu pengetahuan. Berbekal pengalaman selaman tiga tahun tinggal di Eropa, Hanum menemukan hal baru yang selama ini belum tersentuh oleh banyak kalangan.

Eropa dan Islam ternyata merupakan dua sejoli yang dulu pernah menjadi pasangan serasi. Eropa sesungguhnya menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Kekuatan Islam di Eropa pernah menjadi inovator dan menjaga peradaban sebagaimana masa-masa Islam berkembang di Madinah dan Mekkah. Islam pernah menebar cahaya kedamaian dan persaudaraan di samudera Eropa.

Penelusuran Hanum menemukan bahwa Islam masuk dan menyinari Spanyol selama 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama dari pada Indonesia. Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyayanginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Yang menarik, ternyata yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, Socrates, yang pada akhirnya mengantarkan Eropa pada lanskap renaisance kemajuan, tak lain adalah peradaban Islam. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol yang pernah menjadi pusat perdaban pengetahuan dunia, juga mampu membuat beberapa negara seperti Paris dan London beriri hati.

Dengan daya pikat bahasa yang lugas nan tandas, Hanum mampu menghadirkan detak gambaran  bagaimana jatuh bangun peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Buku ini lebih dari novel biasa, bukan pula buku traveling yang memandu perjalanan, lebih dari itu novel ini menghanyutkan akan unggahan pemahaman dan perilaku beragama kita selama ini. Misalnya, radikalisme agama terlanjur teridentifikasi erat dengan dunia Islam.

Karena itu, Hanum mencoba memosisikan kembali hubungan harmonis Islam dan Eropa dalam pertautan wajah kebersamaan untuk menghadirkan gemuruh cahaya peradaban Islam seperti waktu dulu. Novel ini mampu memberikan pemahaman bahwa Islam “nyata” menjadi kekuatan alternatif yang dominan bagi pembangunan bangsa dan kemanusiaan. Hanum mampu merakit rentetan mozaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu dengan anggitan penilaian obyektif.

Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang

Resensi Novel 5 cm


Info : http://www.21cineplex.com
Author : Rizal Mantovani
Star : Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor 'Saykoji', Denny Sumargo, Raline Shah
Genre : Drama
Producer : SUNIL SORAYA
Production : SORAYA RAM
Director : Rizal Mantovani
Sinopsis : 
Film ini diangkat dari novel berjudul sama 5 cm. 17 Agustus di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya.
Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sepuluh tahun lamanya. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Zafran yang puitis, sedikit "gila", apa adanya, idealis, agak narsis, dan memiliki bakat untuk menjadi orang terkenal. Riani yang merupakan gadis cerdas, cerewet, dan mempunyai ambisi untuk cita-citanya. Genta, pria yang tidak senang mementingkan dirinya sendiri sehingga memiliki jiwa pemimpin dan mampu membuat orang lain nyaman di sekitarnya. Arial, pria termacho diantara pemain lainnya, hobi berolah raga, paling taat aturan, namun paling canggung kenalan dengan wanita. Ian, dia memiliki badan yang paling subur dibandingkan teman-temannya, penggemar indomie dan bola, paling telat wisuda. Ada pula Dinda yang merupakan adik dari Arial, seorang mahasiswi cantik yang sebenarnya dicintai Zafran. Suatu hari mereka berlima merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.

Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlima pun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia. Petualangan dalam kisah ini, bukanlah petualangan yang menantang adrenalin, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak gunung. Tapi petualangan ini, juga perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan yang erat, dan hati yang mencintai negeri ini.

Segala rintangan dapat mereka hadapi, karena mereka memiliki impian. Impian yang ditaruh 5cm dari depan kening. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/5_cm)

Thursday, 3 January 2013

Bismillahirrahmanirrahim, Shallallahu 'alan Nabi...

Senandung irama shalawat bertaburkan aroma harmonis kebersamaan,
Menyatu padukan semarak kebahagiaan di jiwa,

Setelah kucuran keringat berminggu-minggu harus tertumpahkan
Segala energi dan daya ingat dikerahkan,
Kaki di kepala dan kepala di kaki demi muroj'ah ujian,
Sungguh itulah segala upaya dan perjuangan,

Semoga dengan lantunan Maulid Simthud Duror yang bersama kita bacakan,
Mengantarkan kita menuju pintu gerbang keberhasilan....
Amiin...
 di Kota Tarim,
Setelah menghadiri acara Maulid di Sakan Qohum. 11.00 KSA.

Tuesday, 20 November 2012

Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim, Yaman


Bismillahirrrahmanirrahim…

Tibanya tahun ajaran baru menjadi momentum segar dengan kedatangan alumni MAK Al Hikmah 2 baru di Negeri Saba'. Ya, itulah sebutan negara yang akrab kita kenal kini dengan Negara Yaman. Setiap tahunnya, para pencari ilmu berbondong-bondong datang demi segenggam ilmu syari'at yang menjadi tujuannya. Tak ketinggalan Alumni MAK Al Hikmah 2 Bumiayupun termasuk salah satu dari deretan lembaga pendidikan yang kerap memberangkatkan pelajarnya ke Negeri tersebut.
kiri : Khoirul Jadi, M. Fuad Mas'ud, Fathul Bary, Khoirul Amrullah, Robby Adriyanto, Tohirin, Arman Malieky
Tahun Ajaran 2012-2013 kini, Universitas Al Ahgaff, Yaman tepatnya, kedatangan 3 generasi baru MAK Al Hikmah 2, Khoirul Jadi, Robby Adrianto, dan Fathul Bari. Hadirnya mereka menambah kapasitas Alumni MAK di Yaman, yang kini menjadi 8 pelajar putra. Penambahan yang cukup signifikan, karena setiap tahunnya kisaran 1 atau 2 pelajar saja yang bisa berangkat.
Setelah tiba di kota Mukalla, Yaman (28/09/2012), mereka bertiga seperti itik kehilangan induknya. Mengikuti perkuliahan tanpa hidup bersama kakak kelas. Begitulah,,, semua kakak kelas di tingkat II sampai akhir berlokasi di kota Tarim. Jaraknya sekitar 6 jam perjalanan angkutan darat. Lantas merekapun sengaja mengisi liburan Idul Adha dengan berwisata religi ke kota Tarim, Provinsi Hadhramaut. Dengan berbekalkan izin dari staff Idaroh Universitas Al Ahgaff, Mukalla, akhirnya mereka melesat ke kota Tarim, kota yang masyhur sebagai kota wali, ilmu dan ulama.
Dua hari sebelum Idul Adha, tepat pukul 13.00 waktu setempat (KSA), mereka tiba di halaman kampus Universitas Al Ahgaff, Tarim. Semarak suka gempita menyelimuti tatkala mereka disambut Alumni MAK Al Hikmah 2 lainya. " Wahh wahh, marhaban ahlan wa sahlan, bisa jumpa lagi di Yaman, kangen nih sama kalian, adik-adikku", ungkap Thohirin, salah satu Alumni MAK Al Hikmah 2 yang duduk di Mustawa II Univesitas Al Ahgaf, Tarim.
" Iya Khi, kita-kita kesepian , masa kakak-kakaknya di Tarim, adik-adiknya merana jauh di Mukalla,,, Hehe", pungkas Jadid mewakili ketiganya.
" Ya kan sekarang sudah kumpul bareng di Tarim, yuk kita nostalgia bareng mengingat sweet memorian Al Hikmah 2, pondok kesayangan", lanjut Arman yang sama di Mustawa II.
                Liburan Idul Adha kali ini bertajuk " Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim". sengaja diberi judul demikian, karena tak lain tujuannya adalah berziarah ke makam-makam auliya dan jalan-jalan mengitari masjid-mesjid bersejarah di Kota Tarim.
                " Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,, Allahu Akbar… Laa Ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu...". Suara gema takbir meramaikan seantareo kota Tarim. pakaian serba putih dikenakan seluruh masyarakat dalam Ibadah Sholat 'Ied. Kitapun mengikuti tradisi yang ada, berpeci putih, berjubah putih, dan berkalung sorban. Sungguh, menambah kekhusyuan dan ketenangan dalam bathin. Siap menghadap Ilahi Rabb berjama'ah di Mesjid Jabanah, 1 km dari kampus Al Ahgaff.
                Lekas Shalat 'ied, kami bersalam-salaman baik sesama pelajar Indonesia ataupun masyarakat arab Tarim. " 'Ied Mubarok,,,'alaina wa 'alaikum insya allah", ucap seorang warga Tarim, yang ber'imamah putih. Seperti dari kalangan masyayikh.
                Kemudian kami berziarah ke Maqbaroh Zanbal. 200 meter sebelah kiri masjid Jabanah. Pelatarannya begitu luas dan dipenuhi banyak batu nisan maqom para wali. Hal itu karena memang ribuan wali disemayamkan disana, bahkan beberapa ashabul badr[1] yang dulu diutus Rasullullah ke Yaman. Tak heran, karenanya Yaman dijuluki sebagai Negeri Seribu Wali.  
Setapak demi setapak kami melangkah. Pertama menziarohi maqbarah al Ustadzul A'dzom Sayyidina al Faqih al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath (574 - 653 H.). Beliau adalah seorang wali besar, al 'arif billah, pemuka para imam dan ulama, pemuka thoriqoh 'Alawiyyah yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah luar biasa. Beliau termasuk wali quthb yang banyak menghasilkan para ulama besar di zamannya.
                Dikisahkan beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi, yaitu as Syaikh Sa'ad bin 'Ali adz-Dzofari. Setelah as Syaikh Sa'ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, Ia terkagum-kagum dan merasakan cahaya dan rahasia batin yang ada didalamnya. Lantas membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, " Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah swt yang tidak dimiliki siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan  syari'ah dan haqiqah, baik yang dzahir maupun bathin".
                 Kemudian kami beralih menuju maqom 'Amul Faqih (Paman Faqih Muqoddam) as Sayyid Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath (w. 613 H). Beliaulah kakek moyang dari wali songo yang telah menyebarkan islam di Indonesia. Karena itulah, asal usul wali songo dan para habaib 'alawiyyin di Nusantara, sebenarnya bermula dari tanah Tarim, Yaman.
Lisan ini tak henti-hentinya berdo'a dan bersholawat sepanjang ziyaroh hingga sampai  di depan maqbaroh al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al Masyhur (1250-1320 H), Pengarang Bughyatul Mustarsyidin. Lalu menuju Dhorihah[2] al Imam al Habib Abdurrahman as Seggaf bin Muhammad Maula Dawilayh (739-819H). Beliau dijuluki al Faqih al Muqoddam ats- Tsani karena saking alim dan ma'rifatnya kepada Allah swt. Beliau jugalah orang pertama dari kalangan alawiyyin yang dijuluki 'as Seggaf'.
Berikutnya memasuki Qubbah Waliyullah Sulthonul Mala, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus (811-865 H) bin Abu Bakar as Sakran bin Abdurrahman as Seggaf Faqih Muqoddam Tsani. Beliau, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus merupakan putra pengarang Hizib Sakron, dan juga orang pertama yang dijuluki 'al 'Aydrus'.
Dan Terakhir, Kami menziarahi pemakaman Waliyullah al Qutub al Imam Abdullah Alawy al Haddad (1044-1132 H), pengarang kitab Risalatul Mu'awanah dan an Nashoih ad Diniyah.  Beliau disebut sebagai ulama mujaddid atau tokoh pembaharu abad 12. Banyak karangan beliau dalam segala fan ilmu  telah sampai ke semua penjuru dunia.
Demikianlah wisata religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim kali ini. Cerita ziyaroh Zanbal ini hanya satu dari beberapa objek wisata religi di Tarim yang kami singgahi. Selepas beberapa hari bersama ketiga adik kelas, akhirnya mereka dengan berat hati harus kembali ke Mukalla. Cukup perjumpaan kami sampai disitu dahulu sebagai pengisi liburan idul adha. Kelak kamipun pasti kan dipertemukan kembali, tatkala mereka naik tingkat berikutnya, tentunya di kota seribu wali, Tarim. (Arman Malieky/author).


[1]  Ashabul Badr : para sahabat nabi yang ikut serta dalam perang badr (12 Bulan setelah Hijrah Nabi Muhammad saw.)
[2]  Dhorihah : Maqom
 

Blogger news

Blogroll