Follow us on FaceBook

Sunday, 3 March 2013

Do'a Penting untuk Ujian Beserta Petunjuk untuk Para Pelajar


بسم الله الرحمن الرحيم
دُعَاءٌ مُهِمٌّ لِْلاِمْتِحَانِ مَعَ إِرْشَادَاتٍ تَهُمُّ الطَّالِبَ

Do'a Penting untuk Ujian
Beserta Petunjuk untuk Para Pelajar
Penyusun : Sayyid Muhammad Alawy Alydrus (Sa'ad)

Beberapa niat untuk belajar mengajar dan ketika hendak memasuki ujian
                Tidak diragukan lagi bahwasanya niat memiliki peran besar dalam setiap perbuatan. Karenanya, tidak akan menjadi baik suatu perbuatan melainkan ketika berniat yang baik sebelumnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam hadits nabi Muhammad SAW :
إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى
 " Sesungguhnya segala perbuatan tergantung niat, dan setiap orang berdasarkan apa yang diniatinya".
                Apabila seseorang berniat sebelum beramal, lalu memperbagus niatnya, jujur, dan ikhlas dalam niatnya, maka tentu amal perbuatannya akan berhasil karena izin Allah Ta'ala dan Allah akan memberikan taufik baginya menuju kebaikan dan keta'atan yang dikehendaki-Nya.
                Disini, Kita akan menyebutkan sebagian kecil dari beberapa niat yang telah dilakukan ulama-ulama besar, dan kita akan meninggalkan uapaya tambahan untuk para pelajar sesuai apa yang dipandang cocok dan pantas menurut syari'at dan agama.

Niat Imam Al Haddad dalam belajar dan mengajar.
نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ, وَالنَّفْعَ وَالْاِنْتِفَاعَ , وَالْمُذَاكَرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ, وَالْإِفَادَةَ وَالْاِسْتِفَادَةَ , وَالْحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِr  وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى وَالدِّلَالَةَ عَلَى الْخَيْرِ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .
Artinya : " Saya berniat untuk belajar dan mengajar, mengambil dan memberikan manfa'at, mengingat dan mengingatkan, memberi dan menerima faidah, menganjurkan atas kitab Allah SWT. dan sunnah Rasulullah SAW, berdo'a untuk petunjuk, menuntun kepada kebaikan karena mengharap kuasa Allah SWT,Rido-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, ganjaran-Nya Yang Maha Suci dan Maha Luhur".
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ , اَللَّهُمَّ أَلْهِمْنَا عِلْمًا نَفْقَهُ بِهِ أَوَ امِرَكَ وَنَوَاهِيْكَ وَارْزُقْنَا فَهْمًا نَعْرِفُ بِهِ كَيْفَ نُنَاجِيْكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah rahmat ta'dzim kepada baginda kami Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah ilhamkanlah kepada kami ilmu untuk memahami segala perintah dan larangan-Mu, dan berilah kami rizki pemahaman untuk mengerti bagaimana bermunajat kepadamu wahai Dzat Yang Paling Maha Pengasih"
اَللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَّا بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنَا بِالتَّقْوَي وَجَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .
Artinya : " Ya Allah cukupkanlah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan cita-cita, muliakanlah kami dengan taqwa, perbaguslah kami dengan kesehatan Wahai Dzat Yang Paling Maha Pengasih. Dan semoga Allah menambahkan rahmat ta'dzim dan kesejahteraan kepada baginda kami Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya"
Dan juga berniat dengan menjawab ujian untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الصَّلاَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ السَّلَام ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الْبَرَكَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنَ الرَّحْمَة ِشيَئْ ٌ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي تَحْتَ أَنْظَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Artinya : " Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu shalawatpun"
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu kesejahteraanpun" 
" Ya Allah tambahkanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu keberkahanpun" 
" Ya Allah sayangilah umat baginda kami Muhammad hingga tak tersisa suatu rahmatpun"
" Ya Allah, Jadikanlah kami berada dibawah naungan baginda kami, Muhammad SAW. 

Kemudian membaca Al Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW. dan untuk guru, karena itu bisa menjadikan berhasil berkat izin Allah SWT. Ini dengan syarat harus bersunguh-sungguh dan berusaha serta melakukan sebab-sebab (untuk untuk berhasil).

Faidah untuk Futuh ( Memperoleh pintu terbuka)
                Imam Al Ghazali mengatakan : " Beberapa sebab cepatnya menghafal ialah:
1.       Konsisten terhadap keta'atan
2.       Meninggalkan kemaksiatan
3.       Menggunakan siwak (gosok gigi)
4.       Meninggalkan tidur
5.       Sholat malam
6.       Membaca Al Qur'an dengan melihat
7.       Meminum madu
8.       Memakan kindir dengan gula (susu badui)
9.       Memakan dua puluh satu anggur kering (kismis) warna merah dengan air ludah.
Ja'far Shodiq RA. Menuturkan : " Barang siapa menuliskan [1] سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ اْلمَلَائِكَةِ وَالرًّوْحِ  pada roti [2] setelah sholat jum'at dan memakannya, maka Allah SWT. akan membukakan baginya pintu futuh dan menyelamatkannya dari musibah. Dan barang siapa sebelum shalat jum'at membaca يَا اللهُ يَا بَصِيْرُ [3]  100x, maka Allah SWT. akan membukakan mata hatinya dan menunjukannya kepada ucapan dan perbautan yang baik".
Al Hasan RA. Mengatakan : " Barang siapa konsisten dalam mengucapkan
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ الْعَارِفِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ حَسَنَاتِ كُلِّ عَارِفٍ وَغَارِفٍ
Artinya : " Semoga Allah memberikan rahmat ta'dzim kepada baginda kami Muhammad SAW, sebagai kunci orang bisa mengerti. (begitu juga) kepada keluarga dan para sahabatnya sebanyak kebaikan setiap orang yang mengerti dan menguasai".
Maka akan diberikan rizki kemudahan, dibukakan mata hatinya dan diperbanyak berkumpul dengan Dzat yang bersinar".
Sekian berkat puji syukur Allah SWT.
Wallau a'lam.
Penerjemah: Hamba yang lemah, Abdul Rahman Malik
Tarim, 1 Maret 2013






[1] Maha Suci Dzat Pemilik Malaikat dan Ruh
[2] Menuliskanya disini bisa dengan telunjuk tangan kanan
[3] Ya Allah Wahai Dzat Yang Maha Melihat

Tuesday, 19 February 2013

Senyum di Senja Saba'


'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyah melafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
'Audzubillahi minas syaithoonir rajiim…
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alif Laam Miim…. Dzalikal Kitabu laa raiba fiih….
Derap lisan Fawwaz yang lanyahmelafalkan ayat demi ayat, terletup satu persatu kalimat suci keluar dari gerak gerik sepasang bibir keringnyaakibat sengatan panasnya musim, kedua matanyapun turut memejam-kedipkan tatkala meresapi dan mengingat-ingat bacaan yang telah dihafal, sembariduduk sila menghadap seorang ustadz yang kian sabar dan ikhlas menyimak dan terkadang membetulkan bacaan dari hafalan para muridnya. Sore itu, Fawwaz termasuk satu dari beberapa murid baru yang ikut setoran qur'an, dari lagatnya ia menunjukan rasa grogi karena hari pertamanya berhadapan langsung dengan ustadz tahfidz al qur'an.
Fawwaz termasuk satu dari ratusan orang yang beruntung bisa menginjakan kaki di Negeri yang telah mencetak banyak ulama dari berbagai penjuru dunia. Yaman, Negeri yang sederhana namun luar biasa. Dibalik ketradisionalan negeri ini, Fawwaz merasakan begitu istimewanya negeri ini yang orang mengatakannya sebagai Negeri Seribu Wali. Walau memang tidak bisa dilihat dengan kaca mata luar, namun aura seakan terasa meresap ke dalam batinFawwaz.
Setelahtinggal di kota Tarim sekitar dua bulanan, semangatnya seketika menyala bak kobaran api yang baru dinyalakan, Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu selama pendidikannya di Yaman. Ditengah padatnya kesibukan kuliah dari pagi hingga siang, dan terkadang dilanjut sore hingga malam, Fawwaz tidak menghiraukan akan hal itu. Ia sudah siap fisik dan mental tuk bergelut dengan berbagai angin Negeri Saba yang setiap saat mengajaknya berlari atau tidak ia akan menghantamnya dan membinasakannya. Semuanya ia jalani dengan prinsip "Di tanah inilah ia harus menggali sedalam-dalamnya ilmu dan menjelajahi seluas-luasnya sahara wawasan keagaman". jiwa spirit dan optimismenya seolah telah merontokan kepingan-keping daun kemalasannya. Sehingga setiap detik waktunyapun tertata dan terjadwal dengan sebaik-baiknya.
" Shodaqollahul 'adziim…. ", Fawwazpun mengakhiri setoran beberapa ayat hafalannyasetelahsekitar sepuluh menit.
" Ahsanta…. Ya ibni…", Sang ustadz mengagumi bacaantartil dan lancarnya Fawwaz.
" Inta jadid, shoh??…. Ismak man?", lanjut tanya sang ustadz yang murid-murid lain mengenalnya dengan sebutan Ust. Mahfudz Bafadhol, salah satu ustadz pengampu tahfidz di Masjid As Seggaf, satu dari ratusan masjid antik dan sakral yang terletak di sudut kota Tarim.
" Na'am Ustadz… Ana Fawwaz … Fawwaz Ulul Azmi", spontan jawab Fawwaz dengan nada girang dan ekspresi senyum.
" qira'atak tamam, wat taqdir inta mumtaz", Ustad mahfudz memberi nilai istimewa.
Gerimis kebahagiaan tak terbendung membasahi benak Fawwaz, di senja awal setorannyayang sebelumnya belum pernah ia alami, hasil mumtaznya sungguh membuatnya mengangkasa bahagia, tatkala ia dahulu hanya menghafal dan menghafal saja,tanpa menyetorkan hafalannya ke siapapun. Kini ia mengawali tahfidznya dengan langkah terbaik.
            Salah satu masjid sakral dan monumental ini menjadi saksi Fawwaz, kemasyhurannya  sebagai tempat mencetuskan generasi-genasi penghafal qur'an menjadi hal lumrah di  mata masyarakat kota Tarim dan para pelajarnya. Tekad Fawwazpun seolah menjadi bulat untuk mengentaskan cita-citanya menghafal qur'an hingga tamat di masjid yang akrab ditelinga dengan nama As Seggaf ini.                                      ***
Mushaf kecil kesayangannya Ia cium hangat mesra dan dimasukan ke tas sampingnya sambil melangkah menuju kendaraan antar jemput setianya. Ya, Sepeda ontel yang baru ia beli selama satu bulan, selalu menemani kemana Fawwaz berkelana.Goesan sepedanya dengan gigih ia kayuhditengah terik panas kota Tarim yang walau sore tepat terasa panas. Akhir musim panas ini suhu mencapai 30 derajat celsius, lumayan panas bagi kulit Indonesia yang kerap terbiasa di dalam rumah.Namun Fawwaz bukan orang rumahan, lamanya tinggal di perantauan dahulu membuatnya kebal akan segala macam sengatan panas.
Putaran dua roda sepedanya harus segera mengantarkan Fawwaz duduk kembali di kursi kuliah, muhadhoroh atau jam kuliah malam memaksa harus tetap ia lahap manis atau pahit.Jalannya putaran rodapun selaras dengan putaran sang mentari yang kian surut menuju sarangnya. Mega senja mulai pancarkan sinar kuning bukti kebesaran ilahi, sebuah hukum alam yang berkat kuasa tuhan ibarat gerakan sepeda dikuasai si penunggangnya. sepeda ontelnyapun patuh mengikuti komando Fawwaz tanpa mengeluh hingga sampailah ia di depan auditorium kuliahnya beberapa menit menjelang terbenamnya matahari, waktu maghribpun segeratiba.
Setelah shalat maghrib, tersisa waktu seperempat jam. Fawwaz pergunakan untuk muroja'ah kitab yang akan dikajinya, Ushul Fiqih. Pelajaran yang dianggap inti dan rumit bagi kalangan mahasiswa fakultas syari'ah, untungnya Fawwaz termasuk cakap dalam bidang ini. Sejenak Fawwaz membuka sampul kitab dan mengirimkan fatihah teruntuk Rasulullah saw dan pengarang kitabdemi kemudahan dan dibukakan pintu ilmu, keberkahan dan manfaat. Fawwaz mulai menyisiri Lembaran demi lembaran setelah kedua matanya difokuskan pada setiap kalimat yang ia fahami. Ditengah kelelahan pikirannya. Beberapa menit kemudian Fawwaz seketika jatuh dalam kantuk yang tidak ia sadari. Akhirnya gelap mata menyelimuti fawwaz yang tertidur.
Kini Fawwaz berada dalam dimensi dunia tidurnya. Anggota tubuhnya sudah diluar kendalinya. Tak ada yang tebayangkan dan tak ada yang terpikirkan. Ruhnya sementara mengawang. Bak gelap gulita tak ada penerang. Namun, tiba-tiba tampak sesosok dari kejauhan. Wujud putihnya menembus bayangan hitam menuju mendekati Fawwaz. Sontak Fawwaz terkejut ketika sosok putih itu jelas berada didepannya. Wujud yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Begitu cerah nan sangatlah indah. Sosok wanita berkerudung putih menyambut Fawwaz dengan senyuman. Ucapan salam darinya begitu hangat menyerap dalam sanubari Fawwaz. Kelopak mata Fawwaz seperti tidak bisa digerakan, kedua bola matanya tak mengedip sedikitpun. Seketika Fawwaz dikagetkan dengan suara menghampirinya
"Assalamu 'alaikum… Wahai Kanda Fawwaz, Izinkan dinda mendengarkan bacaan Al Qur'an dari lisan kanda sembari mengimami dinda shalat…!!!" lirih sang bidadari berkerudung putih besertakan jubbah nan serba putih bersuara.
" wa'alaikum salam… kkkeennaapppaaa memangnya?" sahut Fawwaz yang keheranan tak mengerti maksudnya.
" Aku adalah bidadari yang akan menjadi belahan jiwamu, dan Kanda kelak kan menjadi pemimpin dan imam dalam bahtera kita ". jawabnya seketika mengkagetkan Fawwaz.
Akhirnya Fawwaz mengimami sang bidadari berkerudung putih itu dalam shalat dua rakaatnya. Rasa bahagia yang melangit membawa Fawwaz tenggelam keasyikan melafalkan ayat demi ayat surat al baqarah yang tak henti-henti ia baca. Derap lantunan kalimat Al qur'an mengantarkan jiwa dan raganya menyelami dalam-dalam arti dan maknanya. Kekhusyuan membacakan surat Al Baqarah yang telah Fawwaz hafalkan tak terasa menyulapnya hingga selesai dalam dua rakaat.
Tatkala setelah kepala Fawwaz menoleh ke kanan dan kiri mengakhiri shalat disertai iringan salam penutup dua raka'at, Fawwaz memandangi sang bidadari yang tersenyum duduk disampingnya. Sembari mengulurkan tangannya tuk menjamah tangan Fawwaz. Ketika tangan Fawwaz terpegang erat hendak dicium bibir manis sang bidadari, Fawwaz spontan dikagetkan dengan gebrakan tangan dari luar tidurnya.
" Hey, Fawwaz … Bangunlah kau..!!!", celoteh Maher dengan suara lantang dari mulut khas bataknya. " Ustadz sudah tiba kawan…". Maher melanjutkan. Sebagai teman sekelasnya di Fakultas Syar'iah, Ia tak segan berbuat terhadap Fawwaz, selama dalam kebaikan. Terutama membangunkan Fawwaz yang tertidur pulas di kelas.
Dengan nada kecewa Fawwaz menimbalinya, " Her, kamu ganggu mimpi indahku saja".
"Hah, Sore-sore kaya gini kau mimpi? Macam mana pula kau?, Lihat mentari saja jam segini baru siapkan selimut untuk tidur… hahaha?.
Fawwaz hanya tersenyum menyadari terperajatnnya dari dunia mimpi. Sembari melamunkan sang bidadari yang masih tersisa dalam dimensi bayangannya, terlintas sosok berjubah hitam besar di depannya. Jantungnya sektika dikagetkan oleh wujud ustadz yang siap mengajar Ushul Fiqih. Sungguh Senja di Negeri Saba' kali ini telah membuatnya tersenyum bahagia bercampur heran. Mengapa ini bisa terjadi???
Inilah Ceritaku

Saturday, 16 February 2013

99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Juli 2011
Tebal : 412 halaman

Hubungan dunia Eropa dan Islam mulai memanas sejak rusuhnya berbagai kejadian dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sebut saja, pengeboman Madrid dan London, kemudian serangan teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun nabi Muhammad, semuanya menyebabkan ketegangan hubungan antara Islam dan Eropa. Islam menjadi sesuatu yang menakutkan. Sehingga peradaban Islam di daratan Eropa menjadi sesuatu yang kian lama kian disudutkan.

Yang paling menonjol adalah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Alquran, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Akibatnya, Islam terstigma dengan agama yang berkonotasi negatif dan menyebabkan kegincuan antara Islam dan dunia Eropa.

Ikhtiar untuk menghilangkan stigma demikian datang dari catatan perjalanan atas pencarian cahaya Islam di Eropa. Hanum Salsabiela Rais-Rangga Mahendra menemukan secercah cahaya perdaban Islam di Eropa yang sejatinya sejak dulu terbentang bertautan membentuk peradaban dan ilmu pengetahuan. Berbekal pengalaman selaman tiga tahun tinggal di Eropa, Hanum menemukan hal baru yang selama ini belum tersentuh oleh banyak kalangan.

Eropa dan Islam ternyata merupakan dua sejoli yang dulu pernah menjadi pasangan serasi. Eropa sesungguhnya menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Kekuatan Islam di Eropa pernah menjadi inovator dan menjaga peradaban sebagaimana masa-masa Islam berkembang di Madinah dan Mekkah. Islam pernah menebar cahaya kedamaian dan persaudaraan di samudera Eropa.

Penelusuran Hanum menemukan bahwa Islam masuk dan menyinari Spanyol selama 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama dari pada Indonesia. Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyayanginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Yang menarik, ternyata yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, Socrates, yang pada akhirnya mengantarkan Eropa pada lanskap renaisance kemajuan, tak lain adalah peradaban Islam. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol yang pernah menjadi pusat perdaban pengetahuan dunia, juga mampu membuat beberapa negara seperti Paris dan London beriri hati.

Dengan daya pikat bahasa yang lugas nan tandas, Hanum mampu menghadirkan detak gambaran  bagaimana jatuh bangun peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Buku ini lebih dari novel biasa, bukan pula buku traveling yang memandu perjalanan, lebih dari itu novel ini menghanyutkan akan unggahan pemahaman dan perilaku beragama kita selama ini. Misalnya, radikalisme agama terlanjur teridentifikasi erat dengan dunia Islam.

Karena itu, Hanum mencoba memosisikan kembali hubungan harmonis Islam dan Eropa dalam pertautan wajah kebersamaan untuk menghadirkan gemuruh cahaya peradaban Islam seperti waktu dulu. Novel ini mampu memberikan pemahaman bahwa Islam “nyata” menjadi kekuatan alternatif yang dominan bagi pembangunan bangsa dan kemanusiaan. Hanum mampu merakit rentetan mozaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu dengan anggitan penilaian obyektif.

Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang

Resensi Novel 5 cm


Info : http://www.21cineplex.com
Author : Rizal Mantovani
Star : Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor 'Saykoji', Denny Sumargo, Raline Shah
Genre : Drama
Producer : SUNIL SORAYA
Production : SORAYA RAM
Director : Rizal Mantovani
Sinopsis : 
Film ini diangkat dari novel berjudul sama 5 cm. 17 Agustus di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya.
Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sepuluh tahun lamanya. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Zafran yang puitis, sedikit "gila", apa adanya, idealis, agak narsis, dan memiliki bakat untuk menjadi orang terkenal. Riani yang merupakan gadis cerdas, cerewet, dan mempunyai ambisi untuk cita-citanya. Genta, pria yang tidak senang mementingkan dirinya sendiri sehingga memiliki jiwa pemimpin dan mampu membuat orang lain nyaman di sekitarnya. Arial, pria termacho diantara pemain lainnya, hobi berolah raga, paling taat aturan, namun paling canggung kenalan dengan wanita. Ian, dia memiliki badan yang paling subur dibandingkan teman-temannya, penggemar indomie dan bola, paling telat wisuda. Ada pula Dinda yang merupakan adik dari Arial, seorang mahasiswi cantik yang sebenarnya dicintai Zafran. Suatu hari mereka berlima merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.

Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlima pun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia. Petualangan dalam kisah ini, bukanlah petualangan yang menantang adrenalin, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak gunung. Tapi petualangan ini, juga perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan yang erat, dan hati yang mencintai negeri ini.

Segala rintangan dapat mereka hadapi, karena mereka memiliki impian. Impian yang ditaruh 5cm dari depan kening. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/5_cm)

Thursday, 3 January 2013

Bismillahirrahmanirrahim, Shallallahu 'alan Nabi...

Senandung irama shalawat bertaburkan aroma harmonis kebersamaan,
Menyatu padukan semarak kebahagiaan di jiwa,

Setelah kucuran keringat berminggu-minggu harus tertumpahkan
Segala energi dan daya ingat dikerahkan,
Kaki di kepala dan kepala di kaki demi muroj'ah ujian,
Sungguh itulah segala upaya dan perjuangan,

Semoga dengan lantunan Maulid Simthud Duror yang bersama kita bacakan,
Mengantarkan kita menuju pintu gerbang keberhasilan....
Amiin...
 di Kota Tarim,
Setelah menghadiri acara Maulid di Sakan Qohum. 11.00 KSA.

 

Blogger news

Blogroll