Tahun 2003 dimana aku masih duduk di bangku
SD, dan masih merasakan jiwa kekanak-kanakan dan kegemaran
bermain, aku tumbuh sebagai anak lelaki yang suatu saat kan jadi harapan
keluarga. Karena aku adalah anak laki-laki kedua, dan kakakku kini telah
berkeluarga.
Sebetulnya aku yang pendiam, lugu, dan tak
punya keberania besar. Tapi keterikatanku dengan dunia masa kecil masih
melekat, akupun tetap menyempatkan waktu untuk bermain bersama teman-teman yang
akrab. Hanya saja terkadang aku memilih teman yang enak dan bersahabat untuk aku
ajak bermain.
“Pak, Ilman berangkat sekolah dulu ya,
sekalian minta uang jajan buat hari ini….”. ilman adalah nama panggilanku
sehari-hari, nama yang diberikan bapak 7 tahun yang lalu setelah ibu
melahirkanku yang lengkapnya, Maulana izdadna Ilman.
“ iya, Man ni uang jajannya, ingat pulang
sekolah jangan ngelayab kemana-mana, pulang langsung kerumah!”… respon
bapakku dengan mengulurkan tangan berisi uang seribu lima ratus rupiah.
Biasanya yang selalu memberi uang jajan setiap
hari ialah ibu, namun hari ini ibu sudah berangkat ke pasar, jadilah bapak yang
jadi gantinya. Karena bapak sendiri selalu ada dirumah jikalau tidak berangkat
merantau ke seberang pulau.
Sekolahku tak jauh dari rumah, dengan jalan
kakipun bisa aku tempuh, cukup lima menit sampai. SD yang tergolong Negri kedua
di desaku. Karena tepat disampingnya ada SD Negeri I yang menghadap ke Jalan
Raya. Walaupun demikian, Dua SD yang berdampingan itu tetap berhubungan baik ,
baik itu guru-gurunya atapun murid-muridnya,
Aku kini duduk di kelas 2 SD Negeri 2, Setiap hari aku selalu berangkat lebih
pagi walaupun sebenarnya aku masuk kelas dimulai jam setengah sepuluh setelah
kelas 1 pulang. Aku merasa dengan demikian aku bisa belajar dahulu di pinggir
kantin sekolah bersama Bu Endah, sang penjaga kantin. Atau sering juga ketika
tidak ada PR, aku malah bermain dengan teman akrabku yang sama selalu berangkat
lebih awal, Rayhan namanya.
“ Han, hari ini ada PR gak? Kalau gak ada,
yuk kita main kelereng saja! “ ajak aku. Kebetulan murid kelas 2 SD Negeri 2
yang baru berangkat hanya aku dan Rayhan.
“ Kayanya gak ada man, soalnya kemarin Ibu
Tini gak ngasih PR” jawab Reyhan dengan menambahi Ibu Tini yang juga mengajar
kelas 2.
“ Ya sudah, kita bermain kelereng. Nih, aku
punya sepuluh butir, nanti kita bagi dua” bicara aku sambil meyakinkan.
Kita berdua bermain kelereng di halaman
tepat di depan kelas satu yang tempatnya di ujung, berdampingan dengan
sebelahnya SD Negeri 1. Ditengah asyiknya bermain, terdengar suara obrolan
anak-anak perempuan di samping. Ketika aku menengok kearah suara itu, ternyata
ada siswi-siswi SD negri 1 sedang asyik ngobrol, sambil tertawa-tawa di kursi
panjang depan kelas.
Namun, tampak seorang siswi yang berkerudung
putih, dengan memakai seragam merah putihnya seolah-olah berbeda dengan teman
lainya yang tidak mengenakan kerudung. Akupun sedikit keheranan melihatnya.
Pesona kecantikan Siswi SD itu membuat aku bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa
dia memakai kerudung, tidak seperti umumnya anak SD negeri? Tambah dengan
merasa kagum akan sikap pendiamnya sambil memegang sebuah buku sedang dibacanya.
Sungguh membuat hati ini terpana, seakan melihat putri permaisuri bercanangkan
kerudung putih indah dipandang.
Setelah berhari-hari aku menyimpan memori
siswi SD Negeri 1 itu, akhirnya akupun
tahu sedikit tentang dia, hanya sebatas kenal. Maklum aku akui, karena SD aku
masih kecil tentang hal-hal percintaan dan belum pantas. Tapi rasa kagumku
padanya akan senantiasa membekas, karena sosoknya lah yang pertama kali
meneteskan embun perasaan di hatiku.
Nayla namanya, Nayla Muna Awwalina. Aku tau
dia dari Reyhan, teman terdekat aku. Nayla sebetulnya bukan asli anak desa
dimana SD Negeri 1 dan 2 berada, dia berasal dari desa sebelah, dia pergi
sekolah tiap hari dengan jalan kaki. Selalu berangkat awal dibanding yang lain.
Ternyata, dia juga sama duduk di kelas dua. Karenanya, aku sering menjumpai dia
menyempatkan belajar di kursi kecil depan kelasnya sebelum bel bebunyi. Karena
berbeda sekolah, akupun tidak bisa bermain dekat dengan dia. Apalagi aku
sendiri anak yang pemalu dan jarang bermain dengan anak perempuan.
Selama aku masih duduk di bangku SD,
perasaan itu hanya tersimpan di benak, tak pernah terletupkan ucapan tentang
kekagumanku pada Nayla kepada siapapun, kecuali Reyhan sendiri.
Karena ia satu-satunya teman yang selalu
mengertikanku. Sampai ia pun memberi tahu, bahwa nayla setiap malam selalu
mengaji al qur’an di pondok kecil dekat rumahnya. Dan itu masih berjalan sampai
Nayla sekarang kelas 5 begitu juga aku.
Di awal aku menduduki bangku kelas 5, aku
bulatkan tekad untuk ikut mengaji al qur’an ditempat Nayla setiap hari mengaji.
Walaupun jauh, tapi ini adalah pengorbananku untuk bisa melihat Nayla setiap hari,
seandainya tidak sempat melihatnya pagi hari di sekolah, malam harinya bisa menjadi
penebus rasa rindu wajah manis Nayla saat mengaji di pondok. Yang penting bisa
melihat nayla walau dari jauh karena kelas yang terpisah.
Selama mesantren disana, Aku merasa
banyak hal baru yang aku jumpai dan alami. Pertama, aku harus berangkat setelah
shalat maghrib dari rumah dengan mengendarai sepeda, setelah sampai aku di
hadapkan dengan asatidz yang galak-galak, Ust. Furqon salah satunya.
Setiap kali ada santri yang masih berkeliaran belum masuk ke kelas, Ia siap
siaga dengan memegang pentungannya untuk menakut-nakuti. Pada saat-saat itulah,
muncul rombongan santriwati yang melenggangkan badan berjalan menuju pondok
dari arah ujung utara, dengan menenteng tas di bahunya dan kitab-kitab di dekap
di dadanya. Tersenyum aku melihatnya, karena dari kerumunan santriwati itu,
satu diantaranya ada Nayla. Ya nayla yang selama ini aku kejar agar bisa selalu
memandang wajah sholihahnya, kelembutan sikap kesehariannya dan kealimannya.
Setahun kemudian…
Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan
kebiasaan di Pondok itu dan banyak mendapat pelajaran, walau hanya menghabiskan
waktu dari ba’da maghrib sampai sekitar jam setengah sembilan malaman. Aku
merasa senang bahagia bisa ikut mesantren disini, walau tujuan awalnya yang
salah. Pesantren hanya untuk melihat Nayla.
Suatu malam setelah pulang dari pesantren,
aku mampir dahulu di pedagang siomay dekat pesantren. Tak ku kira ternyata
tepat di sampingku ada Nayla yang juga sedang membeli siomay. Tiba-tiba dia
memandangku dengan senyuman manisnya sambil mengucapkan,
“ assalamu ‘alaikum…. kamu anak desa
sebelah kan?” Tanya Nayla sambil memancarkan aura ketulusannya.
“ wa wa wa ‘alaikum salam….” Aku jawab
dengan sedikit kaget dan terbata-bata.
“ IIIyya,,, neng ” jawaban dari
pertanyaannya tadi dengan ucapan neng sebagai tradisi penghormatan kepada gadis
perempuan, teman atau yang lebih muda.
“Neng namanya Nayla ya??? Giliranku
bertanya sambil sedikit gugup.
Dia tersenyum sambil manjawab,
“ Iya… kok kamu bisa tau? Ujar Nayla dengan
suara lirih dan pancaran senyum dari raut wajahnya.
“ hhhmm… yang cuma tau aja” jawab aku.
“ eh iyya… saya pulang duluan ya, sudah di
tunggu bapak dan ibu di rumah”.
Nayla pun pergi, dan aku perhatikan dia
dengan perasaan sangat-sangat bahagia. Seketika aku pandangi ternyata dia masuk
ke rumah Ust. Furqon. Deg.. rasa bahagiaku pun bercampur dengan rasa khawatir
dan takut, ternyata aku baru tahu bahwa Nayla Muna Awwalina itu Putri dari Ust.
Furqon yang terkenal super galak dan sangar di pondok. Hhhmm,,,Siap-siap aku
harus menghadapi singa padang pasir itu untuk bisa bertahan sampai suatu saat
aku bisa mendapatkan anaknya.
Satu tahun itu merupakan tahun pertama aku
mengaji di Pondok secara kalong, berangkat maghrib malamnya pulang tanpa
menginap di pondok. Setelah satu tahun itu juga bertepatan dengan masuknya aku
di kelas 6 SD. Aku menikmati jalannya mengaji dan semua suasana di pondok.
Akupun merasa terbiasa.
Sampai tiba akhir tahun. Dimana aku harus memilih
untuk melanjutkan sekolah ke SMP atau MTs. Aku sendiri sudah bulat, ingin masuk
SMP agar bisa menguasai pelajaran umum, dan tetap melanjutkan mengaji malam di
pondok. Rencanaku diterima dan didukung penuh oleh bapak dan ibuku, karena
menyadari ilmu umum juga perlu, tapi dengan tetap mengutamakan ilmu agama
dengan tetap pesantren walau kalong.
Setelah aku menjadi siswa SMP, Akhir-akhir
ini aku merasa ada yang kurang. Setiap malam aku berangkat ngaji, entah kenapa aku
tidak pernah lagi melihat pancaran wajah indah Nayla. Perasaanku tidak enak dan
gelisah. Akupun tanya seorang temannya yang dulu selalu bersama Nayla di
Pondok. Kaget sungguh kepayang. Sedih hati ini rasanya. Belumlah aku bisa akrab
dengannya tapi dia sudah pergi dahulu. Pergi menjauh dariku. Bapaknyalah yang
membuatnya pergi, Ust. Furqon. Dia melanjutkan SDnya tidak ke SMP atau MTs
terdekat, tapi dia disuruh untuk melanjutkan pesantrennya ke Bandung. Dengan
keta’dzimannya terhadap bapaknya, diapun mengikuti apa kata bapaknya.
Bertahun-tahun aku jauh dari Nayla. Tapi
aku tetap berusaha untuk tegar. Seperti biasa aku berangkat pesantren, sepintas
aku sering memandangi rumahnya, namun tak juga Nayla ada. Semenjak Nayla pergi
ke Bandung, Tak pernah aku jumpai dia walau satu kalipun. Aku hanya bisa
berharap, suatu saat jika Allah mentaqdirkan aku bertemu Nayla, aku yakin pasti
akan bertemu kembali. Karena aku percaya taqdir Allah seperti yang diajarkan
Ustadz Rahmat dalam pengajian tauhid di pondok.
Sampai akhirnya akupun selesai Ujian Akhir
Nasional, kelas 3 SMP sebentar lagi berakhir. Tinggal aku harus siapkan rencana
berikutnya. Beberapa hari setelah UAN, Malam harinnya akupun berniat berangkat
pesantren dengan menggunakan sepeda BMXku ditemani beberapa teman. Malam pertama
setelah satu minggu libur untuk persiapan UAN. Malam itu, aku bertemu dan
bersalaman dengan Ust. Furqon yang sedang duduk di kursi depan Kantor Pondok.
Di kelas, aku bertemu Ust. Rahmat yang biasa mengajariku setiap malam, Dialah
wali kelasku.
Setelah bubar dari pengajian, aku rasanya
ingin membeli somay kesukaanku. Akupun mendatangi pedagang somay tak jauh dari
pondok sebelum aku mengambil sepeda ditempat penitipan. Terkejut aku ketika
mendengar suara perempuan dari samping kuping kananku.
“ Mang, masih ada somaynya? Nayla mau beli
lima bungkus....”
“ masih ada neng,,, ya mang buatin buat
tong Ilman dulu ya neng….”
Ya Allah,,, akupun terkejut ketika menengok
ke arah kananku, begitu juga Nayla yang menengok ke arah kiri ketika ia mendengar
nama ILMAN dari mulut mang somay.
“ Assalamu ‘alaikum Neng Nayla…? Bagaimana
kabarnya? Alhamdulillah bisa dipertemukan kembali ya neng….” Tanya aku dengan
perasaan berbinar-binar dan mata berkaca-kaca ketika memandang Nayla setelah
bertahun-tahun tak bertemu, ia tumbuh sungguh sangat cantik dan lebih anggun dari
dahulu SD.
“ Wa’alaikum salam…. Alhamdulillah baik
kang Ilman….” Jawab Nayla sambil tersenyum manis.
Akupun balas senyumannya, apalagi setelah
ia jawab dengan kata “kang Ilman”, Panggilan Khas dari Bandung. Dengan berusaha
percaya diri, akupun coba keluarkan pertanyaan,
“ Neng Nayla lagi liburan ya?...kemarin
ketika UAN bagaimana? Lancar?...” lidahku mulai bebicara.
“ Iya kang,,, kemarin Nayla UAN di Bandung
Alhamdulillah lancar…” Naylapun menjawab lirih.
“ Kalau boleh tau… rencana Nayla setelah
lulus mau melanjutkan kemana?...”
“ hehhhmmm,,, kata bapak sih Nayla disuruh melanjutkan
pesantren lagi ke Jawa Tengah, ya Nayla ikut apa kata bapak saja”... jawaban Nayla
sederhana sambil mengambil bungkusan somay yang sudah dibuatkan sekaligus
memberikan uangnya ke mang somay.
“ ehhh,,, kang Ilman Nayla pulang duluan
ya, tidak enak sama bapak dan ibu kalau somaynya keburu dingin” sambung Nayla
sambil pamit mengucapkan salam,
“ Assalamu ‘alaikum… kang”
“ iya neng…wa ‘alaikum salam” akupun jawab
dengan senyum tersampul rasa gembira luar biasa.
Perjalan pulangkupun diliputi taburan rasa
bahagia, sampai aku tersenyum-senyum sendiri. layaknya perasaan orang yang lama
ditinggal wanita yang ia cintai, kemudian ia datang tiba-tiba bagaikan bidadari
turun dari kahyangan berkerudungkan
sutra putih, kulit yang halus putih bagaikan susu, senyuman manis lebih
manis dari gula serasa, tutur bicaranya seolah butiran-butiran mutiara pelan
berjatuhan, sungguh suara jawaban-jawaban dari lisannya seperti tetesan embun
pagi menyejukan hati dan menyegarkan aroma di jiwa. Tak terbayang begitu bahagianya aku,
sampai larut malampun aku tetap membayangkannya. Aku pandangi dia dari tembok
kamarku seperti tayangan dalam surga. Terus dan terus bayangannya menari-nari
depan kedua bola mataku. Sampai tak terasa akupun tertidur dan jatuh dalam
larutan mimpi indah bersamanya.
“ Kang Ilman…. Kang…. “ Nayla
membangunkanku dalam dunia tidurku.
“ aduwh… Neng Nayla, kok bisa ada
disini???”
“ Iya Kang, Nayla datang buat Kang Ilman…”
ujar Nayla dengan menyimpulkan senyum manisnya.
“ Hah… Iya tah Neng? Nayla datang jauh-jauh
buat akang” tanyaku dengan penasaran.
“ Iya, Kang… Nayla disuruh bapak untuk
bertemu akang, dia sudah meridhoi seandainya suatu saat Nayla jadi pendamping
hidup akang…” ucapan Nayla seolah embun pagi, akupun disejukan olehnya.
“ Ya Allah, apa ini benar… sungguh aku
bersyukur padamu Ya Allah…”
“ kalau begitu akang siap bersedia untuk
jadi pendamping hidup dan imam bagi Nayla kelak dalam rumah tangga kita”
Dug..dug…dug…(suara dari pintu kamarku)
Man… Man… Baanguunn… siap-siap ambil air wudhu, sholat sama ibu,,, kamu jadi
Imam…..
Akupun terperajat, sambil mengusapkan muka
dengan kedua tanganku. Wuuuhhhh… ternyata hanya mimpi. Akupun tersenyum sendiri
sambil tetap mengingat-ingat bayangan Nayla yang belum kunjung hilang.
“ Iya Bu… tunggu sebentar…” saut aku dari
dalam kamar, dengan berharap “ Ya Allah semoga apa yang aku tadi impikan bisa
jadi kenyataan”. Lalu akupun bersiap-siap untuk melakukan shalat shubuh. Salama
satu minggu ini memang aku selalu jadi Imam shalat bersama Ibuku, karena
bapakku dan kakak laki-lakiku sedang melakukan kewajibannya sebagai tulang
punggung keluarga.
Ibuku sudah siap di mushola. Setelah akupun
siap, Aku berkata kepada ibu,
“ Mari Bu, kita shalat berjama’ah, lebih
cepat lebih afdhol agar mendapat waktu fadhilahnya shalat”
“ Iya Nak, baca qur’annya yang tartil dan
merdu ya, biar ibu shalatnya bisa lebih khusyuk” tambahi ibu. Begitulah ibu,
karena beliau selalu senang mendengar aku mengaji al qur’an dengan tartil dan
merdu”
Setelah aku dan ibu menjalankan shalat
shubuh berjama’ah dengan khidmat, seperti biasa aku dan ibu salang deres al
qur’an. Katika ibu membaca aku mendengarkan dan membetulkan bacaan ketika ada
yang salah. Begitu juga ibu mendengarkan ketika aku membaca. Ibu sendiri karena
sudah usia lanjut, beliau membaca harus dengan kaca matanya. Berbeda dengan
aku. Karenanya, ibu terkadang ada bacaan yang salah lihat, akupun langsung
membetulkannya.
Setelah selesai deres al qur’an bersama,
aku celetupkan pertanyaan tentang mimpiku tadi.
“ Bu… kalau mimpi itu benar bisa jadi
kenyataan nggak sih???” aku mulai bertanya dengan gaya bahasa akrabku kepada
ibu.
“ Man… mimpi itu tidak semua jadi
kenyataan, yang jelas mimpi itu Cuma bunga tidur, kalau mimpi baik dan benar
berarti datang sebagai anugrah dari Allah SWT. Kalau mimpi buruk itu berarti
datang dari Syaitan. Ilman sebelum tidur baca dulu tidak? “ jawab ibu dengan
penjelasannya.
“ Ilman baca do’a Bu… masa sudah lama ngaji
di pondok lupa baca do’a sebelum tidur” ujarku.
“ ya memangnya Ilman mimpi apa?” tanya ibu
kembali.
“hhmm.gimana ya? Sebetulnya ini ada hubungannya dengan perasaan Ilman Bu”
jawabanku simpel.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang perasaanku
kepada Ibu, dari mulai aku SD kelas 2, kemudian tahu dengan yang namanya Nayla,
lalu akupun ikut ngaji di Pondok hanya agar bisa melihat Nayla. Aku juga
ceritakan karakteristik Nayla, segalanya. Sampai pada mimpiku tadi malam.
Kemudian Ibu menyimpulkan.
“ Ya Sudah… Ibu sih mendukung saja, tapi
Ilmankan masih kelas 3 SMP, baru saja UAN, pengumuman kelulusan juga belum.
Masih lama Man memikirkan hal yang seperti itu. Nah… Alangkah
baiknya, Ilman sekarang jadikan perasaan itu sebagi motivator yang mendorong
Ilman untuk terus jadi yang terbaik, baik untuk keluarga, agama, dan bangsa. Nayla
juga akan senang seandainya tahu hal itu. Sekarang yang Ilman harus pikirkan,
ingin kemana melanjutkan sekolah setelah SMP?” ibuku memberikan pencerahan
diakhiri dengan pertanyaan. Akupun seketika mengiyakan ibu. Dan terpintas
kemana aku akan melanjutkan sekolah.
“hhhmm… iya ya bu…” Sambil aku memanggut
kepala dan berpikir, teringat bayangan Nayla ketika bertemu kemarin malam.
“ Bu, bagaimana kalau Ilman ingin mondok
ke Jawa Tengah? Ilman ingin memperdalam Ilmu agama sambil sekolah disana?”
Inisiatif ini, aku terinspirasi dari Nayla karena Dia akan melanjutkan ke Jawa
Tengah. Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa dan dimana pondok pesantren
di Jawa Tengah itu.
******
Santri,
Asatidz, dan Kyai, nama-nama itu sudah terbiasa terdengar di telingaku.
Kehidupan yang awam kini berubah dengan nuansa islami. Keseharian yang dulupun
berubah dengan banyak kegiatan mengaji kepada kyai dan asatidz. Suara adzanpun
tak lepas dari kupingku berkumandang setiap lima waktu. Tanda akupun harus
mendatangi masjid, untuk shalat berjama’ah sebagai kewajiban santri pesantren. Pesantren
yang terletak di Jawa Tengah itu bernuansakan kesejukan. Lokasi yang dekat dengan
Gunung Slamet membawa kedinginan setiap malam sampai shubuh tiba.
Waktu dua puluh empat jam tiap harinya dihabiskan dengan kegiatan
dilingkup pesantren. sekolah keagamaan yang masyhur dengan MAK (Madrasah Aliyah
Keagamaan) mengisi acara pagi sampai soreku, ditambah pengajian tambahan dari
setelah asyar hingga larut malam. Ku rasakan semuanya begitu jauh berbeda
dengan apa yang pernah ku jalani sebelumnya ketika di rumah. Namun, semua itu
berjalan dengan senyuman. Karena di Pesantren itulah, aku dipertemukan dengan
sosok penyejuk hatiku, Nayla Muna Awwalina. Akhirnya, aku bisa bersama Nayla
dalam satu pondok pesantren. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya saja,
kami tidak bisa bertemu dan bertatap muka layaknya pergaulan bebas di rumah,
kami terikat oleh pesantren, penjara suci yang dikelilingi pagar yang berduri
peraturan. Siapa orangnya berani menerobos pagar duri itu, dia akan terkena
akibatnya. Duri itu akan melukai dirinya tanpa pandang bulu siapa orangnya.
Tata tertib pesantren membuatku hanya bisa menyaksikan Nayla dari arah yang
berjauhan, karena dilarang bagi kaum ajnabi berdekatan dengan bukan
mahromnya.
Beberapa tahun lamanya di pesantren, semua benak perasaanku aku tanam
dalam hatiku, tak berani aku berbuat
yang bisa berakibat fatal bagi masa depanku. Tapi aku hanya ingat pesan ibuku,
“jadikan perasaan cinta kepada seseorang itu sebagi motivator yang mendorong
untuk terus jadi yang terbaik”. Dari situlah, aku bertekad, walaupun perasaanku
kepada Nayla ini tersimpan dalam bathinku, aku akan buktikan, aku harus jadi
yang terbaik. Setidaknya dengan demikian Nayla akan merasa kagum padaku. Dengan
modal kemampuan pas-pasan, hanya lulusan SMP, akupun bejuang mati-matian agar
dapatkan apa yang aku inginkan. Porsi belajarku aku tambahkan full sampai larut
malam. Setiap setelah pelajaran aku rutinkan muroja’ah. Materi agama dan
umum aku kuasai semua. Semua jerih payah aku kerahkan, dengan niat aku ingin
bisa jadi yang terbaik, orang tuaku kan senang. Dan yang utama Naylapun akan
mengetahui siapa aku.
*****
Setelah lima semester kulalui, namaku selalu terpampang di barisan
rangking kesatu, kedua atau ketiga. Karena sulitnya pesaingan di kelas, aku
tidak bisa konsisten di peringkat kesatu, tapi aku bersyukur karena rangking satuku tetap mendominasi.
Setiap akhir semester pengumuman peringkat kelas selalu diumumkan dan
dipampangkan. Akupun yakin Nayla pasti melihat hasil dari jerih payahku.
Suatu pagi, bertepatan dengan setelah pengumuman semester pertama kelas
3, ketika berangkat sekolah, aku tak sengaja bertemu papasan dengan
Nayla di tangga lantai dua sebelum masuk ke kelas. Tak ku sangka, Nayla
tersenyum sambil mengucapkan beberapa patah kata,
“Selamat ya Kang Ilman, atas prestasi yang
diraih selama di MAK….!!!” Butiran-butiran mutiara itu berjatuhan dari lisan
Nayla membuatku terlena kepayang.
Dengan senyum pula akupun menjawab,
”terima kasih neng, mungkin itu juga berkat
do’a dan dukungan neng dari belakang, ”…. aku balas dengan sedikit kata-kata so-PD,
yang aku yakin itu ada benarnya.
“Nayla ke kelas duluan kang… tidak enak
kalau kelihatan orang lain”, ujar Nayla dengan mata malu.
“ Iya Neng, sekali lagi makasih”, saut aku
membalas sebelum Nayla pergi.
“ Iya Kang”… Ia pergi dengan agak dicepat-cepatkan
jalanya sambil tersenyum-senyum.
Setelah
semester satu kelas 3 berakhir, tinggal tancap gas terakhir untuk menuntaskan
jenjang sekolah di MAK. Ujian Nasional SLTA diambang mata sekitar tiga bulan
kedepan. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa aku terlena dengan hasil baik prestasiku
sebelumnya. Semua harus aku selesaikan dengan baik, dan di akhir akupun harus
bisa khusnul khotimah, baik di
sekolah atau juga di pesantren. Apalagi aku merasa iri kepada kakak kelas yang
dahulu telah lulus, lalu bisa melanjutkan ke Universitas Negeri bahkan ke
Universitas di Timur Tengah. Dari situ, aku juga berharap mudah-mudahan UAN
nanti bisa berhasil dan bisa mengantarkanku ke Universitas di Timur Tengah.
Walau belum terbayang dari dahulu untuk kuliah di Timur Tengah, tapi setelah
aku mendapat banyak pelajaran dan kajian agama, aku mulai mengerti. Ilmu agama
berasal dari Negri-negri Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab, sudah pasti
ketika aku belajar disana berarti aku seolah meminum air dari sumber mata
airnya.
******
Beberapa bulan kemudian,
Aku
dinyatakan lulus UAN dengan predikat Amat Baik. Disamping itu pula, aku
mendapat pengumuman kelulusan beasiswa timur tengah. Sesuai dengan target, apa
yang aku rencanakan berhasil. Kedua pengumuman itu aku terima dengan rasa
bahagia, bangga dan puas. Karena jerih payahku selama di pesantren terbalaskan
dengan prestasi baik. Kedua orang tuakupun takjub. Tidak percaya aku bisa
seperti itu, padahal aku lulusan SMP, tapi bisa bersaing dengan teman-teman
lain yang latar belakang keagamaannya lebih baik. Aku tersenyum saja,,, karena
dibalik itu semua, aku termotivasi oleh sosok Nayla yang senantiasa menjadi
penyemangat hidupku, gelora wajahnya selalu terpancar dalam bayanganku layaknya
tetesan embun yang membasahi dedaunan di setiap pagi. Akulah si dedaunan yang
beruntung itu, karena setiap aku ingat kepadanya, aku bangkit untuk berusaha
menjadi yang terbaik walaupun banyak yang lebih baik dariku. Setidaknya, aku
bisa dilihat baik di mata Nayla. Entah tetesan embun cinta apa yang telah
merasuki tubuh ini, sehingga aku selalu merasa sejuk ketika ia hadir dalam
bayanganku.
*****
Suatu
ketika akhirnya aku sadar. Aku telah salah dalam melangkah. Semua yang aku
lakukan untuk agama aku lakukan dengan niatan yang salah. Bermula dari aku
pesantren kalong di kampung hingga kini aku berhasil mencapai yang aku citakan. Semuanya
karena Nayla, seorang perempuan biasa, yang hanya diberi kelebihan oleh Allah
SWT hingga bisa menghipnotis hatiku sehingga terpedaya. Aku berjuang pesantren
malam hanya untuk melihat Nayla. Aku tekadkan pesantren di Jawa Tengah hanya
untuk bisa hidup lebih dekat dengan Nayla. Aku berusaha meraih prestasi terbaik
hanya agar mendapat perhatian Nayla. Semua itu salah… aku tidak niatkan semua
itu untuk kebaikan semata-mata karena Allah. Tapi malah karena seorang
perempuan.
Dalam
shalat istikharahku, Aku merasa bersalah Allah SWT, menggantikan kedudukan-Nya
dalam niat baikku. Setelah aku bertafakkur,
rasanya hati ini menuntunku tuk coba melupakan Nayla, aku tidak ingin selamanya
berada dalam jalan yang salah. Karena semata-mata untuk Nayla. Akhirnya, aku bulatkan
membuka lembaran hidup baru kehidupan baru, dengan tidak menggantungkan diri
pada Nayla, tapi hanya pada Allah SWT semata. Bersama alamku yang baru, di
negri yang baru, tempat cita-citaku tercapai. Negri Timur Tengah. Yaman.
****
