Follow us on FaceBook

Tuesday, 20 November 2012

Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim, Yaman


Bismillahirrrahmanirrahim…

Tibanya tahun ajaran baru menjadi momentum segar dengan kedatangan alumni MAK Al Hikmah 2 baru di Negeri Saba'. Ya, itulah sebutan negara yang akrab kita kenal kini dengan Negara Yaman. Setiap tahunnya, para pencari ilmu berbondong-bondong datang demi segenggam ilmu syari'at yang menjadi tujuannya. Tak ketinggalan Alumni MAK Al Hikmah 2 Bumiayupun termasuk salah satu dari deretan lembaga pendidikan yang kerap memberangkatkan pelajarnya ke Negeri tersebut.
kiri : Khoirul Jadi, M. Fuad Mas'ud, Fathul Bary, Khoirul Amrullah, Robby Adriyanto, Tohirin, Arman Malieky
Tahun Ajaran 2012-2013 kini, Universitas Al Ahgaff, Yaman tepatnya, kedatangan 3 generasi baru MAK Al Hikmah 2, Khoirul Jadi, Robby Adrianto, dan Fathul Bari. Hadirnya mereka menambah kapasitas Alumni MAK di Yaman, yang kini menjadi 8 pelajar putra. Penambahan yang cukup signifikan, karena setiap tahunnya kisaran 1 atau 2 pelajar saja yang bisa berangkat.
Setelah tiba di kota Mukalla, Yaman (28/09/2012), mereka bertiga seperti itik kehilangan induknya. Mengikuti perkuliahan tanpa hidup bersama kakak kelas. Begitulah,,, semua kakak kelas di tingkat II sampai akhir berlokasi di kota Tarim. Jaraknya sekitar 6 jam perjalanan angkutan darat. Lantas merekapun sengaja mengisi liburan Idul Adha dengan berwisata religi ke kota Tarim, Provinsi Hadhramaut. Dengan berbekalkan izin dari staff Idaroh Universitas Al Ahgaff, Mukalla, akhirnya mereka melesat ke kota Tarim, kota yang masyhur sebagai kota wali, ilmu dan ulama.
Dua hari sebelum Idul Adha, tepat pukul 13.00 waktu setempat (KSA), mereka tiba di halaman kampus Universitas Al Ahgaff, Tarim. Semarak suka gempita menyelimuti tatkala mereka disambut Alumni MAK Al Hikmah 2 lainya. " Wahh wahh, marhaban ahlan wa sahlan, bisa jumpa lagi di Yaman, kangen nih sama kalian, adik-adikku", ungkap Thohirin, salah satu Alumni MAK Al Hikmah 2 yang duduk di Mustawa II Univesitas Al Ahgaf, Tarim.
" Iya Khi, kita-kita kesepian , masa kakak-kakaknya di Tarim, adik-adiknya merana jauh di Mukalla,,, Hehe", pungkas Jadid mewakili ketiganya.
" Ya kan sekarang sudah kumpul bareng di Tarim, yuk kita nostalgia bareng mengingat sweet memorian Al Hikmah 2, pondok kesayangan", lanjut Arman yang sama di Mustawa II.
                Liburan Idul Adha kali ini bertajuk " Wisata Religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim". sengaja diberi judul demikian, karena tak lain tujuannya adalah berziarah ke makam-makam auliya dan jalan-jalan mengitari masjid-mesjid bersejarah di Kota Tarim.
                " Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,, Allahu Akbar… Laa Ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu...". Suara gema takbir meramaikan seantareo kota Tarim. pakaian serba putih dikenakan seluruh masyarakat dalam Ibadah Sholat 'Ied. Kitapun mengikuti tradisi yang ada, berpeci putih, berjubah putih, dan berkalung sorban. Sungguh, menambah kekhusyuan dan ketenangan dalam bathin. Siap menghadap Ilahi Rabb berjama'ah di Mesjid Jabanah, 1 km dari kampus Al Ahgaff.
                Lekas Shalat 'ied, kami bersalam-salaman baik sesama pelajar Indonesia ataupun masyarakat arab Tarim. " 'Ied Mubarok,,,'alaina wa 'alaikum insya allah", ucap seorang warga Tarim, yang ber'imamah putih. Seperti dari kalangan masyayikh.
                Kemudian kami berziarah ke Maqbaroh Zanbal. 200 meter sebelah kiri masjid Jabanah. Pelatarannya begitu luas dan dipenuhi banyak batu nisan maqom para wali. Hal itu karena memang ribuan wali disemayamkan disana, bahkan beberapa ashabul badr[1] yang dulu diutus Rasullullah ke Yaman. Tak heran, karenanya Yaman dijuluki sebagai Negeri Seribu Wali.  
Setapak demi setapak kami melangkah. Pertama menziarohi maqbarah al Ustadzul A'dzom Sayyidina al Faqih al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath (574 - 653 H.). Beliau adalah seorang wali besar, al 'arif billah, pemuka para imam dan ulama, pemuka thoriqoh 'Alawiyyah yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah luar biasa. Beliau termasuk wali quthb yang banyak menghasilkan para ulama besar di zamannya.
                Dikisahkan beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi, yaitu as Syaikh Sa'ad bin 'Ali adz-Dzofari. Setelah as Syaikh Sa'ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, Ia terkagum-kagum dan merasakan cahaya dan rahasia batin yang ada didalamnya. Lantas membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, " Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah swt yang tidak dimiliki siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan  syari'ah dan haqiqah, baik yang dzahir maupun bathin".
                 Kemudian kami beralih menuju maqom 'Amul Faqih (Paman Faqih Muqoddam) as Sayyid Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath (w. 613 H). Beliaulah kakek moyang dari wali songo yang telah menyebarkan islam di Indonesia. Karena itulah, asal usul wali songo dan para habaib 'alawiyyin di Nusantara, sebenarnya bermula dari tanah Tarim, Yaman.
Lisan ini tak henti-hentinya berdo'a dan bersholawat sepanjang ziyaroh hingga sampai  di depan maqbaroh al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al Masyhur (1250-1320 H), Pengarang Bughyatul Mustarsyidin. Lalu menuju Dhorihah[2] al Imam al Habib Abdurrahman as Seggaf bin Muhammad Maula Dawilayh (739-819H). Beliau dijuluki al Faqih al Muqoddam ats- Tsani karena saking alim dan ma'rifatnya kepada Allah swt. Beliau jugalah orang pertama dari kalangan alawiyyin yang dijuluki 'as Seggaf'.
Berikutnya memasuki Qubbah Waliyullah Sulthonul Mala, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus (811-865 H) bin Abu Bakar as Sakran bin Abdurrahman as Seggaf Faqih Muqoddam Tsani. Beliau, as Sayyid Abdullah al 'Aydrus merupakan putra pengarang Hizib Sakron, dan juga orang pertama yang dijuluki 'al 'Aydrus'.
Dan Terakhir, Kami menziarahi pemakaman Waliyullah al Qutub al Imam Abdullah Alawy al Haddad (1044-1132 H), pengarang kitab Risalatul Mu'awanah dan an Nashoih ad Diniyah.  Beliau disebut sebagai ulama mujaddid atau tokoh pembaharu abad 12. Banyak karangan beliau dalam segala fan ilmu  telah sampai ke semua penjuru dunia.
Demikianlah wisata religi Alumni MAK Al Hikmah 2 di Tarim kali ini. Cerita ziyaroh Zanbal ini hanya satu dari beberapa objek wisata religi di Tarim yang kami singgahi. Selepas beberapa hari bersama ketiga adik kelas, akhirnya mereka dengan berat hati harus kembali ke Mukalla. Cukup perjumpaan kami sampai disitu dahulu sebagai pengisi liburan idul adha. Kelak kamipun pasti kan dipertemukan kembali, tatkala mereka naik tingkat berikutnya, tentunya di kota seribu wali, Tarim. (Arman Malieky/author).


[1]  Ashabul Badr : para sahabat nabi yang ikut serta dalam perang badr (12 Bulan setelah Hijrah Nabi Muhammad saw.)
[2]  Dhorihah : Maqom

Friday, 7 September 2012

20 Jam di Cirata, Antara Limpahan Rejeki dan Sakit yg Menanti

Istilah Ngaliwet di kalangan masyarakat Sunda, agaknya sudah biasa. Tapi bagaimana jika Ngaliwet ini dipadukan dengan bakar ikan air tawar yang dipancing atau dijaring sendiri dari laut? Terlebih dinikmati bersama keluarga, saat siluet mentari memberi tanda senja hendak tiba. Moment ini kian asyik karena ditemani panorama hamparan laut yang menyudut Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat. Tempat ini cocok untuk Anda yang memang hobi berekreasi, atau sekedar melepas penat saat melintas dalam perjalanan jauh.
 —-
Ialah laut pembudidayaan ikan air tawar: Cirata. Perairan yang cantik dan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar ini dapat Anda temui di Cipeundeuy, Bandung Barat. Perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam dari pusat kota Bandung, dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Namun Anda perlu berhati-hati selepas Tol, karena banyak jalan berbatu kerikil yang cukup ngeri untuk dilalui.

Sunday, 2 September 2012

Haflah Akhir Sanah dan Perpisahan Mahasiswa Indonesia Al Ahgaff di Mukalla.

Malam Ahad ( 1/09/ 2012) tepat setelah Isya pukul 20.00 WY digelar acara rutin Mahasiswa Universitas Al Ahgaff Indonesia Tingkat Pertama yang bertempat di Sutuh Sakan Basalamah, Asrama Mahasiswa Indonesia di kota Mukalla. Runtutan acara berjalan mengikuti arah bicara Master of Ceremony yang dibawakan oleh sdr. Muhammad Fadlillah, Mahasiswa Fak. Syari’ah Mustawa Awwal.
Acara yang sungguh dramatis dan harmonis ini bertajuk tentang “ Akhirus Sanah wal Wada’”. Ya daramatis, itu karena Mahasiswa Al Ahgaff yang akan mengenjang masa kuliah di Fakultas Syari’ah selama lima tahun ( 5 mustawa), tahun pertamanya mereka ditempatkan di Kota Mukalla. Kemudian sisa tahun berikutnya akan dihabiskan di Kota Tarim, Baldatul Awliya’. Tahun pertama yang dilalui para mahasiswa sangat meninggalkan banyak kesan unik dan menarik yang merupakan masa adaftasi mahasiswa baru (mustawa awwal) dalam berjuang mengarungi lautan ilmu Negeri Yaman ini.
Dalam Acara ini, dihadiri juga oleh jajaran staff Universitas Al Ahgaff, masyayikh setempat diantaranya, DR. Shodiq Umar Maknun (Wakil Rektor Universitas Al Ahgaff), Syeikh DR. Fuad Abdul Karim (Qodhi Kota Mukalla), Syeikh Ba’syan, Syeikh Zain Al Jufri dan juga Asatidz baik dari Negara Yaman sendiri maupun Asatidzah Indonesia. Namun Sayangnya acara monumental ini tidak sempat dihadiri oleh Sang Murabby Ruh Utama Ahgaff, yaitu beliau Syeikh Sayyid Prof. DR. Abdullah Muhammad Baharun, MA.
Walau Demikian, Dalam sambutan yang diwakili oleh DR. Shodiq Maknun sebagai Wakil Rektor, mampu mengisi kegundahan para hadirin, khususnya Mahasiswa Al Ahgaff Indonesia yang senantianya menanti-nanti kedatangannya guna bermuwajahah di sakan kebanggaan mahasiswa Indonesia.
Sambutan pertama  sebagai perwakilan panitia penyelenggara acara, turut berbicara Ustadz Kehormatan kita, DR. Muhammad Najib, MA. Beliau disamping sebagai salah satu staff pengajar dari Indonesia yang berkedudukan juga sebagai wakil dekan fakultas syari’ah Universitas Al Ahgaff yang bertempat di kota Mukalla. Dalam awal sambutannya, beliau hanya berpesan kepada para mahasiswa mustawa awwal yang dalam waktu dekat akan diberangkatkan ke kota Tarim. Pesan beliau sangat singkat, namun padat isi dan kaya nasihat. “ Waktu tidak bisa kembali lagi, jangalah kalian menyia-nyiakan waktu yang ada, karena posisi Kalian sebagai tholibul ‘ilm, maka waktu kalian adalah untuk ‘ilmu’ “ . Beliau juga menyampaikan hal yang perlu diperhatikan ketika sudah di Tarim nanti. Sesuai yang pernah beliau dapati dari Syeikh Ali Ba’udhon, Mufti Tarim,  yaitu untuk tidak sering-sering mengikuti maulid yang banyak diadakan di kota Tarim, namun cukuplah sesekali dalam seminggu, itu agar mengefektifkan waktu untuk konsentrasi belajar karena itulah tugas utama penuntut ilmu.
Kemudian acara disusul dengan mau’idzoh hasanah dari Syaikh Ba’syan. Sebagai salah satu syeikh yang dihormati dan dituakan, beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu di Yaman berbeda dengan menuntut ilmu di tempat lain. Karena di Yaman, penuntut ilmu berbondong-bondong datang bukan hanya untuk menuntut ilmu, akan tetapi juga untuk tazkiyatun nufus (pembersihan hati nurani). Beliau juga memberikan nasihat tentang indahnya kehidupan di kota Tarim. Sikap utama yang harus dipegang teguh dan diindahkan oleh para penuntut ilmu di Tarim ada tiga hal yang merupakan keistimewaan kota Tarim dibandingkan kota lainnya. Tiga hal itu ialah; “ Al Adab , At Tawaadhu’, dan Al Ihtiram “. Sikap-sikap itulah yang patut dilestarikan ; sikap sopan santun, rendah hati dan sikap menghormati.
Acarapun berlangsung hingga larut dan diselingi dengan pemberian Syahadatut Takrim kepada pihak-pihak yang terkait hubungan kerja sama dengan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) yang disampaikan oleh Ketua AMI 2011-2012 Cabang Mukalla, Habib Syukri Mudhij. Kemudian acara ditutup dengan do’a dan diakhiri dengan ‘asya (makan malam) bersama. Seperti biasa, setelah runtutan acara berakhir, saatnya berdendang dan bersyai’r bersama Irama musik marawis dan tarian zafin. Acara terkenang menarik dan berkesan, menorehkan a sweet memorian in Mukalla. Arman-red.

Tuesday, 12 June 2012

Do'a Untuk Bidadari


Di sebuah auditorium kampus, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru tua, tampak rapi dengan mengenakan peci hitam tertancap di kepala. Dengan wajah tampannya, Ia tebarkan senyuman pagi cerah, siap akan menyampaikan kuliah di hari pertamanya menjadi dosen. Kegagahan beliau memancarkan pesona kekaguman semua pelajar di dalam ruangan. Tak heran seorang mahasiswi berkerudung kuning penasaran bertanya kepadanya, “ Pak, kalau boleh tahu, apakah bapak sudah berkeluarga?”, perempuan itu agak malu rupanya bertanya demikian. Namun dengan bijaknya sang dosen tersenyum dan  menjawab, “ hhhmmm,,, mungkin saya jawab dengan sebuah cerita…”. Semua orang terkesima penasaran ingin mendengarkan cerita pak dosen, suasanapun menjadi hening, semua telinga terpusat, pak dosen perlahan bercerita.

“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani mengatakan isi hatinya.
Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya,  Fawwaz dipanggil oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri yang akan melanjutkan kuliah ke Yaman. Orang tuanya dengan ta’dzimnya menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak menyangka.
Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah kepulangan Fawwaz dari Yaman. Senyum wajah Nurul memancar,  dengan anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.
Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri Ratu Balqis atau dikenal dahulu dengan sebutan Negeri Saba’. Sebelum berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “ wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti, ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku, aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda bimbinganmu wahai kekasihkku…”
Sesampainya di Yaman, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh. Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti dauroh-dauuroh yang diadakan oleh kalangan thalabah dengan para masyayikh.
Di tengah kesibukannya,  sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke pinggiran sungai kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadromaut, Yaman, menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia, sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Mukalla, membayangkan bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
asirbal qithoo, hal man yu’iiru janaahahu # la’alli ila man qod hawaitu athiiruu “
“Wahai segerombolan merpati,,,apakah diantara kalian ada yang berkenan meminjamkan sayapnya # sehingga aku bisa terbang menuju orang yang sangat ku cinta” .
            Nurul yang merupakan santriwati tahfidz terbaik, seringkali mengirim surat lewat pos untuk Fawwaz, dalam suratnya Nurul memberi tahu bahwa ia sudah menyelesaikan hafalan Al Qur’an lebih cepat, Ia juga memohon izin untuk mengabdi sambil mengikuti kuliah keguruan di Instutut yang ada di pesantrennya. Nurul memang perempuan yang sangat sholehah,  Ia sering memberi nasihat dan motivasi agar Fawwaz senantiasa tekun ibadah, kuliah dengan rajin, sehingga mendapat ilmu yang berkah dan manfa’at. Setelah membacanya, Fawwaz seolah mendapat energi dan semangat baru. Kata-kata Nurul membuat gelora jiwanya meningkat. Ia bertekad harus menjadi yang terbaik, karena ia akan menjadi Imam dari bidadari jelitanya.
Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan kuliahnya dengan predikat syaraf ula / cumlaude, Ia berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan  nadzom-nadzom penting yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad, dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar semangat dan cita-cita.
Setelah kepulangannya dari Yaman, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia, akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya, tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz dan Nurul, Pak? “
Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia masih diberi ketabahan. Iapun berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke dalam surga-Nya, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak. Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke Yaman melanjutkan master sampai doktoral, kemudian  kembalilah Fawwaz ke Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H. Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.
-Mukalla, Juni 2012-
*****
Inilah Ceritaku

Monday, 15 August 2011

Kilas Tentang Alumni PP. Al Hikmah di Negri Yaman


Oleh: Abdul Rahman Malik
Teringat akan kenangan masa-masa di Pesantren dahulu, terlintas rasa rindu bahagia akan Al Hikmah yang kami tinggalkan untuk Pengembaraan Ilmu selanjutnya di Negri Saba atau Negri Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis, Yaman.
Sebagai wujud bahagia dan terimakasih kami kepada Al Hikmah yang telah berjasa dalam mendidik dan membekali kami dengan berbagai kajian-kajian  ilmu baik ruhiyah ataupun pembangun personal characters, kami mewakili segenap Rekan-rekan mahasiswa Al Ahgaff  dan mahasiswa lain di negri Yaman sedikit ingin berbagi cerita dan pengalaman kepada El Waha, Majalahnya santri Al Hikmah….
Kelebihan Study di Negri Yaman
Secara garis besar, Negri Yaman merupakan  salah satu tempat tujuan pelajar Indonesia untuk belajar ilmu agama (Syari’at islam ), salah satu alasannya, hal itu karena Yaman sampai saat ini masih teguh mengedepankan ajaran islam bermadzhab syafi’I dan tradisi budaya islam belum luntur termakan kemajuan zaman.
Disamping itu juga, Yaman terkenal juga sebagai negri para wali dan habaib yang sampai sekarang masih banyak terdapat awliyaullah dan habaib baik yang telah wafat ataupun yang masih hidup dan berperan aktif dalam dunia keilmuan di Yaman. Karena itu, belajar di Yaman bisa juga sebagai ajang Tabarukkan (Ngalap berkah-jawa) kepada para wali, habaib, dan ulama yang ada disana. Terlebih lagi, Yaman adalah Negri asal dimana walisongo, sang penyebar islam di Nusantara Indonesia, yang kotanya sangat terkenal sekali yaitu Hadromaut. Dari situlah, kamipun menjadikan Yaman sebagai objek study yang sesuai dengan budaya Negara kita, Indonesia yang mayoritas Syafi’iyyah.
Sebetulnya, banyak sekali tempat belajar di Yaman yang masih eksis dalam penyebaran dan pengembangan ilmu agama islam khususnya di kawasan Hadromaut,Yaman Selatan, diantaranya Darul Musthofa (Habib Umar bin Hafidz), Universitas Al Ahgaff(Prof. Dr. Habib Abdullah Baharun), Ribath Tarim (Habib Salim As Syathiry), Ribath Al Athos, Ribath Ar Royyan, dan lainnya. Namun kami lebih memilih Universitas Al Ahgaff sebagai objek Thalabul Ilmi yang sesuai, karena system kajian yang bersifat Perkuliahan dan non biaya (Beasiswa).
Alumni Al Hikmah di Yaman.
Maqbaroh al Imam al Habib Ahmad bin Muhsin al Haddar
Pelajar Indonesia sebetulnya tidak hanya terdapat di Hadromaut saja, akan tetapi banyak juga yang tersebar di berbagai daerah atau kota, baik di Yaman Utara atu Yaman Selatan. Namun disini kami akan mespesifikan ke tempat study kami yaitu di Universitas Al Ahgaff.
Sampai tahun ajaran 2011-2012 Mahasiswa/i Universitas Al Ahgaff asal PP. Al Hikmah- Bumiayu  terhitung ada 18 putra dan 5 putri. Karena Universitas Al Ahgaff hanya membuka beasiswa untuk Fakultas Dirasat Islamiyah dan Fakultas Syari'ah wal Qonun, maka kesemuanya termasuk kedalam dua Fakultas tersebut yang dikhususkan Fakultas Dirasat Islamiyah untuk Putri dan Fakultas Syari'ah wal Qonun khusus untuk Putra.
Kamipun dari segi lokasi perkuliahan dibedakan, untuk putri sendiri (di Kota Mukalla, Ibu kota Provisi Hadromaut) . Sedangkan untuk putra sendiri dibagi menjadi dua tempat, yaitu untuk mustawa awwal (tingkat Pertama) bertempat di Kota Mukalla, dan mustawa tsani sampai seterusnya ditempatkan di Kota Tarim.
Pengalaman Liburan Pasca Ujian 

          Sedikit bercerita tentang Alumni Al Hikmah di Yaman, khususnya kami yang merupakan Mahasiswa Al Ahgaff Mustawa awwal di Mukalla. 
     Kami bertujuh (Abdul Rahman Malik/MAK, Thohirin/MAK, Zuhrul Anam/MMA, M. Rifqi Ridho/MMA, Khoerus Sholeh/MMA, Saefuddin Ahsan/MMA, dan Abdul Qodir/PTQ) adalah angkatan mahasiswa baru tahun ajaran 2011-2012. Kami menjalani perkuliahan di kota Mukalla, Ibu kota Provinsi Hadromaut, Yaman Selatan. Berbeda dengan kakak-Kakak angkatan kami, semuanya bertempat di Kota Tarim, Kota Pusat Pendidikan dan Peradaban Islam di Yaman.
Karena Yaman terkenal dengan negri para wali dan habaib, sudah tentu dan hal yang patut bagi kami untuk tidak melupakan jasa-jasa mereka  dengan mendo'akan dan berziyaroh ke Maqbarohnya.
Setelah Ujian berakhir, kami bertujuh menyusun acara " Refreshing Ala Al Hikmah di Yaman", yaitu dengan agenda ziyaroh ke maqom wali dan jalan-jalan mengelilingi kota Mukalla. Habis dzuhur  teng, kami kompoi dengan memakai kostum ala santri dan menuju mukalla dengan bus mini jurusan Syirij,Mukalla. Sesampainya disana, kami shalat ashar dahulu di Mesjid Bazar'a, tepat disamping Maqom Waliyullah al Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar.
Runtutan acara tahlil kami gelar di dalam qubbah maqbaroh beliau, dengan khidmat acara diatur oleh Kang Maman, pembacaan tahlil dipimpin Kang Ridho dan terakhir do'a dibacakan Kang Thohirin. Ziyaroh dengan niat tasyakkur setelah melewati Ujian serasa membawakan ketenangan di  jiwa, terlebih pancaran keberkahaan terpantul dari indahnya kebersamaan dalam memanjatkan do'a.   
Setelah itu, kami berjalan menusuri Pantai mukalla, bersama ayunan angin di sore hari dan keramaian kota mukalla, membawa keceriaan dan kebahagiaan bagi kami bertujuh. Dan saat malam, kami bersama makan malam di Restaurant Ekonomis mengakhiri kesenangan dalam kebersamaan kami.
Liburan bersama-sama santri al hikmah serasa hidup bersama tempo dahulu di pesantren Al Hikmah, namun bedanya kami berada di nuansa dunia yang jauh berbeda dengan di Indonesia, Negri Yaman. Syukron.

Friday, 12 August 2011

Dynamics of Islamic Dormitory Education in Globalization Era



I.                   BACKGROUND
In Indonesia, Islamic Education was crusaded by The Islamic Dormitory. Islamic Dormitory develops Islamic education system which is proven as a render service in making the educated nations and religious society.
Islamic Dormitory Education has started from the basic of Islamic Education bought by Salafy Generation1  who is still present until now. They are people who received Islamic knowledge from the messenger era ( Muhammad SAW ), then tabi’in and tabi’it tabi’in era2. They studied many kinds of knowledge by simple method and classic way by face to face or listening each other3.
The messenger’s friends4 got the knowledge from the messenger by discussion untill they understood everythings the messenger tought as the great teacher of islam. They studied without difficulty because everything was originally from the messenger, then they also studied without any facilities, They directly memorized what they got from the messenger and the method of study was implemented gradually, or step by step. So, the messenger’s friends mastered in knowledge that the messenger told.
Together with the rhythm of time, The progress of science and knowledge have increased, the method of delivering science and knowledge  developed more too. It is with the new way and modern technology.
Raising multimedia system as one of technology development  in this era makes the method and the way of learning be different than before. This development era named by modernization or globalization era.
Islamic dormitory as the centre of islamic science and knowledge development must change and progress from the last education system namely Salafy to Modern system because of the rhytm of time and era.
Therefore, islamic dormitory needed in this modern era has to follow the rhytm of era until it’s existence in developing education and keeping on the great traditions that brought by last scholar of islam will still be continuous.
This paper will explain the dynamics of islamic dormitory education that grows and develops from salafy generation untill now era. So we can know the progress of  islamic dormitory education according to technology development and information with kinds of  modern means and infrastructures nowdays.
In the fact of nowdays there are many islamic dormitories only apply the modern education system, and leave salafy system, meanwhile many islamic dormitories also just apply classic education system and don’t take care the progress of era and technology development and information.
The facts above happened in society. It causes the raising of defference and comparison between those two systems of islamic dormitory above and makes the development system of islamic dormitory various and diverse. Because of that, We would like to make this paper to try elaborating this fact in most of islamic dormitories in Indonesia in order we know the dynamics of islamic dormitory education in this era especially with differences  between modern and salafy education system.







II.                PROBLEMS
            Islamic dormitory has passed some steps of era. Certainly, It experienced some changes and developments.
            This era that can be named by modern era, Islamic dormitory still keeps on the existence and traditions until it can be the pioneer of islam proselytization and the centre of learning islamic knowledge for either youngth or old society.
            Therefore, the system of islamic dormitory education is an important thing will not released from islamic dormitory roles. But, according to the dynamics of islamic dormitory between salafy and modern apply their system and method must be different so long. So it raises the question, Which system of islamic dormitory education that is suitable to be applied in this modern and globalization era with the fact of dynamics of islamic dormitory education nowdays ?
















III.             CONTENTS
            Actually, the origin of islamic dormitory lineage  had raised since the messenger of god, Muhammad era (Peace be upon him). Then it developed more and better following the rhytm of the time. All science and culture of Islam began from a place that named by islamic cultures centre, Mecca. Which the prophet, Muhammad SAW was born there and islamic knowledge also grew and developed over there. Then islam was spreaded to all corners of world until came to Indonesia as long as time passed. Lastly, Indonesia could receive Islam which brought by Walisongo with the ways that connected to Indonesian’s  traditional culture at last time ago.
            Walisongo lived in Indonesia for long years and spreaded Islam religion excellently until they death in Indonesia land. During they lived in Indonesia, they created and foundated the islamic dormitory that become the centre of learning knowledge. Some inharitences could be evidence such as Kudus mosque ( Al Aqsho ), Demak mosque, and Keraton of Cirebon.
            In opinion of Zamakhsyari Dhofier5, Islamic dormitory had been present since 1630 M, If it was accounted, it was a long time which reached 370 years. At the first time of islamic dormitory establishment, it was very simple and classic. The programme was delivered by a teacher  ( Kyai6 ) in then mosque and attended by some students ( santri7 ) or society and the study was always done after Shalat8 every day.
            At Next day, not only the society who followed  learning programme but also the people from the several regions coming to study with kyai. Therefore, the shack was foundated for their place when they studied, especially for the students from out region. Then, it developed from the shack became islamic dormitory as now present.
Islamic dormitory as an islamic educational institution built on unique traditions and special characteristics, can not be found in the other educational institutions in Indonesia. Some unique traditions of islamic dormitory are giving traditional learning such as halaqah system, wetonan, bandongan, and sorogan recitation9. Then, the mind characteristic of these unique traditional learnings is the way of giving the learning that pressed on a classic book and last method, it’s named by Harfiyah10. Because of that, islamic dormitory has traditional characteristic and classical curriculum, it is not based into subject unit and  independent especially.
             Here are some superiorities of traditional concepts that applied by islamic dormitory according to Abdurrahman Wahid in his book “ Moving the traditions” that written as collecting of education thinking story, especially islamic dormitory education.
  1. Capability of creating a universal life attitude that is smooth.
This concept shows that a student of islamic dormitory can do everything himself without dependence on the society institution everywhere.
  1. Capability of taking care the sub culture its self
Because, islamic scholars are the informal leaders in society culture and they admit that ideal roles of islamic dormitory sub culture in nation life are case of  islamic scholars.
Based on the concepts above, Actually islamic dormitory doesn’t release from its traditions, because they are  characteristics of islamic dormitory.11
Untill Now, There are still many islamic dormitories keep on the traditional system and method which is suitable with concepts above. For example, Tegalrejo islamic dormitory in Magelang. All of curriculum learning in that Islamic dormitory are delivered during seven years with traditional and classic system. Its special characteristics are traditional education system given based on informal curriculum and only use islamic dormitory curriculum. It is an example of salaf islamic dormitory that is still exist until now.
            Facing this era, Islamic dormitory as one of islamic institution has the important role in society life and learning of the nations with various systems and diverse methods and curriculum. Untill this era, it passed dynamics that is not constant because of islamic dormitory difference in ways of  behaving this era. The dynamics of islamic dormitory is really significant for all islamic dormitory, specially in Indonesia because Indonesia has hundreds of islamic dormitory spreaded in all corners of cities or villages in Indonesia.
            We have to release that era always moves and changes. As the fact of nowdays, globalization and modernization are effects of the era development and facts that can’t be refused. Firstly, globalization and modernization came by economy stripe then spread to politics and culture stripe. Finally, it became the phenomenon that can’t be denied12.
So, the technology development, ease information, and education system grown effect the ways of education and learning, especially in islamic dormitory in now era. One of the effects is raising of  modern islamic dormitory that based on modern education system.
            For example of modern Islamic dormitory is Darussalam Gontor located on Ponorogo, East Java. It is one of the biggest modern islamic dormitory in Indonesia and has been famous in society circle, especially Java sociaty. All of modern facilities are available and completed. System and method of education use the modern ways and leave the classic ways. Then, Darussalam also grows following knowledge and technology increasment.
            There are shape of islamic dormitory defference in ways of facing this era. We can conclude that islamic dormitory passed dynamics from the classic to the modern. But, actually we  have to know what is islamic dormitory dynamics .So  we’d like to explain the meaning of the dynamics.
In the basis, The dynamics includes two processes; conservating again the positive things that had been there and changing things by the better things.
“ Al muhafadzotu ‘alal qodim as sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah” ( the general principle of Islam)
Meanwhile , the word of dynamics here has the connotation that is the change into more perfect condition with using life attitude and tools that had been there and become the basic.13
            According to the concept above, we conlude that islamic dormitory has to apply these two processes at all in order to be able to experience the dinamics factually.
Therefore, Islamic dormitory should also apply the traditional and classic system, named by salafy system that is suitable and significant for the Islamic Dormitory curriculum. Because, salafy system is the islamic scholars’ inheritance last time and has to be kept on as a evidence of honorability to them whom had brought islamic knowledge. Example of that is application of memorizing al Qur’an and hadits programme, learning classic book with Java or Sundanesse meanings, discussion, roan14, takror15, etc.
            Islamic dormitory also should take and change everything that’s estimated less usefull into better things and more significant as rhythm of era and technology grown that all things have to be more practiced and easier. Like helding the infrastructures and the features that facilitate education system and method, so it makes the students comfortable and focus in following all programe that hold by Islamic Dormitory. For example, helding the library, the condusive classes, the skill development classes, the sports field, the Internet, etc.
One of islamic dormitory in Indonesia that can be the example is Al Hikmah islamic dormitory located in Brebes, Central Java. Al Hikmah has many facilitation and infrastructure support running learning programme and daily activities of all students. Beside Al Hikmah applies modern system of learning like multimedia system education and skill development with specification programme like Computer, English course, welding, fishery, design clothing,  Al Hikmah also practices the salafy method like reciting classic book with Java meanings in every subjects tought by kyai or teachers (ustadz/ustadzah), discussion, memorizing al Qur’an, hadith, several classic book like aqidatul awwam, tuhfatul athfal, imrity, alfiyah, etc.
This proves that the islamic dormitory that’s suitable with dynamics of era is that can still apply the salafy method that’s excellent and exist to be performed on islamic dormitory nowdays and can be collaborated with the modern method that’s significant and helpful in learning islam education easier and more comfortable. So, it can result the best islamic dormitory needed by society and nations in this era.
CONCLUSION
            The dynamics is an effort to keep on and conservate constantly the good and positive things that had been there at last time and to take and change somethings with the better things. It’s actually taken from the general principle of Islam that said “ Al muhafadzotu ‘alal qodim as sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah”.
So, the dynamics includes two processes; conservating again the positive things that had been there and changing things by the better things.
Meanwhile , the word of dynamics here has the connotation that is the change into more perfect condition with using life attitude and tools that had been there and become the basic.16
            Before, those  two process will be collaborated, we strengthen firstly that salafy is a system education brought by the last islamic scholars in classic era, it haven’t been completed by the sophisticated tools and facilitations, so it is characrerized anciently.
But, salafy system is the enheritance of messenger learning that hasn’t contaminated by the modernization.
            Whereas the modern system is the new way of education that follows the rhytme of time and era, it is also effected by the technology grown and science depelopment.
Actually, Modern system is more important in order to Islamic students don’t be misstomorrow .  
            Therefore, from that we can conclude that the suitable education of Islamic dormitory should be applied in this glaobalization era is the education system and method which can use and combine the salafy education system that named by inheritance of the last islam scholar and the modern education system that follows era development and condition grown. So, Islamic dormitory should apply those two systems and collect it into the new system that suitable for this era.

SUGGESTION
            After we know the urgency of islamic dormitory education system, we purpose to increase the quality and quantity of islamic dormitory which can launch the great islamic students. With happy feeling, we’d like to give some suggestion to government firstly in order to give more attention to the islamic dormitory in every corners in Indonesia and don’t compare every islamic dormitory based on the leader, but they have to be comprehensive in behave all islamic dormitories. So, every islamic dormitory can prepare the moslem generation more perspective in islam knowledge and general science.
            Then, the next suggestion is for all elements and departments of islamic dormitory, they should be more  active in efectivating all programmes that have been there and exploiting it to be more usefull. So, it can be created the education system of Islamic dormitory  following the dynamics in this era.
            We hope what we writted in this paper can be  usefull for all of readers especially the sides that take part in increasing and developing islamic dormitory in Indonesia, so that, islam can be the pilar of religion in the world beause of islamic dormitory roles.

           



BIBLIOGRAPHY
Abi Bakr bin Muhammad, Taqiyyudin.Kifayatul Akhyar.Surabaya:Darul ‘Abidin.
At Thohani, Mahmud, Dr.1985. Mushtolahul Ahadits.Kuwait:Haromain.
Ibrahim, Burhanuddin, Al Laqqoni Al Maliki.2006.Jauharu at Tauhid foto copy.Brebes: PP. Al Hikmah 2 Benda
Kamus Munjid.1973. Edisi 21.Beyrut: Darul Masyriq.
Majalah Elwaha.Edisi IV.2010.Artikel:Pesantren Pusat Kajian yang Tiada Habisnya.
Suharso, Drs. & Dra. Ana Retnoningsih.2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Lux.Semarang:Widya Karya.
Ulumul Hadits DEPAG RI.1998/1999. Kelas III Madrasah Aliyah.
Wahid, Abdurrahman.2007.Menggerakan tradisi.Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.
Zaqzuq, Mahmud Hamdi.2004. Reposisi Islam di Era Globalisasi.Yogyakarta.LKIS Pelangi Aksara.


1 Salafy Generation was the best generation of moslems who were from the messenger’s friends, tabi’in and tabi’it tabi’in. whichever  they got the source of Islam knowledge continually and consectivelly from the messenger by the classic ways and methods. (K.H. Mukhlas Hasyim, MA.’s [1]explanation with Jauharut Tauhid classic book, Page 14)
2  Tabi’in is an expression for a person ever met one of the messenger’s friends or more
Tabi’it tabi’in is an expression for a person ever met Tabi’in faithfully to the prophet Muhammad SAW and death in Islam religion.( Hadith Science book of 3rd Grade MAK, page 22)
3  Face to face is a method of hadits receivment that is used by islam scholar last upon time. It includes of Listening each other, Reading, Submitting of Hadith ( as Sima’, al Qiro’ah, al Munawalah, etc) (Musthotahul Hadits classic book, Page 158-164 about The ways of Hadits Receivment ).
4 The messenger’s friends are every moslems ever saw The Messenger Muhammad SAW (Hadith Science book of 3rd Grade MAK, page 20)

5 Zamakhsyari Dhofier, an expert who concentrates on islamic dormitory learning ( El Waha magazine the 4th edition 2010, page 4 )
6 Kyai, a name for a islam scholar  or a leader of islamic dormitory ( Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 251 )
7 Santri, a name for a person who deepen islamic knowledge or a devout person seriously or a good person.
8 Shalat,as etimology is a praying. as terminology is an expression of sayings and actions begun by takbir and finished by salam (Kifayatul Akhyar classic book, about Shalat chapter, page 77)

9  Halaqoh system is a system of education in shape of seats like cyrcle which a Kyai teaches in middle of the students’ cyrcle.( Munjid Dictionary, page 149)
Sorogan, is a learning or recitation method which the students read the classic book to the teacher one by one  in order to be more detail  and more specific in learning. 
Bandongan is a learning or recitation method in shape of class
Wetonan is a learning or recitation method based on the days of Jawa (like pahing, kliwon, wage, pon, legi) (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 73 & 639 )
10 Harfiyah : translation or meanings according to words, word by word, based on lexical meaning, based on sentence context.  (Indonesia Big Dictionary, Lux Edition, page 165 )
11 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions” second edition, april 2007 page 73.

12  Mahmud Hamdi Zaqzuq, “ Islam Reposition in Globalization Era”, First Edition, September 2004, page 4.
13 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions”, second edition, April 2007. Page 53.
14 Roan is a programme of cooperation on cleaning or  building everything together in islamic dormitory .
15 Takror is a programme of repeating the lessons together
16 Alm. KH. Abdurrahman Wahid, “ Moving the traditions”, second edition, April 2007. Page 53.

 

Blogger news

Blogroll